Sebuah adegan yang disebut ‘rindu’
ㅡ
“Len, aku pulang ke kost dulu, nanti besok kita jalan” Ujar seorang laki-laki yang duduk di atas sofa ruang TV di dalam apartemen gadisnya itu.
“Gak” Ucap gadisnya singkat, yang ternyata duduk di samping laki-lakinya sembari melingkarkan tangannya pada perut milik laki-lakinya itu.
Siapa lagi jika kedua insan itu bukanlah Nathan dan Alena.
Sesuai janjinya, Nathan yang hari ini baru saja tiba dari bandara setelah ia mengunjungi Jakarta, ia segera pergi ke apartemen Alena.
Sudah hampir tiga jam lebih Nathan berada di apartemen gadisnya ini. Namun, Alena tidak mengizinkan ia untuk pulang ke kostnya.
“Nanti besok aku jemput kamu, kita jalan” Ujar Nathan yang lagi-lagi membujuk kekasihnya agar mengizinkan ia untuk pulang.
Tak ada jawaban dari Alena.
“Len, aku izin buat libur dari kampus udah sampe ngelebihin batas, sampe banyak banget tugas yang dosen kasih ke aku. Aku pulang dulu, ya? Banyak kerjaan yang harus aku kelarin” Ujar Nathan menjelaskan, agar Alena mengerti.
Namun namanya Alena, dengan manja malah membenamkan wajahnya ke perut laki-laki yang sedang ia peluk dengan sangat erat itu.
“Ya Tuhan” Ucap Nathan pasrah.
“Alena, aku harus kejar deadline, kamu mau aku dimarahin sama do-“
Cup.
Satu kecupan tepat Alena layangkan di bibir Nathan.
“Bawel” Ucap Alena.
Nathan hanya terdiam, namun sepertinya jantungnya mulai berdetak tidak karuan.
Alena bisa merasakan degupan jantung Nathan yang mulai berdebar kencang, karena pipinya tepat ia taruh di dada bidang milik Nathan.
Mengetahui hal itu, Alena tersenyum. Ia kemudian mengangkat wajahnya, melihat ke arah wajah Nathan.
Alena mulai menghampiri bibir Nathan, hendak mengecupnya kembali, namun Nathan dengan cepat menjauhkan wajahnya.
“Mau ngapain?” Tanya Nathan.
“Kiss” Ucap Alena dengan polosnya.
“Gak, ah” Ujar Nathan melepaskan tangan Alena yang masih melingkar di perutnya.
“Ihh” Ucap Alena dengan nada yang kecewa.
“Seriusan gak mau?” Tanya Alena.
Nathan menggeleng pelan, “Ya udah” Ujar Alena kecewa.
Nathan melihat ke arah wajah Alena, kemudian ia tersenyum.
“Apa?” Tanya Alena yang heran karena Nathan tiba-tiba tersenyum.
Nathan tak menjawab, ia segera mendekatkan wajah dan badannya kepada wanitanya. Nathan mengunci Alena dengan melangkahkan satu tangannya dan menaruhnya di sebelah kanan Alena, namun Nathan masih mempertahankan posisi duduknya.
Nathan mengecup pelan bibir Alena, membuat sang empu terlihat sedikit terkejut.
Nathan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Alena, ternyata wanitanya paham apa yang ingin laki-lakinya ini lakukan pada bibirnya.
Nathan meraih tengkuk Alena dan Alena yang mulai memejamkan matanya, membiarkan lidah kekasihnya itu masuk ke dalam mulutnya.
Mulai terdengar lenguhan dari Alena, karena lidah Nathan yang semakin bergerak liar.
Nathan melepaskan ciuman itu, membiarkan dirinya dan Alena mengambil napas. Mereka berdua pun terengah.
Mereka menatap satu sama lain, kemudian terbitlah senyuman manis milik Alena. Senyuman yang tak pernah bosan untuk Nathan lihat, senyuman yang selalu menjadi candu bagi Nathan, senyuman yang dulu selalu Nathan idam-idamkan berharap menjadi miliknya dan kini sudah seutuhnya menjadi milik Nathan.
