haechanketawa

Promise

“Kia, udah jangan nangis. Ayo dimakan kikonya, nanti cair” Ucap seorang anak laki-laki yang sedang duduk di samping anak perempuan di sebuah rumah pohon yang berada di dekat rumah Evan.

Mereka hanya duduk di tanah tanpa alas yang sedikit ada bebatuan kerikil.

“Tadi kan udah janji gak bakal nangis” Ucap Evan.

“Epan, takut..” Lirih kia.

“Ayah sampe bentak bunda, terus bunda banting gelas”

Semakin jelas isak tangis gadis kecil yang imut itu. Evan menatapnya, kemudian meraih pundak Kia.

Evan memupuknya pelan.

Evan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia bingung apa yang harus dilakukannya, ia hanya anak lelaki yang duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, ia tidak tau harus menjawab apa dan yang hanya bisa dilakukannya sekarang adalah menenangkannya dengan memupuk pelan pundak teman perempuannya itu.

Lima menit berlalu, hanya ada suara isakan tangis dari gadis kecil nan manis itu. Namun tak lama kemudian, tangisannya mereda.

Tepukan pelan dan lembut yang Evan berikan di pundak teman perempuannya itu mampu membuat Kia merasa tenang dan menghentikan tangisnya.

“Epan..”

“Kenapa kia?” Tanya Evan yang masih memupuk pelan pundak Kia.

“Kikonya udah cair”

“Gak apa-apa kia, nanti kalo Epan dikasih uang sama mama, Epan beliin lagi ya buat Kia” Ujar Evan.

“Epan, maafin kia ya jadi kikonya kebuang”

“Ih, ngga kebuang atuh kan masih bisa ditaro di dalem kulkas”

“Epan..”

“Kenapa kia?” Tanya Evan lagi.

“Rasanya ngga punya ayah itu gimana?”

Evan terdiam mendengar pertanyaan kia.

Ya, anak lelaki itu sudah ditinggalkan ayahnya untuk selamanya sejak ia masih di dalam kandungan ibunya.

“Gak enak” Jawab Evan.

“Kenapa?”

“Gak bisa ngerasain punya papa” Jawabnya lagi.

“Kia takut nanti gak punya ayah lagi” Ucap Kia seraya menundukkan kepalanya.

“Ih kok ngomongnya gitu?”

“Orang hampir setiap hari bunda sama ayah berantem terus, nanti kalo ayah sama bunda gak mau bareng-bareng lagi gimana?”

“Kia, gak boleh ngomong gitu” Ucap Evan.

“Kia takut, soalnya Kia gak punya siapa-siapa lagi selain ayah sama bunda” Ujar Kia, “Kia juga gak punya temen, gak ada yang mau temenan sama Kia. Tiap Kia ikutan main sama temen-temen yang lain, mereka pada gak mau” Lanjutnya.

“Kia kan punya Epan” Ujar Evan.

Padahal, anak lelaki itu pun tidak memiliki teman selain Kia. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Setiap kali Evan bergabung dengan teman sekelasnya pun tidak ada yang mau menerimanya.

Entah mengapa tidak ada yang mau menjadi teman Evan, yang jelas Evan selalu mendapat lontaran kata yang tidak mengenakkan seperti, “Aku gak mau temenan sama anak gak jelas yang gak punya ayah, miskin lagi!”

Hanya mendengarnya saja, sakit bukan?

Tak ada kata-kata lagi yang disampaikan oleh Kia.

“Epan juga gak punya temen lagi selain Kia” Ujar Evan memecahkan keheningan.

“Emang Evan mau temenan terus sama Kia?” Tanya Kia.

“Mau dong, masa gak mau. Kan Kia baik” Jawab Evan.

“Evan bakal temenin Kia terus?”

“Iya”

“Janji?”

“Janji, Kia. Kita kan udah temenan dari kecil, Kia juga janji ya bakal terus jadi temen Epan?”

