haechanketawa

Goresan luka pertama.

Kia berjalan melewati koridor kampus, dengan tangan kanannya yang membawa sebuah cup kopi berisi kopi hangat dan tangan kirinya memegang ponsel. Gadis itu berjalan sembari memainkan ponselnya.

Hingga tiba-tiba dari arah yang berlawanan, Kia tak sengaja menabrak seorang perempuan yang juga berjalan sembari memainkan ponselnya.

Kopi milik Kia tumpah membasahi baju perempuan yang baru saja ditabraknya.

Tak hanya itu, ponsel milik Kia pun terjatuh di lantai, hingga layar ponselnya terlihat sedikit retak.

Perempuan yang ditabraknya itu mengambil ponsel milik Kia, kemudian menyodorkannya pada Kia.

Kia meraih ponselnya, seraya berkata, “Kak, maaf. Aduh gimana ya, bajunya jadi kotor semua.” Ujar Kia yang panik melihat baju perempuan itu kotor karena tersiram air kopi miliknya.

“Ngga apa-apa, Ki. Gue bawa baju ganti kok.”

Kia menatap perempuan itu, dan ternyata dia adalah Silla.

“Silla?”

“Silla, maaf aku tadi jalan sambil mainin handphone. Ke kamar mandi ya, aku bawa baju ganti. Nanti kamu pake aja, terus baju kotornya aku bawa biar aku cuci.” Ujar Kia sedikit panjang lebar karena ia masih panik.

Silla tersenyum, “Ngga usah, ngga apa-apa. Gue juga bawa baju ganti kok. Gue juga tadi jalan sambil mainin handphone.” Ujar Silla.

“Ya udah kalo kamu bawa baju ganti, tapi baju kotornya aku bawa, biar aku cuci.

“Ngga apa-apa kia, ngga usah-“

“Silla.” Ucapan Silla terpotong karena ada seseorang yang memanggilnya.

“Evan? Lo katanya udah mau pergi sama-“

“Baju lo kenapa?” Lagi-lagi ucapan Silla terpotong.

“Ngga apa-apa, ketumpahan kopi dikit.” Jawab Silla.

Evan melihat tangan Kia yang sedang membawa sebuah cup minuman, sehingga mengerti apa yang baru saja terjadi.

“Oh, lo nabrak Silla?” Tanya Evan pada Kia.

“Iya, tadi aku ngga sengaja. Tapi salah aku juga kok, tadi aku jalan sambil main-“

“Lo pinter drama ya.” Lagi-lagi Evan memotong pembicaraan lawan bicaranya.

“Sengaja kan lo?”

Kia menggeleng, “Ngga, aku ngga sengaja.”

“Lo ngga suka sama Silla, jadi lo sengaja nabrak dia sampe numpahin minuman lo ke bajunya, kan?”

“Udah, Evan. Orang Kia ngga sengaja kok.”

“Lo diem aja.” Ucap Evan pada Sila yang mulai menahannya.

“Gue tau lo kesel sama gue gara-gara gue nyuruh lo stop buat naro makanan di locker gue, tapi ngga gini juga cara lo ngebalesnya.”

“Lo diem-diem licik juga, ya.” Ujar Evan.

“Van, Kia ngga salah, tadi dia ngga sengaja nabrak gue. Gue juga salah tadi jalan sambil main handphone.” Ujar Silla membela Kia.

“Gue bilang lo diem aja.” Ucap Evan pada Silla dengan penuh penekanan.

“Lo ngga suka sama Silla gara-gara dia deket sama gue? Iya?”

Tak ada jawaban dari Kia, gadis itu mulai menundukkan kepalanya.

“Lo sadar ngga sih, kalo lo murahan? Padahal lo udah punya cowok, masih aja gangguin cowok lain.”

“Inget ya, jangan gangguin Silla. Kalo lo ngga suka sama gue, ya urusan lo sama gue, bukan sama Silla.”

“Muka lo yang lugu bisa nipu banyak orang, ya? Kelakuan lo bertolak belakang banget sama muka lo yang so polos.” Ujar Evan.

