haechanketawa

”Bukan salah kamu.”

Pria, si pemilik mata yang sangat teduh, sangat sayu, dan sangat banyak menyimpan suatu perasaan di dalamnya. Entah itu perasaan senang atau tak senang, hanya dirinya dan Tuhan yang tau.

Tubuh kecilnya menghampiri sebuah meja yang di atasnya terdapat satu tangkai bunga mawar merah, dan sebuah kue yang di tengahnya terdapat lilin berbentuk angka dua puluh delapan.

Pria tersebut bernama Tama.

Tama menatap kursi yang ada di hadapannya, tentunya tanpa ada seseorang yang menduduki kursi tersebut.

Laki-laki itu menatapnya dengan sangat dalam, caranya menatap kursi kosong itu sungguh penuh arti.

Tiba-tiba saja, Tama melirihkan sebuah nama perempuan yang mungkin sedari tadi memenuhi isi kepalanya, “Rena..”

Detik selanjutnya, ia menundukkan kepalanya, mengeluarkan sedikit tawanya sehingga membuat bahunya narik turun tak beraturan.

“Empat tahun..”

“Padahal Empat tahun yang lalu kamu udah janji sama aku, kamu bakal selalu nemenin aku.” Ucapnya yang sedikit terbata-bata.

Air matanya mulai keluar, perlahan membasahi pipinya yang tirus itu.

“Kamu udah janji bakalan terus nemenin aku, bahkan sampai masa usia kepala dua aku habis, kamu bakal terus nemenin aku.” Ujarnya.

Tama mengambil sebuah kotak merah berukuran kecil yang di dalamnya terdapat satu lembar foto.

Foto tersebut menggambarkan seorang gadis yang sangat cantik. Seorang gadis yang entah ia pun tidak tau kapan akan ia keluarkan jauh-jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Gadis yang ia sebut Rena itu sudah menguasai hatinya, lebih tepatnya menguasai satu ruangan di dalam hatinya yang sudah dari dulu sangat ia persiapkan untuk gadis yang akan ia cintai nanti.

Dan di masa depan, gadis yang berhasil menempati ruangan itu adalah Rena.

Tangannya meraih foto yang ada di dalam kotak tersebut. Ia menaruh foto tersebut di dadanya, memeluknya erat. Air matanya mengalir semakin deras. Ia terus melirihkan nama sang pujaan hatinya.

Hingga kemudian, terdengarlah suara wanita yang menyebut namanya, “Tama..” Ucap wanita itu sembari meraih pundak Tama dan mengusapnya pelan.

Entah sedari kapan wanita itu berada di sampingnya, tetapi yang pasti wanita itu paham apa yang baru saja terjadi.

Tama mendongakkan kepalanya, mendapati seorang wanita berbadan dua yang ada di sampingnya.

Tangisannya mulai mereda, entah karena ketenangan yang wanita itu berikan, atau karena dirinya yang tak mau wanita itu tau dengan keadaannya saat ini.

“Kangen Rena, ya?” Tanya wanita itu.

Tama yang tak sadar bahwa tangannya sedang memegang satu lembar foto, membuatnya sedikit terkejut dan segera membawa tangannya ke belakang tubuhnya untuk menyembunyikan foto tersebut.

“Ngga usah diumpetin, aku tau.” Ucap wanita itu dengan senyum tulusnya.

“Maaf..” Ucap Tama.

Lagi-lagi wanita itu menampilkan senyum tulusnya, sangat tulus.

“Udah empat tahun, ya.”

“Udah empat tahun sejak kepergian Rena.” Ujar wanita itu sembari mengusap pelan punggung milik Tama.

“Tama,”

“Hm?” Tama hanya bergumam karena masih sedikit menahan tangisnya.

“Kamu sayang sama Rena, kan?”

Pertanyaan wanita itu membuat Tama sedikit terkejut, ia tak menyangka wanita yang kini berstatus menjadi istrinya menanyakan hal itu, membuat Tama sedikit merasa bersalah.

“Kalo kamu sayang sama Rena, ikhlasin, ya?”

Ucapan wanita itu, membuat Tama kembali ingin mengeluarkan air matanya.

“Kasihan Rena, udah empat tahun, tapi kamu belum juga ikhlas. Rena pasti sedih kalo kamu kaya gini terus.” Ujarnya.

Wanita itu meraih wajah Tama, menangkupkan wajah milik Tama dengan dua tangannya, “Biarin Rena pergi dengan tenang, ya?” Tak ada jawaban dari Tama. Mata milik wanita itu terlihat mulai berkaca-kaca, menandakan satu buliran air mata akan keluar dari mata indahnya.

“Tari, maaf..” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Tama.

Wanita yang ternyata adalah istri Tama itu bernama Tari.

Mendengar itu, Tari hanya bisa tersenyum, sembari berkata, “Bukan salah kamu,” Ujarnya menggantungkan kalimatnya, “aku yang salah, karena belum bisa jadi perempuan yang bisa ngegantiin Rena di hati kamu.”

Sial, ucapannya semakin membuat Tama merasa bersalah.

Tama berpikir, mengapa wanita ini mau menjadi pendamping hidup seorang laki-laki yang bahkan laki-laki itu belum menyelesaikan perasaannya untuk seorang gadis yang sudah Tuhan ambil.

Namun, bagaimanapun juga, Tari lah yang sudah menemani dan selalu ada untuknya ketika ia menghadapi segala pahit dan perihnya hidup yang ia jalani, ketika Rena harus pergi karena Sang Maha Pencipta sudah memanggilnya.

“Aku ngga bakal berhenti berusaha untuk bisa nempatin satu ruangan di hati kamu yang selalu kamu tutup rapat-rapat, karena di dalamnya selalu kamu simpan dan kamu tata rapih buat Rena.” Ujar Tari dengan senyumnya yang tak pernah luntur menghiasi wajah manisnya.

Senyum milik Tari yang Tama tau hanya sebuah senyum yang melambangkan kebahagiaan dan kekuatan. Padahal, senyumnya penuh luka, penuh kesakitan, dan penuh duka yang selalu ia tahan.

“Kamu pasti mikir, kenapa aku ngga nyerah aja. Iya, kan?” Tanya Tari.

Tama hanya memandang wajah istrinya itu tanpa menjawab pertanyaannya.

“Karena ini.” Ucap Tari sembari membawa tangan milik Tama untuk menyentuh perut buncitnya.

Hening, keduanya terdiam.

Tari mulai menitikan satu tetes air matanya, “Kamu ngerasa gak, ada yang gerak-gerak?” Tanya Tari.

Tama menganggukkan kepalanya, telapak tangannya yang masih menempel di perut buncit yang berbalut dress hamil milik istrinya itu, membuat tangannya merasakan sesuatu yang bergerak-gerak dari perut Tari.

“Kamu tau? Dari tadi pagi, anak kita udah bisa nendang-nendang.” Ucap Tari lagi.

Tama yang merasakan hal itu pada tangan kanannya, segera mengusap pelan perut milik istrinya. Ia kemudian menaruh foto yang sedari tadi ia genggam di tangan kirinya, ke dalam sebuah kotak merah itu kembali.

Posisi Tama yang sedang duduk menyamping di kursi dan Tari yang sedari tadi hanya berdiri. Tama meraih pinggang Tari, kemudian ia memeluk dan menaruh pipi kanannya pada permukaan perut milik istrinya.

“Maafin papa, ya..” Lirih Tama, kemudian ia memejamkan matanya, merasakan sensasi pergerakan calon buah hatinya di pipi kanannya.

Mendengar itu, Tari kemudian menyentuh kepala Tama, mengusapnya lembut, membuat Tama merasa tenang.

Entah, Tari harus senang atau sedih. Bisa dibilang ini pertama kalinya suaminya itu memeluknya.

Ia pun bingung, apakah Semesta akan mengizinkannya untuk berhasil membuka ruangan di dalam hati Tama yang selalu tertutup rapat. Atau ternyata, selama ini Semesta sudah memberikannya pentujuk untuk berhenti memperjuangkan ini semua, tetapi dirinya saja yang selama ini tidak pernah sadar akan petunjuk yang Semesta berikan?

Entahlah, biarkan waktu yang menjawab semua ini.

“Tama,” Ujar Tari.

“Ya?”

“Liat aku.”

Tama tidak melepaskan pelukannya pada pinggang Tari, ia hanya mendongak untuk menatap istrinya itu.