Kia tersenyum, “Janji!”

“Ih, Kia kalo senyum mani geulis” Ujar Evan.

Kia semakin melebarkan senyumnya, “Makasih Epan!”

Kia meraih kiko yang ada di tangan Evan, kemudian memasukannya ke dalam kantong plastik hitam.

“Ih kok dimasukin plastik?” Tanya Evan.

“Iya, mau Kia bawa pulang. Katanya masih bisa dimasukin kulkas? Nanti Evan gak perlu beliin Kia kiko lagi” Ujar gadis kecil itu dengan senyumnya yang masih mengembang.

Evan, anak lelaki itu pun ikut tersenyum yang senyumnya juga tak kalah manis dari Kia.

“Oke, Kia!”

Kia beranjak dari duduknya, kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Evan untuk membantu temannya berdiri.

“Kia, pulang yuk udah sore. Tapi nanti kalo di rumah kia janji ya sama Epan, jangan nangis lagi. Nanti ayah sama bundanya Kia ikut sedih kalo Kia nangis. Oke?”

Kia mengangguk, “Oke!”

”Lo suka sama cewek gue?”

Dengan langkah yang cepat, Raka bergegas menuju parkiran sekolah untuk menemui Nathan.

Ya, sekarang adalah jam pulang sekolah. Namun sudah hampir semua murid keluar dari gedung sekolah ini.

Tangannya sudah mengepal sedari tadi.

Raka memberhentikan langkahnya saat melihat Nathan sudah berada di depannya.

Raka memajukan kakinya beberapa langkah sehingga jaraknya sangat dekat dengan Nathan.

Bugh!

Satu pukulan mendarat tepat di pipi kanan Nathan.

Nathan menunjukkan smirknya, “Harusnya lo yang pantes dapet ini bangsat!” Ujar Nathan dengan sangat lantang.

Dua pukulan juga mendarat tepat di dua pipi Raka.

Hanya dua sampai tiga siswa yang menonton aksi tersebut dan mereka semua adalah siswa perempuan, sehingga tidak ada yang memisahnya dan hanya berteriak saja.

Entah ke mana satpam sekolah ini, karena jika ada satpam pasti mereka sudah dipisahkan.

Nathan mengcengkeram kerah baju Raka, “Maksud lo apa anjing? Maksud lo apa hah?” Ujar Nathan dengan penuh emosi.

“Apa hubungannya sama lo? Lo siapanya Alena gue tanya?”

Raka menepis tangan Nathan yang masih mencengkeram kerah bajunya, “Gak usah ikut campur lo bangsat!”

“Gak usah ikut campur? Lo nyakitin Alena bisa gue diem aja?”

“Lo suka sama cewek gue?” Tanya Raka yang langsung melayangkan pukulannya lagi tepat di pinggir bibir Nathan.

Sedikit darah pun mulai keluar dari ujung bibir Nathan.

Nathan mengusap darahnya, “Alena juga temen gue!” Ucap Nathan yang juga membalas pukulannya ke pipi kiri Raka.

“Raka!” Ujar seorang perempuan yang melihat perkelahian mereka.

Perempuan itu adalah Alena.

Alena segera berlari menghampiri dua lelaki yang sedang saling memukul itu.

Nathan melihat Alena yang menghampiri mereka berdua sehingga ia berhenti membalas pukulan dari Raka.

Raka masih belum sadar jika kini sudah ada Alena, sehingga ia masih memukul pipi Nathan sampai Nathan jatuh ke tanah.

“Raka, Stop!” Teriak Alena.

Mendengar itu Raka menghentikan pukulannya, ia menengok ke kanan dan terlihat sudah ada perempuannya.

Raka melepaskan cengkeraman di baju Nathan.

“Kalian apa-apaan berantem gini?” Tanya Alena dengan wajah paniknya.