Banyak orang yang mulai menghampiri dan menonton Evan yang sedang memarahi Kia.

Saat Evan sedang mengeluarkan segala perkataan yang membuat hati Kia terluka, Kia menatap sebuah gelang tali yang melingkar di pergelangan tangan Evan. Gelang yang dahulu pernah Kia berikan pada Evan sebagai tanda persahabatannya, ternyata masih dipakai oleh laki-laki itu.

Semua memori saat ia dan Evan masih berumur dua belas tahun terputar di otaknya. Teringat bagaimana dulu Kia membela dan melindungi laki-laki lemah itu dari Aldo dan semua orang yang mencoba menjahatinya.

Namun kini, apa balasan laki-laki itu? Hanya hal sepele yang tak sengaja Kia lakukan pun, Evan sampai memakinya di depan banyak orang.

Jangan ditanya, tentu sangat sakit.

Silla sedikit terkejut dengan apa yang baru saja Evan ucapkan, ia merasa tidak enak pada Kia.

“Lo kok ngomong gitu sih? Gue udah bilang Kia ngga salah.” Ucap Silla pada Evan.

Evan menatap Kia dengan tatapan tajamnya, menampilkan raut wajah yang sedang menahan amarahnya.

Evan kemudian menarik tangan Silla, membawanya pergi dari hadapan Kia.

Me time.

Kia berbohong pada kekasihnya bahwa ia akan pulang bersama Eca. Nyatanya, gadis itu kini sedang duduk manis di sebuah cafe dan tentunya hanya seorang diri, tanpa ditemani Eca. Posisinya yang di samping jendela membuat gadis itu sedang menatap jendela kaca yang lebar, memandang suasana di luar cafe yang lumayan ramai.

Pesan dan ucapan-ucapan yang Evan kirim tadi lah yang membawanya sampai pada cafe ini. Jujur saja, Kia merasa sedih ketika teman kecil yang ia sudah sangat hafal bagaimana sifatnya yang sangat baik dulu, kini mengeluarkan segala perkataan yang membuat hatinya sedikit sakit.

Bukan, bukan sedikit sakit. Kia memang merasakan sakit di hatinya ketika ia harus menerima pesan yang Evan kirim.

Ah, iya. Kia sudah hampir tujuh tahun tidak bertemu dengan Evan. Manusia bisa saja berubah, bukan?

Saat Kia merasa hatinya sedang tidak baik, ia akan mengambil waktunya untuk dirinya sendiri. Mencoba menenangkan dan mencoba mengembalikkan suasa hati yang baik dengan cara pergi ke suatu tempat sendiri, tanpa ditemani atau tanpa ada teman yang bisa diajak untuk berbincang.

Sudah cukup lama Kia hanya duduk dan memandangi jendela cafe itu, tanpa meminum minuman pesanannya yang sedari tadi sudah ada di mejanya.

Hingga tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri mejanya.

“Halo.” Ucap laki-laki itu.

Kia tak menyahut, gadis itu terlihat masih fokus dengan pandangannya yang terus menatap jendela.

“Halo, Kia?”

“Nakia?”

Karena masih tak ada respon dari Kia, laki-laki tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah Kia, sehingga pandangan Kia teralihkan ke wajah laki-laki itu karena kepalanya yang menutupi pemandangan jendela.

Laki-laki itu pun tersenyum ketika Kia terkejut.

“Maaf.” Ujar laki-laki itu.

“Lo Nakia, ya?”

“Eh? Iya.” Jawab Kia.

Senyum laki-laki berjaket hitam itu masih mengembang, “Masih inget gue?” Tanyanya.

Kia mengerutkan dahinya, mencoba mengingat siapa laki-laki yang ada di hadapannya.

Ah, iya. Dia ingat sekarang.

“Aldo?”

Laki-laki itu tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.

Laki-laki berbadan tinggi itu adalah Aldo Galendra. Teman kecil Kia saat ia masih di Bandung dulu.

Kia masih menatap Aldo tidak menyangka, karena bisa bertemu di sini. Wajahnya yang sudah cukup berbeda sampai ia pun hampir tidak mengenalinya.