“Selamat ulang tahun, ya.” Ujar Tari dengan sangat tulus, tak lupa juga senyumnya yang ia ukir di bibirnya.

“Aku punya hadiah buat kamu.” Ujar Tari, ia kemudian menampilkan tangan kirinya yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang tubuhnya.

Tari menyodorkan sebuah kotak kecil yang langsung Tama raih.

Tama membuka kotak tersebut, dan kemudian menampilkan beberapa buah foto yang mampu membuatnya mengembangkan senyumnya.

“Tari?”

“Iya,”

“Kamu kan pernah nulis di note, kalo kamu pengen punya anak pertama itu laki-laki, biar kalo punya adik bisa jaga adiknya sekuat tenaga, kaya papanya.” Ujar Tari lagi.

“Anak kita laki-laki?” Tanya Tama lagi yang masih menatap beberapa foto hasil USG kehamilan istrinya itu.

“Iya.” Jawab Tari.

Tama mengembangkan senyumnya, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan di depan istrinya.

Tama berdiri dari duduknya, ia kemudian menatap Tari dan membawanya ke dalam dekapannya.

Tama berkali-kali menciumi pucuk kepala Tari, membuat Tari tak tahan untuk menahan tangisnya.

Mungkin kali ini, tangis bahagia.

“Makasih..” Ucap Tama.

“Maafin aku, maafin aku yang selama ini-“

“Tama,” Ucap Tari memotong pembicaraan Tama.

“Mau mulai semuanya dari awal? Mau ikhlasin Rena biar dia bisa tenang di sana? Dan, demi anak kita?” Tanya Tari.

Tak ada jawaban dari Tama.

“Oke, maaf..” Ucap Tari meminta maaf karena merasa lancang telah berbicara seperti itu kepada Tama.

“Ayo,”

“Ayo mulai semuanya dari awal, Tari.”

Tama melepaskan pelukannya, meraih wajah Tari yang ternyata sudah dibasahi air mata.

Tama mengusap pipi Tari, menghapus air mata yang membasahi wajah cantiknya itu.

“Harusnya aku ikhlasin Rena,”

“Rena juga mau aku bahagia di sini,”

“Dan bahagianya aku, Tuhan takdirkan di kamu.” Ucap Tama.

Tama melipat kakinya, menumpu lututnya di lantai agar sampai pada perut milik istrinya.

“Sehat-sehat, ya, anak papa. Kalo kamu udah lahir, nanti kita main bola.” Ujar Tama, ia kemudian kembali memeluk pinggang Tari dan kembali menaruh pipinya di perut buncit milik istrinya.

Tari mengusap kepala suaminya dengan lembut, air matanya kembali ia jatuhkan di pipinya.

Tama yang dahulu adalah kakak tingkatnya, yang ia tau bahwa Tama adalah kekasih Rena, sahabatnya.

Tari yang tau bahwa sahabatnya ini menyukai Tama, membuat ia diam seribu bahasa untuk tidak mengatakan perasaanya yang ternyata juga mencintai Tama.

Hingga saat itu, Rena tau perasaan Tari. Rena tak marah sama sekali pada sahabatnya, dan saat yang bersamaan pula, Rena memberi tau pada Tari dan Tama bahwa dirinya mengidap kanker, membuat Tama sangat frustasi ketika tau sesuatu yang selama ini Rena sembunyikan.

Dan, Tuhan harus menjemput Rena untuk pulang.

Rena yang sebelumnya memberi sebuah surat kepada Tama, memintanya untuk menjadi pendamping hidup dan menjaga sahabatnya yang sudah lama memendam perasaannya itu kepada Tama.

Hingga detik ini, banyak pertanyaan yang memenuhi kepala Tari.

Apakah suaminya ini sungguh-sungguh? Apakah suaminya ini bisa mengikhlaskan semua yang telah berlalu? Atau, haruskah ia berhenti?

Mungkin, jawabannya sama seperti apa yang pernah Tari ucapkan sebelumnya?

Biarlah waktu yang menjawab semuanya, biarlah ia menjalani apa yang sedang terjadi saat ini, biarlah semuanya mengalir dengan sendirinya. Perihal rasa sakitnya, mungkin itu sudah menjadi risiko dalam takdir yang ia dapatkan di hidupnya.

Promise.

“Kia, udah jangan nangis. Ayo dimakan kikonya, nanti cair” Ucap seorang anak laki-laki yang sedang duduk di samping anak perempuan di sebuah rumah pohon yang biasa mereka kunjungi.

“Tadi kan udah janji gak bakal nangis” Ucap Evan.

“Epan, takut..” Lirih kia.

“Ayah sampe bentak bunda, terus bunda banting gelas”

Semakin jelas isak tangis gadis kecil yang imut itu. Evan menatapnya, kemudian meraih pundak Kia.

Evan memupuknya pelan.

Evan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, karena ia hanya anak lelaki yang duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Ia tidak tau harus menjawab apa, dan yang hanya bisa dilakukannya adalah memupuk dengan pelan pundak teman perempuannya itu.

Lima menit berlalu, hanya ada suara isakan tangis dari gadis kecil nan manis itu. Namun tak lama kemudian, tangisannya mereda.

Tepukan pelan dan lembut yang Evan berikan di pundak temannya itu mampu membuat Kia merasa tenang dan menghentikan tangisnya.

“Epan..”

“Kenapa?” Tanya Evan yang masih memupuk pelan pundak Kia.

“Kikonya udah cair”

“Gak apa-apa kia, nanti kalo Epan dikasih uang sama mama, Epan beliin lagi ya buat Kia” Ujar Evan.

“Epan, maafin kia ya jadi kikonya kebuang”

“Ih, nggak atuh kan masih bisa ditaro di dalem kulkas”

“Epan..”

“Kenapa Ki?” Tanya Evan lagi.

“Rasanya ngga punya ayah itu, gimana?”

Evan terdiam mendengar pertanyaan kia.

Evan, anak tunggal itu sudah ditinggalkan ayahnya untuk selamanya sejak ia masih di dalam kandungan ibunya.

“Gak enak” Jawab Evan.

“Kenapa?”

“Gak bisa ngerasain punya papa” Jawabnya lagi.

Dari kecil Evan hanya tinggal berdua dengan ibunya, dan Jujur saja, Evan sangat ingin merasakan bagaimana rasanya punya ayah, bagaimana rasanya dipeluk oleh sosok yang disebut ayah.

“Kia takut nanti gak punya ayah lagi” Ucap Kia seraya menundukkan kepalanya.

“Ih kok ngomongnya gitu?”

“Orang hampir setiap hari bunda sama ayah berantem terus, nanti kalo ayah sama bunda gak mau bareng-bareng lagi gimana?”

“Kia gak boleh ngomong gitu” Ucap Evan.

“Kia takut, soalnya Kia gak punya siapa-siapa lagi selain ayah sama bunda” Ujar Kia, “Kia juga gak punya temen, gak ada yang bener-bener mau temenan sama Kia” Lanjutnya.

“Kia kan punya Epan” Ujar Evan.

Padahal, anak lelaki itu pun tidak memiliki teman selain Kia. Tidak ada yang mau berteman dengannya, setiap kali Evan bergabung dengan teman sekelasnya pun tidak ada yang mau menerimanya.

Entah mengapa tidak ada yang mau menjadi teman Evan, yang jelas Evan selalu mendapat lontaran kata yang tidak mengenakkan seperti, “Aku gak mau temenan sama anak gak jelas yang gak punya ayah kaya kamu, miskin lagi!”

Hanya mendengarnya saja, sakit bukan?

“Epan juga gak punya temen lagi selain Kia” Ujar Evan memecahkan keheningan.

“Emang Evan mau temenan terus sama Kia?” Tanya Kia.

“Mau dong, masa gak mau. Kan Kia baik”

“Evan bakal selalu ada buat jadi temen Kia?” Tanya Kia lagi.

“Iya”

“Janji?”

“Janji, Kia. Kita kan udah temenan dari kecil, Kia juga janji ya, bakal terus jadi temen Epan?”

Kia tersenyum, “Janji!”

Kia meraih kiko yang ada di tangan Evan, kemudian memasukannya ke dalam kantong plastik hitam.

“Ih kok dimasukin plastik?” Tanya Evan.

“Mau Kia bawa pulang, katanya masih bisa dimasukin kulkas? Nanti Evan gak perlu beliin Kia kiko lagi” Ujar gadis kecil itu dengan senyumnya yang masih mengembang.