“Alena..” Ujar Nathan, ia bangkit kemudian mengusap ujung bibirnya yang berdarah itu.

“Raka, kamu kenapa berantem sama Nathan?” Tanya Alena lagi.

Raka terdiam.

“Jawab Raka!”

Tidak ada jawaban dari mereka berdua, sampai pada akhirnya Nathan membuka suara.

“Tadi motor Raka nyenggol motor gue, gue yang emang dari tadi lagi emosi terus, jadi kebablasan nonjok Raka” Jelas Nathan.

Nathan Berbohong.

“Bohong, masa cuma gara-gara itu” Ucap Alena tidak percaya.

“Beneran, tuh liat aja samping motor gue lecet” Ucap Nathan.

Alena melihat ke arah motor Nathan yang memang tampak ada sedikit goresan.

“Motor Raka kok gak ada yang lecet?” Tanya Alena lagi.

“Ya lagi lucky aja dia, makannya gak ada yang lecet” Jawab Nathan berbohong lagi.

Raka masih menatap Nathan dengan sinis, kemudian ia menarik tangan Alena.

“Ayo pulang” Ujar Raka kepada Alena.

Raka memakaikan helm pada Alena, kemudian melajukan motornya meninggalkan Nathan.

“Brengsek” Gumam Nathan setelah Raka melajukan motornya.

Saat dalam perjalanan, Alena memajukan kepalanya melirik pipi Raka yang ia lihat tadi sudah sedikit lebam.

Namun tidak terlihat, karena tertutup helmnya.

“Ka, pipi kamu sampe merah gitu, sakit ya?” Tanya Alena.

“Pegangan”

“Hah?”

“Pegangan Alena, nanti jatuh” Ucap Raka.

Alena memegang jaket yang menutupi seragam Raka, namun Raka segera meraih tangan Alena dan melingkarkannya di perutnya.

“Pegangan yang bener” Ujar Raka.

“Raka mau ke rumah kamu dulu, mau ngobatin pipi kamu”

“Aku gak apa-apa, aku langsung nganter kamu pulang aja”

“Gak mau, mau ngobatin kamu dulu” Ucap Alena lagi.

Raka menghembuskan napasnya gusar lalu mengiyakan perminta Alena dan mereka kini menuju rumah Raka.

I’m sorry

Alena membuka gerbang pintu rumahnya dan langsung terlihat jelas seorang laki-laki yang sedang berdiri menunggu sang pemilik rumah membuka gerbangnya.

“Alena..”

“Mau apa, Raka?”

Raka menarik lengan Alena dan langsung memeluknya.

“Len, maaf..”

Alena menghembuskan napasnya, “Buat apa? Kamu gak salah apa-apa”

“Jangan dengerin orang lain ya? Aku gak pernah malu punya kamu” Ujar Raka.

Alena melepaskan pelukannya, namun dengan cepat Raka menariknya ke dalam dekapannya lagi.

Namun, Alena tidak membalas pelukan itu.

“Alena, jangan pergi, aku minta maaf” Ucap Raka.

“Emang aku mau kemana? Aku di sini, aku gak kemana-mana”

“Aku sayang kamu, jangan dengerin orang lain, Len” Ujar Raka dengan suara yang mulai memberat.

“Raka, kamu nangis?” Ucap Alena masih dalam pelukan Raka.

Hening, tidak ada jawaban dari Raka.

Alena perlahan mulai mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Raka, Ia perlahan mengusap lembut punggung Raka.

“Alena, kita ngga akan putus kan? Iya kan? Jangan bilang putus lagi, please” Ujar Raka yang mulai sedikit terdengar isak tangisnya.

Alena terkekeh, “Lucu..” Ujarnya pelan.

“Len, serius” Tanya Raka yang sepertinya mendengar celetukan dari Alena.

Alena mengeratkan pelukannya, “Raka dengerin aku,”

“Aku minta maaf ya, aku gak bisa kaya perempuan lain” Sambungnya.