“Gue boleh duduk di sini?” Tanya Aldo.

“Boleh, duduk aja.” Jawab Kia.

Aldo duduk di kursi yang ada di hadapan Kia. Mereka saling menanyakan kabar yang kemudian dilanjutkan dengan obrolan-obrolan lainnya.

Dinner.

Seperti yang Fajar bilang sebelumnya, Hari Sabtu, malam Minggu, bunda Kia mengajak Fajar dan Kia untuk makan malam bersama.

Karena Kia tinggal bersama ayahnya, dan tidak satu rumah dengan bundanya dikarenakan bunda dan ayahnya yang berpisah, jadi mereka makan malam di rumah milik bundanya Kia.

Mereka sudah menghabiskan hidangan makan malamnya, dan kini sedang memakan hidangan penutupnya sembari berbincang kecil.

“Jar, kamu sekitar kurang dari tiga semester lagi udah mulai skripsi, ya?” Tanya bunda Kia.

“Iya, tante.” Balas Fajar, tak lupa disertai dengan senyumnya.

Bunda Kia mengangguk-ngangguk, “Bagus-bagus, jangan dibawa stres ya, enjoy aja. Ada Kia nih yang siap nemenin kamu.”

Kia dan Fajar tertawa kecil, “Kiki mah walaupun aku ngga lagi skripsian juga selalu nemenin aku, tante.” Ujar Fajar.

“Kalo kalian udah selesai kuliah, cepet-cepet lah ya tuker cincin.” Ujar bunda Kia.

“Bunda, apaan sih.”

Lagi-lagi Fajar tertawa, “Siap, tante. Tenang aja.”

Malam itu, mereka banyak berbincang yang selalu dihiasa dengan tawa bahagia.

Kia sudah menjalankan hubungannya dengan Fajar hampir selama dua tahun, semenjak Kia menduduki bangku kelas dua SMA.

Fajar yang selalu memperlakukan Kia dengan baik, selalu menjaga Kia, selalu ada di sisi gadisnya, selalu bisa menjadi penenang ketika Kia merasa lelah dengan pahitnya hidup dan selalu menjadi tempat pulang terbaik untuk gadisnya. Hal itu membuat bundanya juga menyayangi kekasih anaknya itu sudah seperti anak sendiri.

Memang Fajar menantu idaman.

Makam Ibu.

“Udah? Mau pulang?” Tanya Evan yang berada di samping Silla yang sedari tadi menatap batu nisan milik makam ibunya.

“Belum.” Jawab Silla.

“Udah mau hujan, La”

Tak ada jawaban dari Silla, perempuan itu malah menundukkan kepalanya dalam, meremas kuat baju yang dikenakannya.

“La?”

“La, udah..” Evan sadar apa yang sedang dirasakan wanita itu.

Evan meraih pundak Silla, memupuknya pelan, memberinya ketenangan.

“Ibu lo udah tenang di sana. Udah ah, jangan nangis.”

Tanpa sadar, mata milik Evan pun mulai ikut mengeluarkan buliran air matanya. Seolah apa yang sedang dirasakan oleh Silla pun turut ia rasakan.

“Tadi pas di mobil gue udah bilang berkali-kali, kan? Nanti kalo udah nyampe di sini, lo harus kuat, jangan nangis.” Ujar Evan.

“Gue..”

“Pengen ketemu ibu.” Lirih Silla yang membuat air matanya semakin deras.

“La, lo nangis gini di depan tempat istirahat ibu, nanti malah bikin ibu sedih.”

“Lo harus ikhlas La, Biar ibu bisa tenang.”

“Udah, ya? Kita pulang.”

Silla meneggakkan kepalanya kembali, menampilkan pipinya yang cukup basah akibat tangisannya, kemudian ia menuruti perkataan Evan. Silla kembali menyentuh batu nisan milik ibunya dan berpamitan kepada ibunya.

Mereka kemudian kembali menuju mobil yang diparkirkan tidak jauh dari lokasi makam ibu Silla.

Saat mereka sudah di dalam mobil dan sebelum Evan melajukan mobilnya, satu tangan milik laki-laki itu meraih wajah Silla.