Anak laki-laki itu pun ikut tersenyum, senyumnya yang tak kalah manis dari Kia.

“Oke, Kia!”

Evan beranjak dari duduknya, kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Kia untuk membantu temannya berdiri.

“Pulang yuk, udah sore. Nanti Kia dicariin ayah sama bunda” Ajak Evan.

Kia mengangguk, “Oke!”

Epan, Kia, dan Aldo.

Evan berjalan dengan langkah yang sedikit lambat, karena berjalan sembari memperhatikan sebuah kue ulang tahun yang ada di tangannya itu.

Temannya itu memberinya sebuah kue ulang tahun yang hampir didominasikan oleh cream coklat, dan Evan tidak terlalu menyukai coklat. Entah, setiap ia memakan banyak makanan atau minuman yang berbau coklat, rasanya mual. Namun, ia tetap menyukai kue yang telah diberikan sebagai hadiah ulang tahun dari temannya itu. Ia berpikir, mungkin ia bisa memakan kuenya bersama ibunya atau A Agra.

“Pan”

Langkah Evan terhenti, ketika ada seseorang yang memanggil namanya.

Evan melihat ke depan, terdapatlah Aldo dan dua temannya, Dafa dan Bagas.

“Kue dari Kia, ya?” Tanya Aldo pada Evan.

Evan diam, tak menjawab.

“Ditanya diem aja, jawab atuh” Tanya Aldo lagi dengan nada yang sedikit menekan.

Jujur saja, perasaan Evan kini tidak enak. Ada rasa takut dalam dirinya ketika ada anak laki-laki yang sepantaran dengannya, namun lebih memiliki tubuh yang besar dan tinggi darinya.

Evan memberanikan diri untuk menjawab, “Iya”

“Ultah yang ke berapa sia?” Tanya Aldo lagi.

“Dua belas” Jawab Evan sembari menundukkan kepalanya.

“Naha nunduk?” (Kenapa nunduk?)

Tak ada respon dari Evan.

“Makin gede, makin cupu”

Lagi-lagi tidak ada respon dari anak laki-laki yang masih membawa sebuah kue di tangannya itu.

“Maneh ngehasut Kia biar gak mau main sama aing, ya?” Tanya Aldo lagi.

Evan menggelengkan kepalanya.

“Halah, bohong”

Aldo melirik ke arah kue ulang tahun pemberian dari Kia yang ada di tangan Evan. Sangat tidak disangka, Aldo menepis kue tersebut hingga terjatuh ke tanah.

Evan sedikit terkejut dan takut, namun ia berusaha untuk tetap tenang.

“Yah, kuenya jatuh” Ucap Aldo dengan nada mengejek.

Evan menatap ke arah kue yang sudah terbelah menjadi dua di tanah, “Aldo, kok kuenya dijatuhin?” Tanya Evan dengan polosnya.

“Gak pernah makan kue ulang tahun, ya? Kasian” Ucap Dafa.

“Gak mampu dia mah buat beli kue ulang tahun” Ujar Aldo disertai dengan tawa mengejek.

“Aldo..” Ucap Evan.

“Apa?”

“Kamu kenapa gitu?” Tanya Evan.

“Aldo gak suka sama Evan?”

“Evan punya salah apa sama Aldo?”

Aldo mengeluarkan sedikit tawanya ketika mendengar beberapa pertanyaan dari Evan.

“Gak ada salah apa-apa sih, cuma aing gak suka aja sama maneh” Jawab Aldo.

Aldo melirik ke arah tas punggung milik Evan, ia kemudian menarik secara paksa tas yang masih menempel di punggung Evan.

“Aldo, mau ngapain?” Tanya Evan yang berusaha melepaskan tangan Aldo yang terus menarik tasnya secara kasar.

“Lepas gak?!” Ucap Aldo.

Dafa dan Bagas pun tidak hanya diam, mereka membantu Aldo yang menarik tas Evan agar lepas dari punggung pemiliknya.

Evan pun mengalah, daripada tali tasnya putus karena terus ditarik paksa oleh Aldo dan dua temannya, ia akhirnya melepaskan tasnya dari punggungnya.

“Jelek banget tasnya, dekil gini” Ucap Aldo yang terlihat jijik saat memegang tas milik Evan.

“Tas udah jelek gini, mana tali sebelahnya udah mau putus. Minta beli yang baru dong ke mama kamu!” Ucap Bagas.

Tak ada respon dari Evan, ia malah menundukkan dalam-dalam kepalanya.

Aldo mulai membuka tas Evan, untungnya tidak ada buku sekolah atau barang penting di dalam tas itu, hanya ada tepak makan berukuran mini yang berisi beberapa buah kiko.

“Hahaha, masih jaman ya makan es kiko serebuan?” Tanya Aldo ketika mendapati beberapa buah kiko dari dalam tas Evan.

“Pan, maneh norak banget tau gak masih jajan jajanan kaya gini? Gak mampu jajan yang mahalan dikit?” Ujar Aldo lagi.

“Gak mampu atuh, ibunya cuma jadi petani di sawah orang, gak punya bapak lagi” Ujar Bagas.

Jangan ditanya, sangat sakit sekali ketika Evan harus mendengar lontaran kata demi kata yang mengejek kehidupannya yang memang serba pas-pasan, bahkan terkadang kurang dari kata pas-pasan.

Cacian-cacian itu terus keluar dari mulut ketiga anak laki-laki yang ada di hadapannya sekarang. Evan takut, tetapi ia tidak mau Aldo dan teman-temannya tau bahwa ia sedang merasa takut.

Aldo menjatuhkan semua kiko yang ada di dalam tepak makan mini tersebut ke tanah.

“Kiko cuma seribuan, tapi pasti ini juga dibeliin sama Kia kan?” Tanya Aldo.

Melihat Evan yang hanya terdiam tak menjawab, Aldo menginjak-nginjak kiko yang sudah terjatuh di tanah sampai beberapa kiko itu hancur.

“Aldo, jangan diinjek-injek” Ucap Evan yang berusaha untuk menahan Aldo agar berhenti menginjak-nginjak kikonya.

“Udah hancur semua, masih mau dimakan?” Tanya Dafa.

Evan hendak mengambil tasnya yang masih berada di tangan Aldo, namun dengan cepat Aldo menarik kembali tas milik Evan.

“Kalo tasnya aing ambil, nanti maneh gak bisa sekolah lagi dong? Ada uangnya gak buat beli tas baru?” Tanya Aldo yang lagi-lagi disertai dengan nada mengejek.

Evan masih berusaha untuk mengambil tasnya dari tangan Aldo, namun Dafa dan Bagas menarik bajunya hingga ia tidak berhasil mendapatkan tasnya kembali.

“Epan!”

Sebuah teriakan yang memanggil nama Evan membuat sang pemilik nama, Aldo, Dafa dan Bagas menengok ke arah sumber suara.

Kia, ternyata gadis kecil itu yang memanggil nama Evan dengan teriakannya.

Melihat Kia berlari menghampiri mereka, Dafa dan Bagas melepaskan tarikan baju pada Evan.

Kia yang sudah tau bahwa Dafa dan Bagas menarik-narik baju temannya itu pun bertanya, “Kalian kenapa narik-narik baju Evan?”

Tak ada jawaban dari Dafa dan Bagas. Kia melihat ke bawah, ke arah kue dan kiko yang sudah hancur di tanah.

“Itu kan kue sama kiko dari Kia, kok sampe hancur gini?” Tanya Kia.

Melihat tas Evan yang ada di tangan Aldo membuat Kia paham apa yang sedang terjadi.

“Aldo, kamu apain Epan?” Tanya Kia.

“Kalian ya yang ngehancurin kiko sama kuenya?” Tanya Kia lagi.

“Nggak, Ki, tadi Al-“

“Orang tadi Kia juga liat Kamu ditarik-tarik bajunya sama mereka!” Ucap Kia yang memotong omongan Evan, karena ia tau Evan akan menyembunyikan dan berusaha menutupi perlakuan yang Aldo dan teman-temannya lakukan padanya.

“Aldo, kamu nakal banget”

“Padahal itu kue ulang tahunnya buat Evan, kamu bukan nakal lagi, kamu udah jahat banget” Ujar Kia yang menatap Aldo dengan tatapan tidak sukanya.

Kia mencoba meraih tas Evan yang ada di tangan Aldo, namun dengan cepat Aldo menjauhkannya.

“Balikin, Aldo!”