“Nggak, kamu nggak salah. Bahkan aku gak butuh perempuan lain, aku cuma butuh kamu”

“Kamu sayang aku kan?” Tanya Alena.

“Sayang, sayang banget..”

“Alena please jangan dengerin orang lain, kita yang jalanin hubungan ini, bukan mereka” Ujar Raka lagi.

“Aku gak pernah malu punya kamu, aku bersyukur bisa punya kamu” Ucap Raka, “Jangan bilang putus lagi, ya?” sambungnya.

Alena menghembuskan nafasnya, “Maaf ya tadi aku bilang gitu”

Alena ingin melepaskan pelukannya, namun lagi-lagi Raka menahannya.

“Raka, kamu bau asem” Ucap Alena.

Raka segera melepaskan pelukannya, “Maaf”

Raka memang baru saja menyelesaikan pertandingan basketnya, walaupun sudah tidak memakai kostum basket, tetap saja ia masih bau keringat karena buru-buru untuk menuju rumah Alena dan belum sempat untuk membersihkan badannya.

Alena tertawa pelan, “Pulang dulu gih, mandi terus istirahat”

“Tadi kamu kambuh lagi ya len?” Tanya Raka mengalihkan pembicaraan.

“Iya, tapi aku gak kenapa-napa”

“Maaf ya, jadi nggak dateng” Ujar Alena lagi.

Raka tersenyum, “Gak apa-apa, kalo kamu kenapa-napa bilang aku”

Alena memang sengaja tidak mengabari Raka kalau asmanya kambuh, karena ia tau Raka tidak akan fokus pada pertandingannya.

“Gih, pulang dulu” Ucap Alena.

“Tapi mau main, nanti kamu tunggu aku mandi dulu, di rumah ada Bila kok.”

“Kamu capek Raka, besok aja” Ucap Alena.

“Aku gak capek, mau sekarang, please ya?”

Alena menghembuskan nafasnya, “Aku izin bunda dulu”

Saat Alena membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumahnya, Raka tiba-tiba menarik lengan Alena.

Ia mengecup kening Alena.

Raka menampilkan senyumnya dan Alena hanya terdiam.

“Akhirnya bisa nyium kamu juga” Ujar Raka dengan senyum tanpa dosanya.

“Raka kalo ada yang lihat gimana?” Tanya Alena dengan pipi yang mulai memerah.

“Biarin, orang sepi. Bentar lagi kita lulus kan? Kalo udah lulus aku mau upgrade

Upgrade apa?”

“Mau cium bibir kamu” Ucap Raka.

Pipi Alena semakin memerah, “Orang gila”

Alena segera berlari masuk ke dalam rumahnya dan meminta izin kepada bundanya untuk pergi bersama Raka.

Melihat perempuannya yang salah tingkah, Raka tertawa pelan, “Gemes, pengen gue makan” Ujarnya.

Matahari sore yang bersinar cerah menambahkan suasana yang hangat dan tenang di Kota Tua, Jakarta.

Arindy dan Jericho yang sedang menyewa sebuah sepeda, Jericho yang menggoes dan Arin yang dibonceng.

“Capek ya?” Tanya Arin yang masih duduk menyamping di jok belakang sepeda.

“Nggak dong” Jawab Jeri.

“Udaha dulu aja ya? Duduk dulu”

Jericho memberhentikan sepedanya, mereka kemudian duduk sembarang di bawah karena tempatnya yang dilapisi dengan semen sehingga tidak kotor untuk diduduki.

“Mau minum?” Tanya Jericho.

“Boleh”

“Bentar ya” Ujar Jeri kemudian ia bangkit untuk membeli minuman.

Tak sampai lima menit, Jericho kembali membawa dua botol air mineral. Mereka kemudian meneguk minuman tersebut.

“Rin” Ujar Jericho.

