Rumah pohon dan tujuh tahun yang lalu.
ㅡ
Sudah sekitar tiga jam Evan dan Kia menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Bandung. Sebelumnya, mereka mampir terlebih dahulu ke tempat saudara Evan. Setelah itu, mereka pergi menuju rumah pohon yang dahulu sering mereka kunjungi.
“Masih ada ya ternyata,” ujar Kia menatap rumah pohon yang terlihat sudah tua. Kemudian mereka segera naik ke atasnya.
Evan menidurkan tubuhnya, memejamkan matanya, dan merasakan suasana rumah pohon yang rindang ini.
“Masih sama ya,”
“Tempatnya ngga banyak berubah,” ujar Evan.
Kia ikut merasakan suasana yang terasa seperti kembali ke tujuh tahun yang lalu.
“Orangnya yang berubah,” ujar Kia tiba-tiba.
“Epan,”
“Maaf ya ....“
“Waktu itu aku janji tiap liburan bakal main ke Bandung, tapi selama tujuh tahun aku ngga pernah ke Bandung lagi.”
Evan tersenyum kecut ketika mendengar permintaan maaf dari Kia.
“Ayah sama bunda pisah, ayah keluar masuk rumah sakit, yang ngurusin ayah cuma aku sama om aku. Aku sampe lupa buat ke Bandung lagi ....”
Evan bangkit dari tidurnya, kemudian duduk tepat di hadapan Kia.
“Gue tau,”
Kia menatap Evan.
“Enam bulan setelah kepindahan lo, gue juga pindah ke Jakarta,” ujar Evan.
Kia mengernyitkan dahinya, “ke Jakarta?”
“Mamah menikah sama ayahnya Fajar, gue juga sekolah di Jakarta.”
“Gue selalu tau tentang lo, gue tau lo sekolah di mana, dan kabar lo gimana.”
“Itu semua gue tau dari temen-temen lo di sekolah. Gue selalu nanya tentang lo ke mereka diem-diem, terus bilang buat jangan ngasih tau ke lo.”
“Setiap pulang sekolah, gue selalu diem-diem nungguin lo di depan gerbang sekolah lo. Gue selalu ngikutin dari belakang, karena gue khawatir lo selalu pulang sendiri.”
Evan tersenyum, “lucu kalo inget itu.”
“Kamu ngga bercanda?” Kia tak percaya.
“Kamu kenapa ngga nyamperin aku? Kamu kenapa ngga jujur? Kenapa harus diem-diem?”
Lagi-lagi Evan tersenyum.
“Lo ngga akan pernah ngerti, Ki,” gumam Evan di dalam hatinya.
Evan mengangkat tangan kanannya, menunjukkan sebuah gelang tali yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Liat punya gue, punya lo masih ada?”
Kia tersenyum, kemudian ia juga menunjukkan gelang talinya yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Masih dong,” jawab Kia.
Evan meraih tangan kanan Kia yang sedang diangkat karena sedang menujukkan gelangnya. Laki-laki itu kemudian menggenggam tangan kecil milik perempuan manis itu.
“Maafin gue, ya?”
“Maaf udah pura-pura,”
“Maaf buat semua perkataan yang bikin lo sakit hati.”
Kia terdiam, kemudian ia segera melepaskan tangannya yang sedang digenggam oleh Evan. Kia membuang pandangannya dari tatapan Evan.
Namun beberapa detik selanjutnya, Kia kembali menatap Evan dan tersenyum. Ia kemudian mengangkat jari kelingkingnya.
Evan mengangkat alisnya, menandakan dirinya yang bingung dengan maksud Kia.
“Kita bisa jadi temen baik lagi, kan? Kaya dulu?” tanya Kia.
Evan menatap Kia dalam, sangat dalam. Tatapan yang entah sangat sulit diartikan. Entah bagaimana bisa, hatinya terasa begitu tertohok ketika mendengar pertanyaan yang baru saja Kia ucapkan.
Detik selanjutnya, Evan tersenyum. Ia kemudian menautkan jari kelingking miliknya pada jari kelingking milik Kia. Menandakan sebuah janji persahabatan yang dahulu juga pernah mereka ikat bersama.
Namun Entah, hati milik Evan terus menggerutu. Merasa tidak terima dengan apa yang baru saja Kia katakan.
“Teman, ya?”