“Kia, aku nggak-”

Kia mendorong Aldo, sehingga ia berhasil meraih tas milik Evan. Gadis kecil itu kemudian menarik lengan Evan dan segera membawanya pergi dari hadapan Aldo dan teman-teman liciknya dengan langkah yang cukup cepat.

”Selamat ulang tahun, Epan!”

Epan, sini!” Panggil seorang anak perempuan dari atas di sebuah rumah pohon.

Evan menegok ke atas, mengikuti arah dari sumber suara tersebut.

Evan tersenyum ketika mendapati temannya di atas sana, kemudian ia segera naik ke rumah pohon tersebut.

Karena bisa dibilang Evan dan Kia adalah tetangga, rumah pohon ini terletak di sekitar rumah mereka. Rumah pohon ini adalah milik Evan yang dibuatkan oleh mendiang kakeknya, sebagai hadiah ketika Evan cucu satu-satunya ulang tahun yang ke sepuluh.

Kia menatap baju Evan yang sedikit terlihat seperti terkena tanah yang basah.

“Epan, kok bajunya kotor?” Tanya Kia.

Evan melirik ke arah baju yang dikenakannya, “Ah, iya. Epan abis bantu mama ke sawah” Jawab Evan.

Kia mengangguk-ngangguk, kemudian anak perempuan itu mengambil sebuah tepak makan mini yang berisi beberapa buah kiko.

Kia menyodorkan tepak makan tersebut kepada Evan, sembari mengatakan, “Selamat ulang tahun, Mbul!”

Tepat hari ini, tanggal enam Juni adalah hari ulang tahun anak laki-laki bernama Evan yang ke dua belas tahun.

Anak laki-laki itu tersenyum manis, kemudian bertanya, “Kok mbul?”

“Kan kamu gembul” Jawab Kia dengan diiringi tawa lucunya.

Evan ikut tertawa mendengarnya. Memang, anak laki-laki yang kini usianya sedang beranjak menjadi dua belas tahun ini memiliki pipi yang lumayan chubby.

Evan meraih tepak makan yang disodorkan Kia. Ia mengambil dua buah kiko dan memberinya satu kepada Kia.

Mereka memakan kiko bersama di rumah pohon yang sejuk itu.

“Epan ulang tahun yang ke dua belas, ya?” Tanya Kia.

“Iya”

“Wah, tiga bulan lagi Kia nyusul. Nanti umur kita samaan lagi!” Ujar Kia dengan polosnya.

“Epan” Ujar Kia lagi.

“Iya?”

“Nanti kalo kita udah gede, bakal terus temenan kan?” Tanya Kia.

“Iya dong”

“Janji?” Tanya kia lagi sembari mengacungkan jari kelingkingnya.

Evan pun mengangkat jari kelingkingnya dan menautkannya pada jari kelingking Kia.

“Janji!” Ucap Evan dengan mengembangkan senyum manisnya.

“Oh, iya. Kia punya kado lagi buat Epan” Ujar kia, kemudian gadis kecil itu merogoh kantong tas kecil miliknya dan mendapati sebuah kotak mini berwarna coklat.

Kia menyodorkan kotak mini tersebut kepada Evan, “Apa ini?” Tanya Evan.

“Buka aja”

Evan meraihnya dan membuka kotak mini tersebut.

Ternyata, di dalamnya terdapat dua buah gelang tali.

“Buat Epan?” Tanya Evan.

Kia mengangguk, kemudian mengambil salah satu gelang tersebut dan memakainya di pergelangan tangannya sendiri.

“Satunya buat Kia. Epan satu, Kia satu. Jadi kita samaan deh!”

Lagi-lagi Evan tersenyum, “Gelangnya bagus, Kia beli di mana? Mahal ya?”

“Nggak mahal kok, orang cuma gelang tali doang. Kia juga dapet dari bunda” Jelas Kia.

“Padahal Kia kadoin Epan kiko juga gak apa-apa” Ujar Evan.

“Epan gak suka gelangnya, ya?”

“Ih, nggak, bukan gitu. Suka kok”

Evan mengambil gelangnya dari kotak tersebut, kemudian memakainya di pergelangan tangannya.

Evan tersenyum menatap gelang yang baru saja ia kenakan di pergelangan tangannya, “Bagus”

“Makasih ya, Kia” Ujar Evan.

”Selamat ulang tahun, Epan!”

Epan, sini!” Panggil seorang anak perempuan dari atas di sebuah rumah pohon.

Evan menegok ke atas, mengikuti arah dari sumber suara tersebut.

Evan tersenyum ketika mendapati temannya di atas sana, kemudian ia segera naik ke rumah pohon tersebut.

Karena bisa dibilang Evan dan Kia adalah tetangga, rumah pohon ini terletak di sekitar rumah mereka. Rumah pohon ini adalah milik Evan yang dibuatkan oleh mendiang kakeknya, sebagai hadiah ketika Evan cucu satu-satunya ulang tahun yang ke sepuluh.

Kia menatap baju Evan yang sedikit terlihat seperti terkena tanah yang basah.

“Epan, kok bajunya kotor?” Tanya Kia.

Evan melirik ke arah baju yang dikenakannya, “Ah, iya. Epan abis bantu mama ke sawah” Jawab Evan.

Kia mengangguk-ngangguk, kemudian anak perempuan itu mengambil sebuah tepak makan mini yang berisi beberapa buah kiko.

Kia menyodorkan tepak makan tersebut kepada Evan, sembari mengatakan, “Selamat ulang tahun, Mbul!”

Tepat hari ini, tanggal enam Juni adalah hari ulang tahun anak laki-laki bernama Evan yang ke dua belas tahun.

Anak laki-laki itu tersenyum manis, kemudian bertanya, “Kok mbul?”

“Kan kamu gembul” Jawab Kia dengan diiringi tawa lucunya.

Evan ikut tertawa mendengarnya. Memang, anak laki-laki yang kini usianya sedang beranjak menjadi dua belas tahun ini memiliki pipi yang lumayan chubby.

Evan meraih tepak makan yang disodorkan Kia. Ia mengambil dua buah kiko dan memberinya satu kepada Kia.

Mereka memakan kiko bersama di rumah pohon yang sejuk itu.

“Epan ulang tahun yang ke dua belas, ya?” Tanya Kia.

“Iya”

“Wah, tiga bulan lagi Kia nyusul. Nanti umur kita samaan lagi!” Ujar Kia dengan polosnya.

“Epan” Ujar Kia lagi.

“Iya?”

“Nanti kalo kita udah gede, bakal terus temenan kan?” Tanya Kia.

“Iya dong”

“Janji?” Tanya kia lagi sembari mengacungkan jari kelingkingnya.

Evan pun mengangkat jari kelingkingnya dan menautkannya pada jari kelingking Kia.

“Janji!” Ucap Evan dengan mengembangkan senyum manisnya.

“Oh, iya. Kia punya kado lagi buat Epan” Ujar kia, kemudian gadis kecil itu merogoh kantong tas kecil miliknya dan mendapati sebuah kotak mini berwarna coklat.

Kia menyodorkan kotak mini tersebut kepada Evan, “Apa ini?” Tanya Evan.

“Buka aja”

Evan meraihnya dan membuka kotak mini tersebut.

Ternyata, di dalamnya terdapat dua buah gelang tali.

“Buat Epan?” Tanya Evan.

Kia mengangguk, kemudian mengambil salah satu gelang tersebut dan memakainya di pergelangan tangannya sendiri.

“Satunya buat Kia. Epan satu, Kia satu. Jadi kita samaan deh!”

Lagi-lagi Evan tersenyum, “Gelangnya bagus, Kia beli di mana? Mahal ya?”

“Nggak mahal kok, orang cuma gelang tali doang. Kia juga dapet dari bunda” Jelas Kia.

“Padahal Kia kadoin Epan kiko juga gak apa-apa” Ujar Evan.

“Epan gak suka gelangnya, ya?”

“Ih, nggak, bukan gitu. Suka kok”

Evan mengambil gelangnya dari kotak tersebut, kemudian memakainya di pergelangan tangannya.

Evan tersenyum menatap gelang yang baru saja ia kenakan di pergelangan tangannya, “Bagus”

“Makasih ya, Kia” Ujar Evan.

For the first time.

Nathan, laki-laki berkaus hitam itu sudah duduk manis dengan memainkan ponselnya di ruang TV apartemen kekasihnya.