“Hm?” Arindy hanya bergumam, ia sedang menatap langit sore yang menampilkan senja yang sangat cantik.

“Senjanya cantik ya, kaya kamu” Ucap Jericho.

Arindy terkekeh, “Kalo kaya aku, artinya aku cuma sementara dong buat kamu”

“Emang senja sementara? Nggak kok, dia selalu ada tiap sore”

“Tapi ngga tiap sore langit nampilin senjanya yang indah” Ucap Arindy.

Jericho tersenyum, terlihat lesung pipinya yang sangat manis.

“Rin”

“Hm?” Hanya gumaman lagi yang Arindy jawab.

“Liat akunya dulu dong”

Arindy menengok ke arah Jericho, “Ganteng”

Jericho terkekeh, “Gantengnya siapa coba?”

“Gantengnya aku”

Jericho semakin mengembangkan senyumnya, ia merangkul pundak Arindy.

Tak hanya sekali, mereka sering megunjungi Kota Tua ini untuk menyewa sepeda dan bersepedaan bersama, kemudian memandang dan merasakan langit sore bersama.

Bisa dibilang Kota Tua ini adalah tempat favorite mereka berdua.

Langit sore di Kota Tua yang dihiasi senja menjadi saksi untuk kisah cinta mereka berdua.

“Aku besok mau ke Jerman,” Ucap Jericho tiba-tiba, “Mau ketemu mama, kangen” Sambungnya.

Arin terdiam masih memandangi langit, tidak mengeluarkan satu kata pun.

“Aku bilangnya dadakan banget ya rin?” Tanya Jericho.

“Kok kamu baru bilang sekarang?”

“Aku juga diajak om aku, dia baru ngajak kemarin.” Jawab Jeri.

“Sama Adam dong?” Tanya Arindy.

“Enggak, om aku bilang salah satu diantara aku sama Adam aja yang berangkat.”

“Aku udah obrolin sama Adam dan keputusannya aku yang berangkat.” Sambung Jeri.

“Berapa lama?” Tanya Arin.

“Lima hari, sayang. Aku langsung pulang.”

Arin menghembuskan nafasnya kemudian tersenyum, “Kamu kangen ya sama mama kamu?” Tanya Arindy.

“Iya”

“Aku titip salam ya buat mama kamu”

Jeri mengembangkan senyumnya, “Pasti aku sampein, salam dari calon mantu cantiknya”

Arindy terkekeh, “Kamu gak sedih kan?” Tanya Jericho.

“Enggak dong, aku malah seneng kamu mau ketemu mama kamu”

Jericho mengacak rambut Arin, “Makasih ya” Ujar Jeri dengan senyum manisnya.

Lagi-lagi Arindy hanya tersenyum menanggapi laki-lakinya itu.

“Jeri” Ujar Arin.

“Iya?”

“Kamu tau gak? Aku sayang sama kamu itu udah kaya aku sayang sama ayah aku,” Ujar Arin.

“Kalo aku lagi kangen sama ayah, pasti aku selalu inget gimana sayangnya ayah ke aku, gimana dulu ayah selalu ngelakuin yang terbaik buat aku” Lanjutnya.

“Aku mau kamu jadi laki-laki yang sama kaya ayah aku,”

“Yang bertanggung jawab, yang setia sama satu perempuan, kaya yang ayah lakuin ke bunda aku.” Ujarnya lagi.

“Kamu kangen ayah ya rin?” Tanya Jericho.

“Iya, kangen. Kangen banget”

“Pengen mengulang masa kecil lagi, pengen liat ayah lagi” Sambung Arin.

Jericho tersenyum manis, “Arindy, gak apa-apa kalo kamu kangen sama ayah kamu, wajar”

“Tapi ayah kamu udah tenang di sana, Tuhan lebih sayang ayah kamu Rin” Ujar Jericho.

Ya, ayah Arindy sudah pergi untuk selamanya sejak Arindy menduduki kelas dua SMP.

