ㅡRumah Arindy
Seorang laki-laki berbadan tinggi memakai kaos hitam berdiri di belakang perempuan mungil yang sedang merebus soup. Ya, itu adalah Jericho dan Arindy.
Arin memalingkan badannya ke belakang menghadap Jericho sambil membawa satu sendok kuah soup, “Nih, cobain” Ujar Arin kepada Jericho.
Jericho menyicip kuah soup yang disuapkan oleh Arin. “Gimana?” Tanya Arin.
Jericho tersenyum manis memamerkan lesung pipinya. “Kaya biasanya,” Arin menaikkan kedua alis matanya, “Enak” Ucap Jericho.
Arin tersenyum. Masakan Arin tidak pernah mengecewakan Jericho. Apapun yang dimasak Arin untuk Jericho, pasti akan habis dilahap habis oleh Jericho.
“Dasar bulol” Ujar seorang gadis yang sedang mengambil kotak susu di kulkas. “Sama gue aja jarang lo masakin”
Itu adalah Keyla, adik Arin.
Jericho tertawa pelan, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik sang pacarnya.
Arin dan Jericho kemudian menyiapkan semua makanan di atas meja.
“Rin, mama kamu pulang jam berapa?” Tanya Jericho yang sudah duduk di kursi.
“Hari ini pulang malem, kayanya sekitar jam sebelas” Jawab Arin.
Arindy dan adiknya hampir setiap hari hanya berdua di rumahnya, karena mamanya memiliki sebuah butik sehingga hampir setiap hari kerja mengurus butik tersebut.
Jericho hanya mengangguk-ngangguk mendengar jawaban Arindy.
“Tau gak Rin?” Tanya Jericho lagi.
“Apa?”
“Aku sayang banget tau sama kamu”
Pipi Arindy seketika memerah, “Udah deh nanti aja abis makan gombalnya” Ujar Arin.
Jericho tertawa manis, memamerkan lesung pipinya.
“Hahaha, abis makan mau jalan gak? Yakin di rumah aja?” Tanya Jericho.
“Boleh deh”