Orang tua Alena memang tidak mengizinkan putrinya itu untuk tinggal dan menyewa kost-an, seingga orang tuanya memilih menyewakan apartemen untuk putrinya tempati di Jogja. Namun, karena kondisinya yang memiliki asma, Alena tidak tinggal sendiri, melainkan ada sahabatnya yang menemaninya. Siapa lagi kalau bukan Indira.

Alena dan Indira memang sudah berteman baik sejak menduduki bangku SMP, dan ketika SMA mereka berjanji untuk tinggal bersama jika mereka berdua diterima di PTN yang mereka ambisi bersama. Dan akhirnya, mereka pun diterima di sebuah PTN yang berada di Kota Jogja yang sejak lama sudah mereka impikan bersama.

Apartemen ini tidak terlalu besar, hanya memiliki tiga ruangan yaitu ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang TV, kamar tidur yang cukup luas sehingga bisa ditempati dua ranjang, satu untuk Alena dan satu untuk Indira, tentunya dengan disertai kamar mandi di dalam kamarnya dan ruangan terakhir adalah dapur.

Sebenarnya Alena hanya ingin menyewa kost-an, namun orang tuanya sangat tidak mengizinkannya. Berbeda dengan Nathan, yang menyewa kost-an di daerah yang lumayan dekat dengan apartemen Alena.

Alena menghampiri Nathan, dengan tangannya yang sudah membawa dua kotak susu dan beberapa ciki-cikian.

“Si Indira lagi ke mana? Kok sepi banget?” Tanya Nathan.

“Lagi keluar sama Agum kali” Jawab Alena asal.

Nathan mengangguk-nganggukan kepalanya, kemudian bertanya kembali, “Mau jalan ke mana?” Tanya Nathan.

Alena membuka satu kotak susu dan meneguknya. Setelah itu ia menjawab pertanyaan Nathan, “Terserah” Jawab Alena sembari menggeser duduknya mendekat kepada Nathan dan menyenderkan kepalanya di dada bidang laki-laki itu.

Alena merubah posisinya, menidurkan kepalanya di atas paha Nathan dan meluruskan kakinya ke atas sofa.

“Nath” Ujar Alena.

Hanya gumaman yang Nathan jawab, “Hm?”

“Masa semalem aku mimpi, ga enak banget lagi mimpinya” Ujar Alena membuka topik obrolan.

“Mimpi apa?”

Alena terdiam, sehingga membuat Nathan melihat ke arahnya.

“Pesawat yang kamu naikin, kecelakaan” Ujar Alena.

Nathan semakin menatap Alena dalam, kemudian terkekeh “Ah, cuma mimpi”

“Iya, tapi jelek banget mimpinya”

Tidak ada jawaban lagi dari Nathan.

“Nath, ih”

“Apa?” Tanya Nathan.

“Kamu yakin mau ke Jakarta besok?”

“Ya yakin lah, emang kenapa?”

“Perasaan aku jadi ga enak” Ucap Alena.

Nathan menghembuskan napasnya, “Gara-gara mimpi itu?”

Alena merubah posisinya menjadi duduk tegak menghadap Nathan, “Iya” Ucapnya.

Nathan tersenyum tipis, “Gak apa-apa, Alena” Ujar Nathan sembari meraih bahu Alena dan menyenderkannya di dada bidangnya.

“Kalo kata orang tua, mimpi itu cuma bunga tidur, gak apa-apa” Ujar Nathan menenangkan Alena.

“Tapi aku takut”

“Kalo beneran kejadian, gimana?” Tanya Alena.

Nathan menghembuskan napasnya, mengusap halus kepala Alena, “Hei, itu cuma mimpi, Alena. Gak apa-apa. Kamu doain aja biar aku selamat sampai tujuan”

Alena terdiam.

Entah, mengapa ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya. Ia takut, jika mimpinya menjadi kenyataan.

Sudah tiga tahun semenjak hubungannya berakhir dengan Raka, dan sudah dua tahun ia menjalankan hubungannya dengan Nathan. Artinya, gadis itu membiarkan hatinya kosong tanpa ada pemilik selama satu tahun semenjak hubungannya berakhir dengan Raka.

Jujur saja, tidak mudah untuk melenyapkan rasanya pada pria yang bernama Raka itu. Tiap malam, ia selalu dihantui rasa takut. Takut jika ia tidak akan pernah bisa melepaskan rasanya.

Namun, ada sosok yang hebat yang mampu membantu dirinya dengan perlahan menghilangkan rasa cinta untuk masa lalunya.

Sosok itu adalah Nathan.

Nathan yang selalu menguatkan Alena, Nathan yang selalu ada untuk Alena ketika Alena lagi-lagi merasa tidak mampu untuk menghilangkan rasanya.

Hingga satu tahun penuh, Alena berhasil mengikhlaskan semuanya.

Walau tidak seratus persen ia bisa menghilangkan rasanya untuk masa lalunya.

Jika boleh jujur, terkadang Alena merasa menjadi manusia paling jahat.

Mengapa?

Karena sesungguhnya ia belum benar-benar menyelesaikan rasa untuk masa lalunya, padahal kini sudah ada Nathan, sudah ada laki-laki yang jauh lebih baik dari masa lalunya.

Namun, Alena tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk kekasihnya saat ini.

Alena, tetap mencintai Nathan walaupun rasanya tidak seperti ia mencintai Raka dulu.

Entah, Alena tidak bisa memberikan hatinya dengan penuh untuk laki-laki yang kini sedang bersamanya. Mungkin lebih tepatnya belum waktunya.

“Alena”

“Len?”

Tidak ada jawaban dari sang pemilik nama.

“Alena” Ucap Nathan sembari menepuk pelan punggung kekasihnya.

Alena sedikit tersontak, “Hah, ya?” Sahut Alena yang masih dalam dekapan Nathan.

“Kok malah ngelamun?” Tanya Nathan.

“Gak apa-apa”

“Jangan dipikirin dong, kan cuma mimpi. Aku bakalan baik-baik aja” Ujar Nathan.

Alena sedikit mengembangkan senyumnya, “Janji?”

Nathan tersenyum, “Janji”

“Oh iya, Len”

“Hm?”

“Katanya mau” Ujar Nathan sedikit ragu.

“Mau apa?”

“Kiss”

Alena tersenyum, kemudian ia mendongakkan kepalanya melihat ke arah Nathan.

Sebenarnya Nathan sedikit heran, ada apa dengan gadisnya? Selama dua tahun ia menjalankan hubungannya, Alena selalu menolak dan menjauh ketika Nathan mencoba mengecup bibirnya walaupun sekilas.

Nathan tersenyum, senyum manis yang entah sejak kapan menjadi candu bagi Alena.

Nathan sedikit menurunkan kepalanya menghampiri wajah Alena yang masih menyender di dada bidangnya.

Wajah Nathan semakin mendekat dengan wajah Alena, kemudian ia memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir sang gadisnya.

Alena sedikit terkejut ketika Nathan mencoba menelusupkan lidahnya. Namun, Alena akhirnya mulai menerima dan menutup matanya, merasakan dan mengikuti permainan bibir yang Nathan berikan.

For the first time.

Nathan, laki-laki berkaus hitam itu sudah duduk manis dengan memainkan ponselnya di ruang tv apartemen kekasihnya.

Orang tua Alena memang tidak mengizinkan putrinya itu untuk tinggal dan menyewa kost-an, seingga orang tuanya memilih menyewakan apartemen untuk putrinya tempati di Jogja. Namun, karena kondisinya yang memiliki asma, Alena tidak tinggal sendiri, melainkan ada sahabatnya yang menemaninya. Siapa lagi kalau bukan Indira.

Alena dan Indira memang sudah berteman baik sejak menduduki bangku SMP, dan ketika SMA mereka berjanji untuk tinggal bersama jika mereka berdua diterima di PTN yang mereka ambisi bersama. Dan akhirnya, mereka pun diterima di sebuah PTN yang berada di Kota Jogja yang sejak lama sudah mereka impikan bersama.

Apartemen ini tidak terlalu besar, hanya memiliki tiga ruangan yaitu ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang TV, kamar tidur dengan kamar mandi di dalamnya dan dapur.

Sebenarnya Alena hanya ingin menyewa kost-an, namun orang tuanya sangat tidak mengizinkannya. Berbeda dengan Nathan, yang menyewa kost-an di daerah yang lumayan dekat dengan apartemen Alena.

Alena menghampiri Nathan, dengan tangannya yang sudah membawa dua kotak susu dan beberapa ciki-cikian.