Merasa akan ada air mata yang keluar, Arin segera mengusap matanya.

“Jeri, pulang yu?”

“Mau makan dulu nggak?” Tanya Jericho

“Makan di rumah aku aja, aku masakin lagi, mau?”

“Mau dong” Ucap Jericho.

Arindy dan Jericho bangkit dan menuju tempat parkir untuk segera pulang.

ㅡRumah Arindy

Seorang laki-laki berbadan tinggi memakai kaos hitam berdiri di belakang perempuan mungil yang sedang merebus soup. Ya, itu adalah Jericho dan Arindy.

Arin memalingkan badannya ke belakang menghadap Jericho sambil membawa satu sendok kuah soup, “Nih, cobain” Ujar Arin kepada Jericho.

Jericho menyicip kuah soup yang disuapkan oleh Arin. “Gimana?” Tanya Arin.

Jericho tersenyum manis memamerkan lesung pipinya. “Kaya biasanya,” Arin menaikkan kedua alis matanya, “Enak” Ucap Jericho.

Arin tersenyum. Masakan Arin tidak pernah mengecewakan Jericho. Apapun yang dimasak Arin untuk Jericho, pasti akan habis dilahap habis oleh Jericho.

“Dasar bulol” Ujar seorang gadis yang sedang mengambil kotak susu di kulkas. “Sama gue aja jarang lo masakin”

Itu adalah Keyla, adik Arin.

Jericho tertawa pelan, menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik sang pacarnya.

Arin dan Jericho kemudian menyiapkan semua makanan di atas meja.

“Rin, mama kamu pulang jam berapa?” Tanya Jericho yang sudah duduk di kursi.

“Hari ini pulang malem, kayanya sekitar jam sebelas” Jawab Arin.

Arindy dan adiknya hampir setiap hari hanya berdua di rumahnya, karena mamanya memiliki sebuah butik sehingga hampir setiap hari kerja mengurus butik tersebut.

Jericho hanya mengangguk-ngangguk mendengar jawaban Arindy.

“Tau gak Rin?” Tanya Jericho lagi.

“Apa?”

“Aku sayang banget tau sama kamu”

Pipi Arindy seketika memerah, “Udah deh nanti aja abis makan gombalnya” Ujar Arin.

Jericho tertawa manis, memamerkan lesung pipinya.

“Hahaha, abis makan mau jalan gak? Yakin di rumah aja?” Tanya Jericho.

“Boleh deh”

Rumah Raka

Senyum yang terukir manis di wajah cantik milik Alena yang sedang menatap Raka dan adiknya memakan masakannya.

“Enak banget kak!” Ujar Bila, Adik Raka.

“Iya, habisin ya” Balas Alena.

Raka yang sudah menghabiskan makanannya segera beranjak dari meja makan dan mengambil satu paper bag berukuran sedang yang di dalamnya terdapat toples yang berisi salad buah.

“Ini Len ada salad buah, Bunda kamu kan suka banget sama salad buah. Aku beli waktu pas pulang latihan tadi” Ujar Raka sembari menyodorkan paper bag tersebut.

“Eh? Makasih ya Ka”

“Aku yang makasih, udah kamu masakin”

Alena hanya tersenyum, “Iya kak, makasih ya udah sering banget masakin kita. Sejak mama sama papa pisah terus kita ikut papa, aku sama kak Raka jarang banget makan masakan rumahan” Ujar Bila.

“Sama-sama Bila. Kalo mau dimasakin tinggal bilang aja ya, mau dimasakin apa”

“Ye, jangan sering-sering juga bil” Balas Raka.

Alena terkekeh, “Gapapa kok”

“Oh iya Ka, papa kamu kapan pulang?” Tanya Alena.

“Minggu depan, masih ada urusan di sana katanya”

“Papa kamu di Amerika dua mingguan dong?” Tanya Alena lagi.