“Coba liat sini dulu.” Ucap Evan.

Silla menengokan wajahnya ke arah Evan, “Tuh, kan. Lo tuh udah jelek, kalo nangis malah makin jelek.” Ujar Evan membuat sang lawan bicara melayangkan pukulannya tepat di bahu Evan.

“Rese.” Ujar Silla.

Evan meringis, namun di detik selanjutnya ia mengeluarkan tawanya, “Emang lo jelek.”

Silla tak menggubrisnya, merasa malas dengan tingkah laki-laki ini.

“Jangan ngambek ah, sini.” Ujar Evan sembari menarik lengan Silla, membawanya ke dalam pelukannya.

“Evan,”

“Hm?”

Silla ingin sekali menanyakan hal ini, hal yang sering Silla tanyakan pada pria yang sedang memeluknya. Namun jujur saja, sangat berat, karena ia tau apa yang akan menjadi jawabannya.

“Kita ini..”

“Sebenarnya apa?”

“Udah? Mau pulang?” Tanya Evan yang berada di samping Silla yang sedari tadi menatap batu nisan milik makam ibunya.

“Belum.” Jawab Silla.

“Udah mau hujan, La.”

Tak ada jawaban dari Silla, perempuan itu malah menundukkan kepalanya dalam, meremas kuat baju yang dikenakannya.

“La?”

“La, udah..” Evan sadar, apa yang sedang dirasakan wanita itu.

Evan meraih pundak Silla, memupuknya pelan, memberinya ketenangan.

“Ibu lo udah tenang di sana. Udah ah, jangan nangis.”

Tanpa sadar, mata milik Evan pun mulai ikut mengeluarkan buliran air matanya. Seolah apa yang sedang dirasakan oleh Silla pun turut ia rasakan.

“Tadi pas di mobil gue udah bilang berkali-kali, kan? Nanti kalo udah di sini, lo jangan nangis.” Ujar Evan.

“Gue..”

“Pengen ketemu ibu.” Lirih Sila yang membuat air matanya semakin deras.

“La, lo nangis gini di depan tempat istirahat ibu, nanti malah bikin ibu sedih.”

“Lo ngga pernah sekali aja kalo ke sini ngga nangis. Lo harus ikhlas La, Biar ibu lo tenang.”

“Udah, ya? Kita pulang.”

Silla menegakkan kepalanya kembali, menampilkan pipinya yang cukup basah akibat tangisannya, kemudian ia menuruti perkataan Evan. Silla kembali menyentuh batu nisan milik ibunya dan berpamitan kepada ibunya.

Mereka kemudian kembali menuju mobil yang diparkirkan tidak jauh dari lokasi makam ibu Silla.

Saat mereka sudah di dalam mobil dan sebelum Evan melajukan mobilnya, satu tangan milik laki-laki itu meraih wajah Silla.

“Coba liat sini dulu.” Ucap Evan.

Silla menengokan wajahnya ke arah Evan, “Tuh, kan. Lo tuh udah jelek, kalo nangis malah makin jelek.” Ujar Evan membuat sang lawan bicara melayangkan pukulannya tepat di bahu Evan.

“Rese.” Ujar Sila.

Evan meringis, namun di detik selanjutnya ia mengeluarkan tawanya, “Emang lo jelek.”

Silla tak menggubrisnya, merasa malas dengan tingkah laki-laki ini.

“Jangan ngambek ah, sini.” Ujar Evan sembari menarik lengan Silla, membawanya ke dalam pelukannya.

“Evan,”

“Hm?”

Silla ingin menanyakan hal ini. Namun jujur saja, sangat berat. Karena ia tau apa yang akan menjadi jawabannya.

“Kita ini..”

“Sebenarnya apa?”

Kia duduk di sebuah bangku yang ada di depan kelasnya, kemudian ia membuka ponselnya sembari menunggu kedatangan Eca.

Kia mengayunkan kakinya dan rambutnya yang diikat kebelakang itu membuatnya seperti anak kecil yang sedang menunggu ibunya menjemput.