“Si Indira lagi ke mana? Kok sepi banget?” Tanya Nathan.

“Lagi keluar sama Agum kali” Jawab Alena asal.

Nathan mengangguk-nganggukan kepalanya, kemudian bertanya kembali, “Mau jalan ke mana?” Tanya Nathan.

Alena membuka satu kotak susu dan meneguknya. Setelah itu ia menjawab pertanyaan Nathan, “Terserah” Jawab Alena sembari menggeser duduknya mendekat kepada Nathan dan menyenderkan kepalanya di dada bidang laki-laki itu.

Alena merubah posisinya, menidurkan kepalanya di atas paha Nathan dan meluruskan kakinya ke atas sofa.

“Nath” Ujar Alena.

Hanya gumaman yang Nathan jawab, “Hm?”

“Masa semalem aku mimpi, ga enak banget lagi mimpinya” Ujar Alena membuka topik obrolan.

“Mimpi apa?”

Alena terdiam, sehingga membuat Nathan melihat ke arahnya.

“Pesawat yang kamu naikin, kecelakaan” Ujar Alena.

Nathan semakin menatap Alena dalam, kemudian terkekeh “Ah, cuma mimpi”

“Iya, tapi jelek banget mimpinya”

Tidak ada jawaban lagi dari Nathan.

“Nath, ih”

“Apa?” Tanya Nathan.

“Kamu yakin mau ke Jakarta besok?”

“Ya jadi lah, emang kenapa?”

“Perasaan aku jadi ga enak” Ucap Alena.

Nathan menghembuskan napasnya, “Gara-gara mimpi itu?”

Alena merubah posisinya menjadi duduk, tegak menghadap Nathan, “Iya” Ucapnya.

Nathan tersenyum tipis, “Gak apa-apa, Alena” Ujar Nathan sembari meraih bahu Alena dan menyenderkannya di dada bidangnya.

“Kalo kata orang tua, mimpi itu cuma bunga tidur, gak apa-apa” Ujar Nathan menenangkan Alena.

“Tapi aku takut”

“Kalo beneran kejadian, gimana?” Tanya Alena.

Nathan menghembuskan napasnya, mengusap halus kepala Alena, “Hei, itu cuma mimpi, Alena. Gak apa-apa. Kamu doain aja biar aku selamat sampai tujuan”

Alena terdiam.

Entah, mengapa ada rasa khawatir yang menyelimuti hatinya. Ia takut, jika mimpinya menjadi kenyataan.

Sudah tiga tahun semenjak hubungannya berakhir dengan Raka, dan sudah dua tahun ia menjalankan hubungannya dengan Nathan. Artinya, gadis itu membiarkan hatinya kosong tanpa ada pemilik selama satu tahun semenjak hubungannya berakhir dengan Raka.

Jujur saja, tidak mudah untuk melenyapkan rasanya pada pria bernama Raka itu. Tiap malam, ia selalu dihantui rasa takut. Takut jika ia tidak akan pernah bisa melepaskan rasanya.

Namun, ada sosok yang hebat yang mampu membantu dirinya dengan perlahan menghilangkan rasa cinta untuk masa lalunya.

Sosok itu adalah Nathan.

Nathan yang selalu menguatkan Alena, Nathan yang selalu ada untuk Alena ketika Alena lagi-lagi merasa tidak mampu untuk menghilangkan rasanya.

Hingga satu tahun penuh Alena berhasil mengikhlaskan semuanya.

Walau tidak seratus persen ia bisa menghilangkan rasa untuk masa lalunya.

Jika boleh jujur, terkadang Alena merasa menjadi manusia paling jahat.

Mengapa?

Karena sesungguhnya ia belum benar-benar menyelesaikan rasa untuk masa lalunya, padahal kini sudah ada Nathan, sudah ada laki-laki yang jauh lebih baik dari masa lalunya.

Namun Alena tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk kekasihnya saat ini.

Alena, tetap mencintai Nathan walaupun rasanya tidak seperti ia mencintai Raka dulu.

Entah, Alena tidak bisa memberi dengan penuh hatinya untuk laki-laki yang kini sedang bersamanya. Mungkin lebih tepatnya belum waktunya.

“Alena”

“Len?”

Tidak ada jawaban dari sang pemilik nama.

“Alena” Ucap Nathan sembari menepuk pelan punggung kekasihnya.

Alena sedikit tersontak, “Hah, ya?” Sahut Alena yang masih dalam dekapan Nathan.

“Kok malah ngelamun?” Tanya Nathan.

“Gak apa-apa”

“Jangan dipikirin dong, kan cuma mimpi. Aku bakalan baik-baik aja” Ujar Nathan.

Alena sedikit mengembangkan senyumnya, “Janji?”

Nathan tersenyum, “Janji”

“Oh iya, Len”

“Hm?”

“Katanya mau” Ujar Nathan.

“Mau apa?”

“Kiss”

Alena tersenyum, kemudian ia mendongakkan kepalanya melihat ke arah Nathan.

Sebenarnya Nathan sedikit terheran, ada apa dengan gadisnya? Selama dua tahun ia menjalankan hubungannya, Alena selalu menolak dan menjauh ketika Nathan mencoba mengecup bibirnya walaupun sekilas.

Nathan tersenyum, senyum manis yang entah sejak kapan menjadi candu bagi Alena.

Nathan sedikit menurunkan kepalanya menghampiri wajah Alena yang masih menyender di dada bidangnya.

Wajah Nathan semakin mendekat dengan wajah Alena, kemudian ia memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya pada bibir sang gadisnya.

Alena sedikit terkejut ketika Nathan mencoba menelusupkan lidahnya. Namun, Alena akhirnya mulai menerima dan menutup matanya, merasakan dan mengikuti permainan bibir yang Nathan berikan.

Sebuah adegan yang disebut ‘rindu’

“Len, aku pulang ke kost dulu, nanti besok kita jalan” Ujar seorang laki-laki yang duduk di atas sofa ruang TV di dalam apartemen gadisnya itu.

“Gak” Ucap gadisnya singkat, yang ternyata duduk di samping laki-lakinya sembari melingkarkan tangannya pada perut milik laki-lakinya itu.

Siapa lagi jika kedua insan itu bukanlah Nathan dan Alena.

Sesuai janjinya, Nathan yang hari ini baru saja tiba dari bandara setelah ia mengunjungi Jakarta, ia segera pergi ke apartemen Alena.

Sudah hampir tiga jam lebih Nathan berada di apartemen gadisnya ini. Namun, Alena tidak mengizinkan ia untuk pulang ke kostnya.

“Nanti besok aku jemput kamu, kita jalan” Ujar Nathan yang lagi-lagi membujuk kekasihnya agar mengizinkan ia untuk pulang.

Tak ada jawaban dari Alena.

“Len, aku izin buat libur dari kampus udah sampe ngelebihin batas, sampe banyak banget tugas yang dosen kasih ke aku. Aku pulang dulu, ya? Banyak kerjaan yang harus aku kelarin” Ujar Nathan menjelaskan, agar Alena mengerti.

Namun namanya Alena, dengan manja malah membenamkan wajahnya ke perut laki-laki yang sedang ia peluk dengan sangat erat itu.

“Ya Tuhan” Ucap Nathan pasrah.

“Alena, aku harus kejar deadline, kamu mau aku dimarahin sama do-“

Cup.

Satu kecupan tepat Alena layangkan di bibir Nathan.

“Bawel” Ucap Alena.

Nathan hanya terdiam, namun sepertinya jantungnya mulai berdetak tidak karuan.

Alena bisa merasakan degupan jantung Nathan yang mulai berdebar kencang, karena pipinya tepat ia taruh di dada bidang milik Nathan.

Mengetahui hal itu, Alena tersenyum. Ia kemudian mengangkat wajahnya, melihat ke arah wajah Nathan.

Alena mulai menghampiri bibir Nathan, hendak mengecupnya kembali, namun Nathan dengan cepat menjauhkan wajahnya.

“Mau ngapain?” Tanya Nathan.

“Kiss” Ucap Alena dengan polosnya.

“Gak, ah” Ujar Nathan melepaskan tangan Alena yang masih melingkar di perutnya.

“Ihh” Ucap Alena dengan nada yang kecewa.

“Seriusan gak mau?” Tanya Alena.

Nathan menggeleng pelan, “Ya udah” Ujar Alena kecewa.

Nathan melihat ke arah wajah Alena, kemudian ia tersenyum.