“Iya”

“Kamu ga takut apa, di rumah segede gini cuma berdua doang?”

“Aku sih nggak, paling ni anak doang yang suka ketakutan kalo ke dapur sendirian” Jawab Raka.

Bila yang sedang membereskan piring ikut menyahut, “Ya lo bayangin aja gue jam dua belas malem pengen masak mie harus turun tangga dulu, ngelewatin ruangan yang gelap lagi”

“Ya lo lagian ngapain jam dua belas malem masak mie?” Tanya Raka.

“Laper lah”

Alena hanya tertawa kecil, “Malam minggu mau nginep di rumah aku gak?” Tanya Alena.

“Mau banget!” Jawab Raka.

“Bukan ngajak kamu, ya kali..” Balas Alena.

“Aku nginep di rumah kak Alen? Boleh kak?” Tanya Bila.

“Boleh”

“Akunya gak diajak?”

“Jangan aneh-aneh deh lo kak” Sahut Bila.

“Nanti hari sabtu sorenya jalan-jalan dulu mau gak Bil? Biar nanti pulangnya langsung ke rumah aku, nanti pas hari minggunya kita mampir ke tempat Raka latihan” Ujar Alena

“Mau kak”

“Ih mau ikut jalan-jalannya, tapi aku ada latihan” Ujar Raka.

“Kalo lo abis tournament aja kak, nanti kita bertiga jalan” Ucap Bila.

“Kalo itu mah mending gue aja berdua sama Alena yang jalan”

“Yeuh, si bulol” Ujar Bila sambil menggetok kepala kakaknya menggunakan sendok.

Alena tertawa, “Udah ah, cepetan beresin nasinya, aku bentar lagi mau pulang” Ucap Alena.

”Love you more, Alena”

Langit malam yang dihiasi bintang-bintang menemani Raka dan Alena yang sedang meminum coklat panas di teras rumah Alena.

“Raka” Ujar Alena,

“Hm?” Raka hanya bergumam sebagai jawabannya.

“Sini liat aku dulu”

Raka mendongakkan kepalanya.

Posisi mereka yang duduk di ayunan dan tangan Raka yang merangkul ke pundak Alena.

“I love you“

Raka hanya tersenyum, kemudian kembali meneguk coklat panasnya.

“Ih, gak love you too?

Love you more, Alena”

Alena tersenyum lebar, “Ah masa?”

“Ada maunya nih pasti” Jawab Raka.

“Mainin gitar dong, udah lama kamu gak nyanyiin aku sambil main gitar” Ucap Alena.

“Tumben banget”

“Takut gak bisa denger kamu nyanyi sambil main gitar lagi.”

“Heh, ngomongnya!” Ucap Raka dengan nada sedikit menekan.

Alena tertawa kecil, “Ka, kamu sayang kan sama aku?”

“Cinta juga kan?”

“Aneh” Jawab Raka.

“Oh, ngga ya?” Tanya Alena lagi.

“Tanpa kamu nanya gitu pun pasti udah tau lah jawabannya.”

Tidak ada jawaban lagi dari Alena.

Sampai dua menit berlalu, Alena pun mengeluarkan suara lagi.

“Ka, Jangan tinggalin aku ya” Ujar Alena.

“Kamu kenapa sih? Ya enggak lah” Jawab Raka.

“Tapi kalo aku yang ninggalin kamu, maaf ya?”

Raka merubah posisi duduknya menjadi menghadap Alena, “Alena, kamu kenapa sih?”

“Gapapa, takut aja suatu saat nanti aku ninggalin kamu”

Raka meraih pundak Alena, menyenderkan kepala Alena ke dadanya, “Aku sayang kamu len, begitu pun kamu sayang aku, Jadi kita sama-sama berusaha buat selalu bareng-bareng kan?”

Alena memeluk Raka, “Iya”

Alena menguatkan pelukannya, “Raka, makasih ya?”