Promise
ㅡ
“Kia, udah jangan nangis. Ayo dimakan kikonya, nanti cair” Ucap seorang anak laki-laki yang sedang duduk di samping anak perempuan di sebuah rumah pohon yang berada di dekat rumah Evan.
Mereka hanya duduk di tanah tanpa alas yang sedikit ada bebatuan kerikil.
“Tadi kan udah janji gak bakal nangis” Ucap Evan.
“Epan, takut..” Lirih kia.
“Ayah sampe bentak bunda, terus bunda banting gelas”
Semakin jelas isak tangis gadis kecil yang imut itu. Evan menatapnya, kemudian meraih pundak Kia.
Evan memupuknya pelan.
Evan tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Ia bingung apa yang harus dilakukannya, ia hanya anak lelaki yang duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, ia tidak tau harus menjawab apa dan yang hanya bisa dilakukannya sekarang adalah menenangkannya dengan memupuk pelan pundak teman perempuannya itu.
Lima menit berlalu, hanya ada suara isakan tangis dari gadis kecil nan manis itu. Namun tak lama kemudian, tangisannya mereda.
Tepukan pelan dan lembut yang Evan berikan di pundak teman perempuannya itu mampu membuat Kia merasa tenang dan menghentikan tangisnya.
“Epan..”
“Kenapa kia?” Tanya Evan yang masih memupuk pelan pundak Kia.
“Kikonya udah cair”
“Gak apa-apa kia, nanti kalo Epan dikasih uang sama mama, Epan beliin lagi ya buat Kia” Ujar Evan.
“Epan, maafin kia ya jadi kikonya kebuang”
“Ih, ngga kebuang atuh kan masih bisa ditaro di dalem kulkas”
“Epan..”
“Kenapa kia?” Tanya Evan lagi.
“Rasanya ngga punya ayah itu gimana?”
Evan terdiam mendengar pertanyaan kia.
Ya, anak lelaki itu sudah ditinggalkan ayahnya untuk selamanya sejak ia masih di dalam kandungan ibunya.
“Gak enak” Jawab Evan.
“Kenapa?”
“Gak bisa ngerasain punya papa” Jawabnya lagi.
“Kia takut nanti gak punya ayah lagi” Ucap Kia seraya menundukkan kepalanya.
“Ih kok ngomongnya gitu?”
“Orang hampir setiap hari bunda sama ayah berantem terus, nanti kalo ayah sama bunda gak mau bareng-bareng lagi gimana?”
“Kia, gak boleh ngomong gitu” Ucap Evan.
“Kia takut, soalnya Kia gak punya siapa-siapa lagi selain ayah sama bunda” Ujar Kia, “Kia juga gak punya temen, gak ada yang mau temenan sama Kia. Tiap Kia ikutan main sama temen-temen yang lain, mereka pada gak mau” Lanjutnya.
“Kia kan punya Epan” Ujar Evan.
Padahal, anak lelaki itu pun tidak memiliki teman selain Kia. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Setiap kali Evan bergabung dengan teman sekelasnya pun tidak ada yang mau menerimanya.
Entah mengapa tidak ada yang mau menjadi teman Evan, yang jelas Evan selalu mendapat lontaran kata yang tidak mengenakkan seperti, “Aku gak mau temenan sama anak gak jelas yang gak punya ayah, miskin lagi!”
Hanya mendengarnya saja, sakit bukan?
Tak ada kata-kata lagi yang disampaikan oleh Kia.
“Epan juga gak punya temen lagi selain Kia” Ujar Evan memecahkan keheningan.
“Emang Evan mau temenan terus sama Kia?” Tanya Kia.
“Mau dong, masa gak mau. Kan Kia baik” Jawab Evan.
“Evan bakal temenin Kia terus?”
“Iya”
“Janji?”
“Janji, Kia. Kita kan udah temenan dari kecil, Kia juga janji ya bakal terus jadi temen Epan?”
Kia tersenyum, “Janji!”
“Ih, Kia kalo senyum mani geulis” Ujar Evan.
Kia semakin melebarkan senyumnya, “Makasih Epan!”
Kia meraih kiko yang ada di tangan Evan, kemudian memasukannya ke dalam kantong plastik hitam.
“Ih kok dimasukin plastik?” Tanya Evan.
“Iya, mau Kia bawa pulang. Katanya masih bisa dimasukin kulkas? Nanti Evan gak perlu beliin Kia kiko lagi” Ujar gadis kecil itu dengan senyumnya yang masih mengembang.
Evan, anak lelaki itu pun ikut tersenyum yang senyumnya juga tak kalah manis dari Kia.
“Oke, Kia!”
Kia beranjak dari duduknya, kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Evan untuk membantu temannya berdiri.
“Kia, pulang yuk udah sore. Tapi nanti kalo di rumah kia janji ya sama Epan, jangan nangis lagi. Nanti ayah sama bundanya Kia ikut sedih kalo Kia nangis. Oke?”
Kia mengangguk, “Oke!”