Rumah Epan.

Mereka kini sudah sampai di rumah Evan. Evan langsung masuk ke dalam rumahnya yang diikuti oleh Kia.

“Mah, coba liat Epan bawa siapa,” ujar Evan sedikit berteriak karena mamahnya yang berada di dapur.

Tante Gina segera menghampiri mereka, Evan dan Kia langsung mencium punggung tangan tante Gina.

“Eh, si geulis. Epan, kamu yang bawa ke sini?” tanya Tante Gina dengan raut wajah yang sangat senang, seakan sangat menyambut kedatangan Kia.

“Iya, mah,” ujar Evan.

“Ih, tadi na mah si Fajar teh udah tante suruh bawa kamu main ke sini, eh si Fajarnya sibuk.”

Kia tersenyum, “Iya, tante. Tadi udah bilang kok kak Fajarnya, jadi Kia ke sini sama Epan,” jawab Kia ramah.

Tiba-tiba saja datanglah seorang anak laki-laki sekitar umur enam tahunan berlari ke arah Evan.

“Aa, mana lego punya adek?” tanya anak kecil itu.

Evan menyerahkan sebuah paperbag berisi pesanan adiknya itu.

“Kok legonya kaya gini? Jio minta yang bisa dibentuk jadi metro mini!” Protes Jio, adiknya Evan.

“Yang bentuk metro mini teh yang kaya kumaha ai kamu?” tanya Evan.

Jio merajuk, “ah, aa udah gede masa ngga tau lego metro mini!”

“Udah nanti dibeliin ku ayah, sana masuk kamar,” ujar tante Gina.

Kia terkekeh melihatnya, “Mirip Epan banget ya,” ujarnya.

“Iya, lebih mirip Epan daripada Fajar mah,” jawab tante Gina yang diiringi kekehannya.

“Tante mau ngajak Kia masak, ya?”

Tante Gina terkekeh, “iya, mau kan?”

Kia mengangguk, “mau dong.”

Evan tersenyum melihat interaksi Kia dengan mamahnya.

“Epan ke kamar dulu ya, mah,” pamit Evan.

“Eh, kamu juga ikut bantuin masak atuh.” Tante Gina menahan putranya.

“Tapi kan Epan ga bisa masak ....”

Kia tertawa, “makannya bantuin, sekalian belajar,” ujar Kia.

Evan pasrah, akhirnya ia menuruti permintaan Kia dan mamahnya untuk membantunya memasak.