Pandangan yang semula fokus pada ponsel yang sedang dimainkannya, seketika teralihkan saat nalurinya menangkap laki-laki yang memakai jeans putih lewat di hadapannya.

Kia menengok ke arah laki-laki yang baru saja melewatinya, ia kemudian mengejar laki-laki itu.

“Epan!” Ucapnya setengah berteriak.

Kia terus mengejar laki-laki itu sampai jarak diantaranya sudah tidak terlalu jauh, kemudian ia menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Evan.

“Kamu baru selesai kelas?” Tanya Kia pada Evan.

Namun, yang ditanya tidak menjawab apapun.

“Epan.”

“Epan!” Ucap Kia membuat sang pemilik nama memberhentikan langkahnya.

Evan melepaskan airpods yang ada di telinganya, ia kemudian menatap Kia dengan tatapan yang tajam.

“Lo ngapain ngikutin gue sih?” Tanya Evan.

“Ya, emang ngga boleh?”

Evan menghela napasnya kasar, “Jangan so akrab deh, gue harus gimana lagi bilang ke lo kalo gue ga kenal sama lo?” Tanya Evan dengan tatapan tajamnya yang tak pernah ketinggalan.

Kia mengembangkan senyumnya ketika mendengar kata-kata yang baru saja Evan ucapkan, “Kamu ngga usah pura-pura lagi deh.”

“Kamu Revan Raditama yang dipanggil Epan, anak Bandung yang lahir tanggal enam Juni, suka makan kiko, dan kamu juga anaknya tante Rena. Iya, kan?” Ujar Kia.

“Evan!” Teriakan seorang gadis berambut panjang yang terurai membuat sang pemilik nama itu menoleh.

Gadis itu adalah Silla.

Silla menghampiri mereka kemudian melihat ke arah Kia, “Eh, masih ngobrol sama temen lo?” Tanya Silla pada Evan.

Silla menyalurkan tangannya untuk mengajak Kia berkenalan “Hai, gue Silla.”

Kia terdiam, ia tau gadis yang sedang mengajaknya bersalaman ini adalah kekasih Evan.

Kia tersenyum kemudian menerima tangan yang Silla ulurkan, “Nakia.”

Senyum yang sedari tadi terukir di bibir Silla seketika luntur. Entah, aneh rasanya setelah mendengar nama dari lawan bicaranya.

Evan yang merasakan kecanggungan ini pun berdeham, membuat keduanya melepaskan tautan salamannya.

Tanpa berkata apapun, Evan langsung meninggalkan dua gadis itu.

“Evan, mau ke mana?” Tanya Silla yang tidak ditanggapi oleh Evan.

“Nakia, gue ke sana ya.” Ucap Silla yang kemudian diangguki oleh Kia. Gadis itu kemudian berlari menyusul Evan.

Kia menatap langkah mereka yang semakin lama semakin menjauh.

“Oh, itu Silla.”

Kia duduk di sebuah bangku yang ada di depan kelasnya, kemudian ia membuka ponselnya sembari menunggu kedatangan Eca.

Kia mengayunkan kakinya, rambutnya yang diikat kebelakang itu membuatnya seperti anak kecil yang sedang menunggu ibunya menjemput.

Pandangan yang semula fokus ke ponsel yang sedang dimainkannya, seketika teralihkan saat nalurinya menangkap seorang laki-laki yang memakai jeans putih lewat di hadapannya.

Kia menengok ke arah laki-laki yang baru saja melewatinya, ia kemudian mengejar laki-laki itu.

“Epan!” Ucapnya setengah berteriak.

Kia terus mengejar laki-laki itu sampai jarak diantaranya sudah tidak terlalu jauh, kemudian ia menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Evan.

“Kamu baru selesai kelas?” Tanya Kia pada Evan.

Namun, yang ditanya tidak menjawab apapun, dan terus melangkahkan kakinya.

“Epan.”

“Epan!” Ucap Kia membuat sang pemilik nama memberhentikan langkahnya.

Evan melepaskan airpods yang ada di telinganya, ia kemudian menatap Kia dengan tatapan yang tajam.

“Lo ngapain ngikutin gue sih?” Tanya Evan.

“Ya, emang ngga boleh?”