Alena kembali memeluk Nathan dengan erat, mendusel-dusel di dada bidang kekasihnya itu seperti seekor kucing. Tangan Nathan tergerak meraih puncuk kepala Alena, kemudian ia mengelus pelan kepala gadisnya.
“Len, tau gak?” Tanya Nathan tiba-tiba.
“Apa?”
“Aku takut kalo sebentar lagi aku kebangun” Ujar Nathan.
Alena mengerutkan alisnya bingung, “Hah?”
“Aku takut kalo ternyata semua ini cuma mimpi”
Alena tidak merespon ucapan Nathan, ia bingung apa yang sedang dibicarakan kekasihnya ini.
“Aku gak pernah nyangka kalo kamu bisa jadi milik aku” Lanjut Nathan.
Kini, Alena mengerti apa yang dimaksud Nathan, ia kemudian menengok ke arah wajah Nathan. “Gak mimpi, aku emang punya kamu” Ujar Alena.
“Makasih ya, Nathan, udah mau nunggu aku dari saat itu” Ujar Alena lagi.
Nathan mengecup pucuk kepala Alena, kemudian ia tersenyum, senyum yang disertai rasa syukur karena ternyata Semesta mengizinkan dirinya untuk bisa meraih Alena. Memang benar, yang tepat tidak akan datang di awal.
“Oh iya, kamu waktu itu bilang lagi ada pikiran, kenapa? Kamu udah janji mau cerita” Ujar Alena yang menagih janji kekasihnya.
Nathan menghembuskan napasnya, “Mama sama papa lagi berantem terus, bikin mama banyak pikiran. Makannya mama minta aku pulang ke Jakarta sebentar buat nenangin pikirannya” Ujar Nathan menjelaskan.
Alena semakin menatap Nathan, “Terus keadaan mama kamu gimana?”
“Syukurnya gak apa-apa, gak sampe sakit”
Dalam pelukannya, Alena meraih punggung Nathan, ia kemudian mengusapnya pelan.
“Maafin aku” Ucap Alena.
“Buat?”
“Minta kamu buat balik terus ke Jogja”
Sedikit terukir senyuman pada wajah Nathan, “Gak apa-apa sayang,” Nathan perlahan kembali mengusap kepala wanitanya, “Lagian kan kamu gak tau alasan aku ke Jakarta, aku yakin kalo kamu tau pasti kamu gak bakal rewel kaya kemarin” Ujar Nathan.
“Mama juga gak kenapa-napa kok, ditambah efek kangen aja sama anaknya kali, malah kemarin mama nanyain kabar kamu. Maaf ya, harusnya aku bilang alasan aku pulang ke Jakarta” Ujar Nathan kembali menjelaskan.
Belum sempat Alena menjawab, tiba-tiba saja terdengar tanda suara pin pintu yang terverifikasi, sehingga pintu apartemen Alena terbuka dan masuklah sahabat Alena. Siapa lagi kalau bukan Indira.
Mengetahui Indira yang tiba-tiba datang, Alena dan Nathan dengan cepat melepaskan pelukannya. Mereka sangat terkejut.
Namun, sepertinya Indira sudah melihat apa yang sedang dilakukan sepasang kekasih ini.
“So-sorry” Ucap Indira yang kemudian hendak kembali keluar.
“Eh, gue udah mau balik kok” Ujar Nathan tiba-tiba yang membuat Indira menghentikan langkahnya.
Nathan kembali menatap Alena, “Aku pulang, ya” Ujar Nathan.
Alena menganggukkan kepalanya, kemudian Nathan memupuk pelan kepala Alena.
“Hati-hati” Ucap Alena.
“Gue pamit ya, Dir” Ucap Nathan yang tak lupa berpamitan dengan sahabat Alena.
Laki-laki itu kemudian segera melangkahkan kakinya pergi dari apartemen Alena. Jangan ditanya perihal koper atau tas yang ia bawa, karena dari bandara ia sudah memulangkan dahulu barang-barang bawaannya ke kostnya melalui Grab.
Indira menghembuskan napasnya, “Nasib-nasib, se-apart sama lo mergokin orang cuddle mulu” Ujar Indira.