;
Setelah Kia mengiyakan permintaan suaminya itu, Evan segera pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, terlihat istrinya yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv dengan serius.
Dengan jahil, Evan diam-diam menutup mata Kia dari belakang, sehingga membuat Kia terkejut. Namun, Kia sudah tahu pasti siapa yang sedang menjahilinya ini.
“Lepasin, aku lagi nonton,” ucap Kia.
“Ngga mau.”
“Aku mau lepasin tapi kamu jangan buka mata,” ujar Evan.
Kia menuruti permintaannya, Evan melepaskan tangannya dari mata Kia dan Kia tetap memejamkan matanya.
Evan melepaskan dasinya yang masih bertengger di kerah kemeja kerjanya itu, ia kemudian menutup mata Kia dengan dasinya.
“Eh, kok malah pake dasi?”
Setelah selesai mengikat dasinya di mata Kia, Evan segera mematikan tvnya yang masih menyala.
Evan duduk di samping Kia, menatap istri cantiknya dengan lengkungan senyum yang tak pernah pudar.
“Kamu mau ngapain sih?” tanya Kia yang perasaannya mulai tidak enak.
“Si adek tidur kan?”
Kia mengangguk.
Evan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya yang cantik itu. Kia bisa merasakan hembusan napas Evan, sehingga perempuan itu memundurkan kepalanya dan mendorong Evan.
“Kamu mau ngapain?”
“Ya, katanya cium?” jawab Evan.
Tanpa basa-basi, Evan meraih pinggang Kia dan menariknya agar tubuh istrinya itu semakin dekat dengannya.
Evan menangkup wajah Kia dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih berada di pinggang Kia.
Ia memejamkan matanya dan mulai menyatukan bibirnya dengan bibir milik wanitanya itu. Kia sedikit tersontak, ditambah lagi bibirnya itu merasakan ada sesuatu yang lunak terus mendorong untuk masuk ke dalam mulutnya.
Akhirnya Kia mulai menerima. Dengan berani, Kia melepaskan dasi yang menutupi matanya itu. Ia kemudian meraih tengkuk Evan.
Sore itu, dua insan yang saling bercumbu, ditambah lagi rintik hujan yang mulai turun, sehingga menambahkan sensasi yang semakin mendukung.