Matahari sore yang bersinar cerah menambahkan suasana yang hangat dan tenang di Kota Tua, Jakarta.
Arindy dan Jericho yang sedang menyewa sebuah sepeda, Jericho yang menggoes dan Arin yang dibonceng.
“Capek ya?” Tanya Arin yang masih duduk menyamping di jok belakang sepeda.
“Nggak dong” Jawab Jeri.
“Udaha dulu aja ya? Duduk dulu”
Jericho memberhentikan sepedanya, mereka kemudian duduk sembarang di bawah karena tempatnya yang dilapisi dengan semen sehingga tidak kotor untuk diduduki.
“Mau minum?” Tanya Jericho.
“Boleh”
“Bentar ya” Ujar Jeri kemudian ia bangkit untuk membeli minuman.
Tak sampai lima menit, Jericho kembali membawa dua botol air mineral. Mereka kemudian meneguk minuman tersebut.
“Rin” Ujar Jericho.
“Hm?” Arindy hanya bergumam, ia sedang menatap langit sore yang menampilkan senja yang sangat cantik.
“Senjanya cantik ya, kaya kamu” Ucap Jericho.
Arindy terkekeh, “Kalo kaya aku, artinya aku cuma sementara dong buat kamu”
“Emang senja sementara? Nggak kok, dia selalu ada tiap sore”
“Tapi ngga tiap sore langit nampilin senjanya yang indah” Ucap Arindy.
Jericho tersenyum, terlihat lesung pipinya yang sangat manis.
“Rin”
“Hm?” Hanya gumaman lagi yang Arindy jawab.
“Liat akunya dulu dong”
Arindy menengok ke arah Jericho, “Ganteng”
Jericho terkekeh, “Gantengnya siapa coba?”
“Gantengnya aku”
Jericho semakin mengembangkan senyumnya, ia merangkul pundak Arindy.
Tak hanya sekali, mereka sering megunjungi Kota Tua ini untuk menyewa sepeda dan bersepedaan bersama, kemudian memandang dan merasakan langit sore bersama.
Bisa dibilang Kota Tua ini adalah tempat favorite mereka berdua.
Langit sore di Kota Tua yang dihiasi senja menjadi saksi untuk kisah cinta mereka berdua.
“Aku besok mau ke Jerman,” Ucap Jericho tiba-tiba, “Mau ketemu mama, kangen” Sambungnya.
Arin terdiam masih memandangi langit, tidak mengeluarkan satu kata pun.
“Aku bilangnya dadakan banget ya rin?” Tanya Jericho.
“Kok kamu baru bilang sekarang?”
“Aku juga diajak om aku, dia baru ngajak kemarin.” Jawab Jeri.
“Sama Adam dong?” Tanya Arindy.
“Enggak, om aku bilang salah satu diantara aku sama Adam aja yang berangkat.”
“Aku udah obrolin sama Adam dan keputusannya aku yang berangkat.” Sambung Jeri.
“Berapa lama?” Tanya Arin.
“Lima hari, sayang. Aku langsung pulang.”
Arin menghembuskan nafasnya kemudian tersenyum, “Kamu kangen ya sama mama kamu?” Tanya Arindy.
“Iya”
“Aku titip salam ya buat mama kamu”
Jeri mengembangkan senyumnya, “Pasti aku sampein, salam dari calon mantu cantiknya”
Arindy terkekeh, “Kamu gak sedih kan?” Tanya Jericho.
“Enggak dong, aku malah seneng kamu mau ketemu mama kamu”
Jericho mengacak rambut Arin, “Makasih ya” Ujar Jeri dengan senyum manisnya.
Lagi-lagi Arindy hanya tersenyum menanggapi laki-lakinya itu.
“Jeri” Ujar Arin.
“Iya?”
“Kamu tau gak? Aku sayang sama kamu itu udah kaya aku sayang sama ayah aku,” Ujar Arin.
“Kalo aku lagi kangen sama ayah, pasti aku selalu inget gimana sayangnya ayah ke aku, gimana dulu ayah selalu ngelakuin yang terbaik buat aku” Lanjutnya.
“Aku mau kamu jadi laki-laki yang sama kaya ayah aku,”
“Yang bertanggung jawab, yang setia sama satu perempuan, kaya yang ayah lakuin ke bunda aku.” Ujarnya lagi.
“Kamu kangen ayah ya rin?” Tanya Jericho.
“Iya, kangen. Kangen banget”
“Pengen mengulang masa kecil lagi, pengen liat ayah lagi” Sambung Arin.
Jericho tersenyum manis, “Arindy, gak apa-apa kalo kamu kangen sama ayah kamu, wajar”
“Tapi ayah kamu udah tenang di sana, Tuhan lebih sayang ayah kamu Rin” Ujar Jericho.
Ya, ayah Arindy sudah pergi untuk selamanya sejak Arindy menduduki kelas dua SMP.
Merasa akan ada air mata yang keluar, Arin segera mengusap matanya.
“Jeri, pulang yu?”
“Mau makan dulu nggak?” Tanya Jericho
“Makan di rumah aku aja, aku masakin lagi, mau?”
“Mau dong” Ucap Jericho.
Arindy dan Jericho bangkit dan menuju tempat parkir untuk segera pulang.