Evan menghela napasnya kasar, “Jangan so akrab deh, gue harus gimana lagi bilang ke lo kalo gue ga kenal sama lo?” Tanya Evan dengan tatapan tajamnya yang tak pernah ketinggalan.

Kia mengembangkan senyumnya ketika mendengar kata-kata yang baru saja Evan ucapkan, “Kamu ngga usah pura-pura lagi deh.”

“Kamu Revan Raditama yang dipanggil Epan, anak Bandung yang lahir tanggal enam Juni, suka makan kiko, dan kamu juga anaknya tante Rena. Iya, kan?” Ujar Kia.

“Evan!” Teriakan seorang gadis yang memiliki rambut terurai panjang membuat sang pemilik nama itu menoleh.

Gadis itu adalah Silla.

Silla menghampiri mereka kemudian melihat ke arah Kia, “Eh, masih ngobrol sama temen lo?” Tanya Silla pada Evan.

Silla menyalurkan tangannya untuk mengajak Kia berkenalan “Hai, gue Silla.” Ucapnya dengan senyum yang mengembang.

Kia terdiam, ia tau gadis yang sedang mengajaknya bersalaman ini adalah kekasih Evan.

Kia tersenyum kemudian menerima tangan yang Silla ulurkan, “Nakia.”

Senyum yang sedari tadi terukir di bibir Silla seketika luntur. Entah, aneh rasanya setelah mendengar nama dari lawan bicaranya.

Evan yang merasakan kecanggungan ini pun berdeham, membuat keduanya melepaskan tautan salamannya.

Tanpa berkata apapun, Evan langsung meninggalkan dua gadis itu. Silla yang melihat Evan pergi begitu saja pun pamit kepada Kia.

“Evan, mau ke mana?” Tanya Silla yang tidak ditanggapi oleh Evan.

“Nakia, gue ke sana ya.” Ucap Sil”- yang kemudian diangguki oleh Kia. Gadis itu kemudian berlari menyusul Evan.

Kia menatap langkah mereka yang semakin lama semakin menjauh.

“Oh, itu Silla.”

First day, we meet again.

Karena airpodsnya yang tertinggal di kelas, mau tak mau Kia memutar balik tubuhnya dan berlari kecil kembali menuju ke kelas untuk mengambil airpodsnya.

Sesampainya di kelas, ia menghampiri meja yang sebelumnya ia tempati. Namun, airpods yang terdapat stiker bunga matahari di bagian casenya itu sudah tidak ada di mejanya.

Ia mencari ke kolong meja, bisa saja airpodsnya terjatuh. Namun nihil, ia tak menemukan apa-apa.

Kia menghembuskan napasnya, menunjukan raut wajah yang sedikit khawatir, “Masa diambil orang sih?”

Kia mencoba mencari kembali, walaupun ia masih bisa membelinya lagi, tetapi Kia adalah seseorang yang cukup hemat, ia akan berpikir berkali-kali untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu penting.

Kia terus mencarinya sampai ke kolong-kolong meja, sampai akhirnya ada suara laki-laki yang cukup mengejutkannya.

“Nyari ini?” Tanya seorang laki-laki itu.

Kia yang berada di bawah kolong meja pun terkejut, hingga kepalanya terbentur meja.

“Aduh.” Ringis Kia sembari memegang kepalanya yang terbentur.

Kia keluar dari kolong meja, tangannya masih memegang pucuk kepalanya itu, ia membalikkan tubuhnya menghadap pria yang ada di belakangnya.

Saat ia melihat laki-laki itu, Kia langsung mematung.

Kia tercengang menatap laki-laki berbadan tinggi besar, memakai kemeja abu-abu dan memakai topi.

“Lo nyari ini, kan?” Laki-laki itu mengulang pertanyaannya sembari menyodorkan sebuah airpods milik Kia.

Kia tidak menggubris pertanyaan laki-laki itu dan masih menatapnya dengan raut wajah yang sedikit terkejut.

“Hei.” Ucap laki-laki itu sembari memetikkan jarinya di hadapan wajah Kia, membuat Kia sedikit terkejut.