“Apa?” Tanya Alena yang heran karena Nathan tiba-tiba tersenyum.

Nathan tak menjawab, ia segera mendekatkan wajah dan badannya kepada wanitanya. Nathan mengunci Alena dengan melangkahkan satu tangannya dan menaruhnya di sebelah kanan Alena, namun Nathan masih mempertahankan posisi duduknya.

Nathan mengecup pelan bibir Alena, membuat sang empu terlihat sedikit terkejut.

Nathan kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Alena, ternyata wanitanya paham apa yang ingin laki-lakinya ini lakukan pada bibirnya.

Nathan meraih tengkuk Alena dan Alena yang mulai memejamkan matanya, membiarkan lidah kekasihnya itu masuk ke dalam mulutnya.

Mulai terdengar lenguhan dari Alena, karena lidah Nathan yang semakin bergerak liar.

Nathan melepaskan ciuman itu, membiarkan dirinya dan Alena mengambil napas. Mereka berdua pun terengah.

Mereka menatap satu sama lain, kemudian terbitlah senyuman manis milik Alena. Senyuman yang tak pernah bosan untuk Nathan lihat, senyuman yang selalu menjadi candu bagi Nathan, senyuman yang dulu selalu Nathan idam-idamkan berharap menjadi miliknya dan kini sudah seutuhnya menjadi milik Nathan.

Alena kembali memeluk Nathan dengan erat, mendusel-dusel di dada bidang kekasihnya itu seperti seekor kucing. Tangan Nathan tergerak meraih puncuk kepala Alena, kemudian ia mengelus pelan kepala gadisnya.

“Len, tau gak?” Tanya Nathan tiba-tiba.

“Apa?”

“Aku takut kalo sebentar lagi aku kebangun” Ujar Nathan.

Alena mengerutkan alisnya bingung, “Hah?”

“Aku takut kalo ternyata semua ini cuma mimpi”

Alena tidak merespon ucapan Nathan, ia bingung apa yang sedang dibicarakan kekasihnya ini.

“Aku gak pernah nyangka kalo kamu bisa jadi milik aku” Lanjut Nathan.

Kini, Alena mengerti apa yang dimaksud Nathan, ia kemudian menengok ke arah wajah Nathan. “Gak mimpi, aku emang punya kamu” Ujar Alena.

“Makasih ya, Nathan, udah mau nunggu aku dari saat itu” Ujar Alena lagi.

Nathan mengecup pucuk kepala Alena, kemudian ia tersenyum, senyum yang disertai rasa syukur karena ternyata Semesta mengizinkan dirinya untuk bisa meraih Alena. Memang benar, yang tepat tidak akan datang di awal.

“Oh iya, kamu waktu itu bilang lagi ada pikiran, kenapa? Kamu udah janji mau cerita” Ujar Alena yang menagih janji kekasihnya.

Nathan menghembuskan napasnya, “Mama sama papa lagi berantem terus, bikin mama banyak pikiran. Makannya mama minta aku pulang ke Jakarta sebentar buat nenangin pikirannya” Ujar Nathan menjelaskan.

Alena semakin menatap Nathan, “Terus keadaan mama kamu gimana?”

“Syukurnya gak apa-apa, gak sampe sakit”

Dalam pelukannya, Alena meraih punggung Nathan, ia kemudian mengusapnya pelan.

“Maafin aku” Ucap Alena.

“Buat?”

“Minta kamu buat balik terus ke Jogja”

Sedikit terukir senyuman pada wajah Nathan, “Gak apa-apa sayang,” Nathan perlahan kembali mengusap kepala wanitanya, “Lagian kan kamu gak tau alasan aku ke Jakarta, aku yakin kalo kamu tau pasti kamu gak bakal rewel kaya kemarin” Ujar Nathan.

“Mama juga gak kenapa-napa kok, ditambah efek kangen aja sama anaknya kali, malah kemarin mama nanyain kabar kamu. Maaf ya, harusnya aku bilang alasan aku pulang ke Jakarta” Ujar Nathan kembali menjelaskan.

Belum sempat Alena menjawab, tiba-tiba saja terdengar tanda suara pin pintu yang terverifikasi, sehingga pintu apartemen Alena terbuka dan masuklah sahabat Alena. Siapa lagi kalau bukan Indira.

Mengetahui Indira yang tiba-tiba datang, Alena dan Nathan dengan cepat melepaskan pelukannya. Mereka sangat terkejut.

Namun, sepertinya Indira sudah melihat apa yang sedang dilakukan sepasang kekasih ini.

So-sorry” Ucap Indira yang kemudian hendak kembali keluar.

“Eh, gue udah mau balik kok” Ujar Nathan tiba-tiba yang membuat Indira menghentikan langkahnya.

Nathan kembali menatap Alena, “Aku pulang, ya” Ujar Nathan.

Alena menganggukkan kepalanya, kemudian Nathan memupuk pelan kepala Alena.

“Hati-hati” Ucap Alena.

“Gue pamit ya, Dir” Ucap Nathan yang tak lupa berpamitan dengan sahabat Alena.

Laki-laki itu kemudian segera melangkahkan kakinya pergi dari apartemen Alena. Jangan ditanya perihal koper atau tas yang ia bawa, karena dari bandara ia sudah memulangkan dahulu barang-barang bawaannya ke kostnya melalui Grab.

Indira menghembuskan napasnya, “Nasib-nasib, se-apart sama lo mergokin orang cuddle mulu” Ujar Indira.

Lost

Siang yang tidak terlalu cerah, yang menampilkan langit gelapnya pertanda akan turun hujan seolah mewakili perasaan seorang gadis yang kini sedang berlari menuju parkiran sekolah, menghampiri laki-laki yang sedang duduk di atas motornya dengan sebuah ponsel di tangannya.

“Raka” Ujar gadis itu saat tiba di depan laki-laki yang ia panggil Raka.

Raka hanya menengok dengan tatapan malasnya.

Sekarang adalah jam pulang sekolah, dan lingkungan sekolah ini sudah cukup sepi, di parkiran pun hanya ada mereka berdua.

Gadis itu masih sedikit terengah-engah karena ia baru saja berlari untuk menghampiri Raka, “Kamu kenapa dari tadi ngejauh terus? Aku mau ngomong” Ujar Alena.

Gadis itu adalah Alena.

Tak ada respon dari Raka, ia masih menatap gadis yang ada di hadapannya dengan tatapan malasnya.

“Raka..”

Lagi-lagi tak ada respon, bahkan si pemilik nama malah melanjutkan memainkan ponselnya.

“Raka dengerin aku dulu” Ucap Alena yang berhasil mengambil ponsel Raka dari tangannya.

“Balikin” Ucap Raka.

“Raka, kamu salah paham”

“Balikin!” Ucap Raka dengan nada yang cukup membentak.

Alena terkejut, ini adalah pertama kalinya Raka mengucapkan sesuatu dengan nada yang membentak pada dirinya.

“Raka, kamu tau kenapa malam itu aku bisa di pantai sama Nathan?” Tanya Alena.

Raka menghembuskan napasnya disertai dengan senyum sinisnya, “Gak tau, dan gak mau tau. Soalnya bukan urusan gue lagi”

“Nathan kirim foto kamu sama Naya” Alena tetap memberitahu alasannya.

“Raka, kita hampir genap dua tahun, kan? Dua bulan lagi hubungan kita tepat dua tahun, kan?” Tanya Alena yang tak mendapati jawaban dari Raka.

“Udah satu bulan ya, semenjak kamu cium Naya?” Tanya Alena membuat Raka sedikit tersentak.

“Apa selama satu bulan ini aku ada marah sama kamu?”

“Apa semenjak aku tau semuanya, aku minta buat ngakhirin ini semua?”

“Jawab, Raka”

Raka menundukkan kepalanya, kemudian ia menerbitkan senyum yang tak bisa diartikan.

“Oh, lo udah tau tentang itu? Syukur deh” Ujar Raka.

Mendengar jawaban dari Raka, Alena terkejut. Kenapa laki-lakinya ini menjawab seperti itu?

“Raka..”

“Apa? Gak ada bedanya kan gue sama lo?”

“Gue juga sebenernya capek tau gak? Gue yang berusaha selalu jagain lo, berusaha nahan malu sama pertanyaan orang kenapa gue mau pacaran sama cewek penyakitan kaya lo, yang udah sering banget jadi bahan gibah di base gara-gara lo, eh lo malah enak-enakan pelukan sambil menikmati pantai sama Nathan. Waras lo?”

