”Selamat ulang tahun, Epan!”
ㅡ
Epan, sini!” Panggil seorang anak perempuan dari atas di sebuah rumah pohon.
Evan menegok ke atas, mengikuti arah dari sumber suara tersebut.
Evan tersenyum ketika mendapati temannya di atas sana, kemudian ia segera naik ke rumah pohon tersebut.
Karena bisa dibilang Evan dan Kia adalah tetangga, rumah pohon ini terletak di sekitar rumah mereka. Rumah pohon ini adalah milik Evan yang dibuatkan oleh mendiang kakeknya, sebagai hadiah ketika Evan cucu satu-satunya ulang tahun yang ke sepuluh.
Kia menatap baju Evan yang sedikit terlihat seperti terkena tanah yang basah.
“Epan, kok bajunya kotor?” Tanya Kia.
Evan melirik ke arah baju yang dikenakannya, “Ah, iya. Epan abis bantu mama ke sawah” Jawab Evan.
Kia mengangguk-ngangguk, kemudian anak perempuan itu mengambil sebuah tepak makan mini yang berisi beberapa buah kiko.
Kia menyodorkan tepak makan tersebut kepada Evan, sembari mengatakan, “Selamat ulang tahun, Mbul!”
Tepat hari ini, tanggal enam Juni adalah hari ulang tahun anak laki-laki bernama Evan yang ke dua belas tahun.
Anak laki-laki itu tersenyum manis, kemudian bertanya, “Kok mbul?”
“Kan kamu gembul” Jawab Kia dengan diiringi tawa lucunya.
Evan ikut tertawa mendengarnya. Memang, anak laki-laki yang kini usianya sedang beranjak menjadi dua belas tahun ini memiliki pipi yang lumayan chubby.
Evan meraih tepak makan yang disodorkan Kia. Ia mengambil dua buah kiko dan memberinya satu kepada Kia.
Mereka memakan kiko bersama di rumah pohon yang sejuk itu.
“Epan ulang tahun yang ke dua belas, ya?” Tanya Kia.
“Iya”
“Wah, tiga bulan lagi Kia nyusul. Nanti umur kita samaan lagi!” Ujar Kia dengan polosnya.
“Epan” Ujar Kia lagi.
“Iya?”
“Nanti kalo kita udah gede, bakal terus temenan kan?” Tanya Kia.
“Iya dong”
“Janji?” Tanya kia lagi sembari mengacungkan jari kelingkingnya.
Evan pun mengangkat jari kelingkingnya dan menautkannya pada jari kelingking Kia.
“Janji!” Ucap Evan dengan mengembangkan senyum manisnya.
“Oh, iya. Kia punya kado lagi buat Epan” Ujar kia, kemudian gadis kecil itu merogoh kantong tas kecil miliknya dan mendapati sebuah kotak mini berwarna coklat.
Kia menyodorkan kotak mini tersebut kepada Evan, “Apa ini?” Tanya Evan.
“Buka aja”
Evan meraihnya dan membuka kotak mini tersebut.
Ternyata, di dalamnya terdapat dua buah gelang tali.
“Buat Epan?” Tanya Evan.
Kia mengangguk, kemudian mengambil salah satu gelang tersebut dan memakainya di pergelangan tangannya sendiri.
“Satunya buat Kia. Epan satu, Kia satu. Jadi kita samaan deh!”
Lagi-lagi Evan tersenyum, “Gelangnya bagus, Kia beli di mana? Mahal ya?”
“Nggak mahal kok, orang cuma gelang tali doang. Kia juga dapet dari bunda” Jelas Kia.
“Padahal Kia kadoin Epan kiko juga gak apa-apa” Ujar Evan.
“Epan gak suka gelangnya, ya?”
“Ih, nggak, bukan gitu. Suka kok”
Evan mengambil gelangnya dari kotak tersebut, kemudian memakainya di pergelangan tangannya.
Evan tersenyum menatap gelang yang baru saja ia kenakan di pergelangan tangannya, “Bagus”
“Makasih ya, Kia” Ujar Evan.