“Eh?”

“Lo nyari ini, kan?” Tanya laki-laki itu lagi.

“I-iya,”

Kia meraih airpodsnya dan matanya kembali menatap laki-laki itu.

“Makasih.” Ucap Kia.

Laki-laki berbadan tinggi itu membalikkan tubuhnya dan mulai melangkah pergi hendak meninggalkan kelas ini.

“Epan.”

Langkah laki-laki yang Kia sebut Epan itu terhenti.

Kia menghampirinya, “Kamu..”

Laki-laki itu membalikkan tubuhnya menghadap Kia, “Epan, kan?” Lanjut Kia.

Laki-laki tersebut menghela napasnya, “Pake V, bukan P” Ujarnya dingin.

“Kamu Revan Raditama, kan?” Tanya Kia lagi.

Laki-laki itu tidak merespon Kia, ia langsung kembali pergi dan melangkahkan kakinya keluar kelas.

Saat sampai di ambang pintu, Kia menarik lengan laki-laki itu, membuatnya menghentikan langkahnya.

Evan melirik ke arah lengannya yang masih dipegang oleh Kia dan Kia sontak melepaskan tangannya dari lengan Evan.

“Lo yang waktu itu imess gue, ya?” Tanya Evan.

“Iya, kamu Epan, kan?” Lagi-lagi kia menanyakan hal itu.

“Udah gue bilang, gue bukan Evan. Nama gue emang Evan, tapi gue bukan Evan yang lo maksud.”

“Epan, ngga usah pura-pura lagi. Aku tau, kamu Epan.” Ujar Kia.

Lagi-lagi lelaki itu menarik napasnya dalam-dalam, “Harus berapa kali gue bilang? Gue ga kenal sama lo. Lo kenapa sokap banget sih?”

Kia masih mengelak, “Tapi nama kamu Revan Raditama, panggilan akrab kamu Epan, kamu juga tinggal di Bandung. Epan, kamu ngehindar dari aku?”

“So tau.”

“So tau? Aku tau itu semua dari Eja. Ga mungkin dia bohong.” Ujar Kia.

“Epan, ini aku, Nakia.”

Laki-laki itu menatap Kia dengan tajam, merasa mulai risih dengan Kia yang terus memastikan bahwa dirinya adalah Evan yang Kia kenal.

“Epan, kita udah ngga ketemu hampir tujuh tahun, aku engga tau kabar kamu gimana. Apa jangan-jangan, kamu amnesia?”

Mendengar kata-kata yang Kia ucapkan, laki-laki itu menaikkan ujung bibirnya, menciptakan smirk yang tipis.

“Stres lo.”

Evan bergegas pergi meninggalkan Kia. Kia mencoba memanggilnya kembali namun tidak ada respon sama sekali dari laki-laki yang kini langkahnya sudah mulai menjauh.

indah

kadang yang indah, belum tentu bisa digapai

Kia berjalan melewati koridor kampus, dengan tangan kanannya yang membawa sebuah cup kopi berisi kopi hangat dan tangan kirinya memegang ponsel. Gadis itu berjalan sembari memainkan ponselnya.

Hingga tiba-tiba dari arah yang berlawanan, Kia tak sengaja menabrak seorang perempuan yang juga berjalan sembari memainkan ponselnya.

Kopi milik Kia tumpah membasahi baju perempuan yang baru saja ditabraknya.

Tak hanya itu, ponsel milik Kia pun terjatuh di lantai, hingga layar ponselnya terlihat sedikit retak.

Perempuan yang ditabraknya itu mengambil ponsel milik Kia, kemudian disodorkannya pada Kia.

Kia meraih ponselnya, seraya berkata, “Kak, maaf. Aduh gimana ya, bajunya jadi kotor semua.” Ujar Kia yang panik melihat baju perempuan itu kotor karena tersiram air kopi miliknya.

“Ngga apa-apa, Ki. Gue bawa baju ganti kok.”

Kia menatap perempuan itu, dan ternyata dia adalah Sila.

“Sila?”