Sakit, sangat sakit ketika Alena harus mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari mulut laki-laki yang sangat ia cintainya.

“Raka...”

“Aku udah bilang kan sebelumnya? Kalo kamu malu punya aku, bilang dan terus terang sama aku, bukan gini caranya” Ujar Alena yang matanya kini mulai berkaca-kaca.

Raka tidak merespon perkataan dari Alena, laki-laki itu malah meminta Alena untuk mengembalikan ponselnya.

“Balikin hp gue, gue mau telfon Naya”

“Kamu mau ngapain, Raka?” Tanya Alena.

“Ya, mau ngapain aja. Suka-suka gue, kan? Emang sekarang lo siapa gue?”

Jujur saja, Alena tidak kuat untuk menahan air matanya. Dadanya mulai terasa sesak saat ia mendengarkan perkataan yang sebelumnya tidak pernah Raka katakan padanya.

“Oke...”

Let’s break up” Ujar Alena yang ternyata satu tetes air matanya mulai jatuh membasahi pipi cantiknya.

Plak!

Satu tamparan tepat mendarat di pipi kanan Raka.

Alena sangat terkejut ketika Nathan yang tiba-tiba datang dan langsung menampar Raka dengan keras.

“Cocot lo kendor banget” Ucap Nathan yang kemudian meraih tangan Alena dan segera membawanya pergi, sehingga ponsel milik Raka yang masih ada di tangan Alena pun tak sengaja ia jatuhkan karena tangannya yang tiba-tiba ditarik oleh Nathan.

Feelings

Khawatir, itulah yang kini sedang laki-laki itu rasakan.

Laki-laki yang sedang menyetir motor scoopynya dengan rasa khawatir kepada perempuan yang sedang ia bonceng saat ini.

Bagaimana tidak khawatir? Alena, perempuan yang selalu menjadi pengisi ruang di hati Nathan tiba-tiba saja mengajaknya keluar setelah ia mengirimkan foto sang kekasihnya sedang bersama wanita lain, lebih tepatnya sedang mencumbu bibir wanita lain.

Udara malam yang lumayan dingin dan perempuan itu tidak memakai jaket pun menambah kekhawatiran Nathan.

“Mau ke mana?” Tanya Nathan memecahkan keheningan dalam perjalanannya.

“Terserah” Jawab Alena.

Aneh, padahal dia sendiri yang mengajaknya keluar. Dasar perempuan.

“Udah makan malem belum?” Tanya Nathan lagi.

“Belum”

“Makan dulu aja ya, makan di warung pecel lele mau?”

“Gak”

“Nasi goreng?”

“Gak”

“Soto? Enak nih malem-malem gini makan soto anget”

“Aku gak mau makan, Raka”

Raka? Kenapa Wanita itu menyebut nama Raka?

“Len..”

“Apa?” Tanya Alena.

Nathan tidak menjawab lagi, namun sepertinya Alena sadar atas ucapan sebelumnya.

“Maaf” Ucap Alena.

Tidak ada percakapan lagi di antara mereka berdua.

Nathan memberhentikan motornya di sebuah warung soto yang ada di pinggir jalan.

“Nathan, gue gak mau makan” Ujar Alena.

“Siapa yang nyuruh lo makan? Gue yang mau makan”

Mendengar jawaban Nathan, Alena mengerucutkan bibirnya membuat Nathan berusaha menahan senyumnya karena merasa gemas melihat Alena.

Alena terus menatap Nathan saat laki-laki itu sedang menyantap sotonya.

Nathan yang sadar akan itu segera menoleh ke arah Alena, “Mau?” Tanya Nathan.

Alena mengalihkan pandangannya dari Nathan, kemudian menggeleng.

“Udah gak usah bohong, laper kan lo? Gue pesenin”

Kini Alena tidak protes dengan tawaran Nathan dan Nathan pun segera memesankan satu porsi soto berisikan lontong lagi kepada sang penjual.

Alena menyantap habis sotonya, padahal tadi ia membantah tidak mau makan.

“Dasar cewek” Ujar Nathan pelan, bahkan tidak terdengar oleh Alena.

Setelah selesai memakan soto, mereka kembali melanjutkan perjalanannya yang tanpa tujuan itu.

Namun, tiba-tiba Nathan membelokkan motornya ke arah menuju pantai yang ada di kota ini.

Benar saja, Nathan membawa Alena ke sebuah pantai.

Saat sudah memarkirkan motornya, Nathan terus berjalan sampai di tepi pantai.

Alena pun menyusul Nathan dan ketika ia tepat berada di belakang Nathan, lekaki itu segera membalikkan tubuhnya dan melepas jaketnya.

Nathan menyodorkan jaketnya kepada Alena, “Pake, dingin”

“Nanti lo kedinginan juga” Ujar Alena.

“Gak bakal”

Alena meraih jaket itu dan segera memakainya.

Hangat, itu yang kini Alena rasakan.

Malam itu, Alena dan Nathan hanya berdiri memandangi pantai. Tak ada percakapan apa pun, hanya ada suara desiran ombak yang menemani mereka sekarang.

Dua kepala yang masing-masing diisi dengan pikiran-pikiran dan sebuah kehawatiran.

Alena dengan pikirannya yang entah apa, mungkin memikirkan mengapa malam ini Raka pergi ke timezone bersama Naya tanpa sepengetahuannya?

Dan, Nathan dengan segala kehawatirannya terhadap wanita yang ada di sampingnya sekarang.

Khawatir jika terjadi apa-apa kepada wanita itu, yang bisa Nathan pastikan dari raut wajahnya sedang menghawatirkan laki-lakinya.

“Nath” Ujar Alena.

“Hm?”

“Lo capek gak sih punya rasa sama gue?”

“Capek”

Alena menoleh kepada Nathan.

“Tapi harus gimana lagi, iya kan?” Sambung Nathan.

“Raka sayang gak ya sama gue?” Tanya Alena tiba-tiba.

Nathan tersenyum kecut. Bahkan wanita yang ada di sampingnya saat ini menanyakan hal seperti itu.

Apakah Alena tidak menyadari bahwa pertanyaannya bisa melukai hati lelaki yang ada di sampingnya saat ini?

“Gak tau, gue gak bisa baca pikiran orang. Coba lo tanya langsung ke Raka” Jawab Nathan.

“Ish” Ucap Alena sembari menatap Nathan sinis.

“Lo ngapain tiba-tiba ngajak gue keluar malem-malem?” Tanya Nathan.

“Gak apa-apa sih, lagi pengen keluar aja”

“Mentang-mentang cowok lo lagi sama Naya, lo larinya ke gue” Ujar Nathan.

Alena sedikit tersinggung dengan jawaban Nathan.

Alena menghembuskan napasnya, memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin malam di pantai ini.

Nathan menatap Alena. Menatap seorang wanita yang mungkin sampai kapan pun tak akan pernah bisa ia gapai.

“Susah ya, buat gapai lo” Ujar Nathan dalam lubuk hatinya.

Alena masih memejamkan matanya, tangan nathan tergerak untuk meraih pundak Alena. Rasanya ingin membawanya ke dalam dekapannya dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.

Namun belum saja ia sampai meraih pundak perempuan itu, ia langsung menjauhkan tangannya dari pundak Alena. Lagi-lagi kenyataan itu seolah melarang Nathan untuk menyentuh Alena.

“Peluk aja, kalo mau” Ucap Alena tiba-tiba.

Nathan terkejut, bagaimana Alena bisa tau? Padahal ia sedang memejamkan matanya.

Alena pun segera meraih tangan Nathan dan melingkarkannya di pundaknya, kemudian ia juga melingkarkan tangannya ke perut Nathan dan meletakkan kepalanya di dada bidang laki-laki berkaus hitam itu.

Nathan benar-benar terkejut, namun ia tidak bisa membohongi rasa senangnya.

Tangan Nathan mulai terangkat dan menepuk-nepuk dengan pelan pundak wanita yang kini ada di dalam dekapannya.

“Kaya gini lima menit aja, boleh gak sih?” Tanya Alena.

“Boleh” Hanya itu jawaban Nathan. Padahal, bahkan mau sampai berjam-jam pun ia tidak masalah.

“Len..”

“Hm?”

“Everything will be ok” Ujar Nathan.

“Nath”

“Ya?”

“Makasih” Ucap Alena.

“Anytime, Len”