“Sila, maaf aku tadi jalan sambil mainin handphone. Ke kamar mandi ya, aku bawa baju ganti. Nanti kamu pake aja, terus baju kotornya aku bawa biar aku cuci.” Ujar Kia sedikit panjang lebar karena ia masih panik.

Sila tersenyum, “Ngga usah, ngga apa-apa. Gue juga bawa baju ganti kok. Gue juga tadi jalan sambil mainin handphone.” Ujar Sila.

“Ya udah kalo kamu bawa baju ganti, tapi baju kotornya aku bawa, biar aku cuci.

“Ngga apa-apa kia, ngga usah-“

“Sila” Ucapan Sila terpotong karena ada seseorang yang memanggilnya.

“Evan? Lo katanya udah mau pergi sama-“

“Baju lo kenapa?” Lagi-lagi ucapan Sila terpotong.

“Ngga apa-apa, ketumpahan kopi dikit.” Jawab Sila.

“Dikit apanya? Sampe kotor gitu.”

Evan melihat tangan Kia yang sedang membawa sebuah cup minuman, sehingga mengerti apa yang baru saja terjadi.

“Oh, lo nabrak Sila?” Tanya Evan pada Kia.

“Iya, tadi aku ngga sengaja. Tapi salah aku juga kok, tadi aku jalan sambil main-“

“Lo pinter drama ya.” Lagi-lagi Evan memotong pembicaraan lawan bicaranya.

“Sengaja kan lo?”

Kia menggeleng, “Ngga, aku ngga sengaja.”

“Lo ngga suka sama Sila, jadi lo sengaja nabrak dia sampe numpahin minuman lo ke bajunya, kan?”

“Udah, Evan. Orang Kia ngga sengaja kok.”

“Lo diem aja.” Ucap Evan pada Sila yang mulai menahannya.

“Gue tau lo kesel sama gue gara-gara gue nyuruh lo stop buat naro makanan di locker gue, tapi ngga gini juga cara lo ngebalesnya.”

“Lo diem-diem licik juga, ya.” Ujar Evan.

“Evan, Kia ngga salah, tadi dia ngga sengaja nabrak aku. Akunya juga tadi jalan sambil main handphone.” Ujar Sila membela Kia.

“Gue bilang lo diem aja.”

“Lo ngga suka sama Sila gara-gara dia deket sama gue? Iya?”

Tak ada jawaban dari Kia, gadis itu mulai menundukkan kepalanya.

“Lo sadar ngga sih, kalo lo murahan? Padahal lo udah punya cowok, masih aja gangguin cowok lain.”

“Inget ya, jangan gangguin Sila. Kalo lo gak suka sama gue, ya urusan lo sama gue, bukan sama Sila.”

“Muka lo yang lugu, so polos, bisa nipu banyak orang, ya?”

“Kelakuan lo bertolak belakang banget sama muka lo yang so polos.” Ujar Evan.

Banyak orang yang mulai menghampiri dan menonton Evan yang sedang memarahi Kia.

Saat Evan sedang mengeluarkan segala perkataan yang membuat hatinya terluka, Kia menatap sebuah gelang tali yang melingkar di pergelangan tangan Evan. Gelang yang dahulu pernah Kia berikan pada Evan sebagai tanda persahabatannya, ternyata masih dipakai oleh laki-laki itu.

Semua memori saat ia dan Evan masih berumur dua belas tahun terputar di otaknya. Teringat bagaimana dulu Kia membela dan melindungi laki-laki lemah itu dari Aldo dan semua orang yang mencoba menjahatinya.

Namun kini, apa balasan laki-laki itu? Hanya hal sepele yang tak sengaja Kia lakukan pun, Evan sampai memakinya di depan banyak orang.

Jangan ditanya, tentu sangat sakit.

Sila sedikit terkejut dengan apa yang baru saja Evan ucapkan, ia merasa tidak enak pada Kia.

“Van, lo kok ngomong gitu sih? Gue udah bilang Kia ngga salah.” Ucap Sila.

Evan menatap Kia dengan tatapan tajamnya, menampilkan raut wajah yang sedang menahan amarahnya.

Evan kemudian menarik tangan Sila, membawanya pergi dari hadapan Kia.