haechanketawa

Sebenarnya, siapa yang lancang?

Indah, satu kata yang bisa menjadi rangkuman penggambaran dirimu.

Boleh aku bertanya?

Kamu ini, sebenarnya siapa?

Lancang sekali, siang malam bergentayang di pikiran.

Lancang sekali, siang malam senyummu mampu menjadi candu.

Lancang, lancang sekali.

Rumah Epan.

Mereka kini sudah sampai di rumah Evan. Evan langsung masuk ke dalam rumahnya yang diikuti oleh Kia.

“Mah, coba liat Epan bawa siapa,” ujar Evan sedikit berteriak karena mamahnya yang berada di dapur.

Tante Gina segera menghampiri mereka, Evan dan Kia langsung mencium punggung tangan tante Gina.

“Eh, si geulis. Epan, kamu yang bawa ke sini?” tanya Tante Gina dengan raut wajah yang sangat senang, seakan sangat menyambut kedatangan Kia.

“Iya, mah,” ujar Evan.

“Ih, tadi na mah si Fajar teh udah tante suruh bawa kamu main ke sini, eh si Fajarnya sibuk.”

Kia tersenyum, “Iya, tante. Tadi udah bilang kok kak Fajarnya, jadi Kia ke sini sama Epan,” jawab Kia ramah.

Tiba-tiba saja datanglah seorang anak laki-laki sekitar umur enam tahunan berlari ke arah Evan.

“Aa, mana lego punya adek?” tanya anak kecil itu.

Evan menyerahkan sebuah paperbag berisi pesanan adiknya itu.

“Kok legonya kaya gini? Jio minta yang bisa dibentuk jadi metro mini!” Protes Jio, adiknya Evan.

“Yang bentuk metro mini teh yang kaya kumaha ai kamu?” tanya Evan.

Jio merajuk, “ah, aa udah gede masa ngga tau lego metro mini!”

“Udah nanti dibeliin ku ayah, sana masuk kamar,” ujar tante Gina.

Kia terkekeh melihatnya, “Mirip Epan banget ya,” ujarnya.

“Iya, lebih mirip Epan daripada Fajar mah,” jawab tante Gina yang diiringi kekehannya.

“Tante mau ngajak Kia masak, ya?”

Tante Gina terkekeh, “iya, mau kan?”

Kia mengangguk, “mau dong.”

Evan tersenyum melihat interaksi Kia dengan mamahnya.

“Epan ke kamar dulu ya, mah,” pamit Evan.

“Eh, kamu juga ikut bantuin masak atuh.” Tante Gina menahan putranya.

“Tapi kan Epan ga bisa masak ....”

Kia tertawa, “makannya bantuin, sekalian belajar,” ujar Kia.

Evan pasrah, akhirnya ia menuruti permintaan Kia dan mamahnya untuk membantunya memasak.

Rumah Epan.

Mereka kini sudah sampai di rumah Evan. Evan langsung masuk ke dalam rumahnya yang diikuti oleh Kia.

“Mah, coba liat Epan bawa siapa,” ujar Evan sedikit berteriak karena mamahnya yang berada di dapur.

Tante Gina segera menghampiri mereka, Evan dan Kia langsung mencium punggung tangan tante Gina.

“Eh, si geulis. Epan, kamu yang bawa ke sini?” tanya Tante Gina dengan raut wajah yang sangat senang, seakan sangat menyambut kedatangan Kia.

“Iya, mah,” ujar Evan.

“Ih, tadi na mah si Fajar teh udah tante suruh bawa kamu main ke sini, eh si Fajarnya sibuk.”

Kia tersenyum, “Iya, tante. Tadi udah bilang kok kak Fajarnya, jadi Kia ke sini sama Epan,” jawab Kia ramah.

Tiba-tiba saja datanglah seorang anak laki-laki sekitar umur enam tahunan berlari ke arah Evan.

“Aa, mana lego punya adek?” tanya anak kecil itu.

Evan menyerahkan sebuah paperbag berisi pesanan adiknya itu.

“Kok legonya kaya gini? Jio minta yang bisa dibentuk jadi metro mini!” Protes Jio, adiknya Evan.

“Yang bentuk metro mini teh yang kaya kumaha ai kamu?” tanya Evan.

Jio merajuk, “ah, aa udah gede masa ngga tau lego metro mini!”

“Udah nanti dibeliin ku ayah, sana masuk kamar,” ujar tante Gina.

Kia terkekeh melihatnya, “Mirip Epan banget ya,” ujarnya.

“Iya, lebih mirip Epan daripada Fajar mah,” jawab tante Gina yang diiringi kekehannya.

“Tante mau ngajak Kia masak, ya?”

Tante Gina terkekeh, “iya, mau kan?”

Kia mengangguk, “mau dong.”

Evan tersenyum melihat interaksi Kia dengan mamahnya.

“Epan ke kamar dulu ya, mah,” pamit Evan.

“Eh, kamu juga ikut bantuin masak atuh.” Tante Gina menahan putranya.

“Tapi kan Epan ga bisa masak ....”

Kia tertawa, “makannya bantuin, sekalian belajar,” ujar Kia.

Evan pasrah, akhirnya ia menuruti permintaan Kia dan mamahnya untuk membantunya memasak.

217.

Kini Kia dan Aldo sudah berada di sebuah cafe, tempat di mana mereka pertama kali bertemu kembali.

Sudah hampir tiga puluh menit mereka berbincang-bincang dengan berbagai topik, dan kini Kia sedang tertawa karena lelucon yang Aldo katakan.

“Sumpah deh, Ki. Koleksi boneka punya adik gue tuh gemes-gemes banget. Jadi pengen gue cekek,” ujar Aldo.

Kia tertawa, “ya ngga dicekek juga kali.”

Disaat tawa mereka sedang merekah, tiba-tiba saja seorang laki-laki datang menghampiri mereka.

“Kia,”

Kia menengok ke arah yang memanggilnya. Laki-laki itu ternyata adalah Evan.

Tanpa basa-basi, Evan langsung menarik lengan Kia, hendak membawanya pergi.

Aldo tak tinggal diam, ia juga langsung menahan tangan kiri Kia, membuat masing-masing dari kedua tangan gadis itu sedang ditahan oleh Evan dan Aldo.

“Ga sopan banget lo tiba-tiba narik Kia,” ujar Aldo yang terlihat kesal dengan kedatangan Evan.

Kia mencoba melepaskan dua tangannya dari genggaman Evan dan Aldo, tetapi tidak berhasil.

“Lepasin,” ujar Evan dingin pada Aldo.

Karena Aldo tak menurut, Evan langsung menepis dengan kasar tangan Aldo yang menahan tangan kiri milik Kia.

Evan langsung membawa Kia pergi dari hadapan Aldo.

Tangan Kia masih dipegang kuat oleh Evan. Laki-laki itu berjalan membawa Kia dengan langkah yang cukup cepat.

“Epan, kamu kenapa tiba-tiba dateng terus langsung narik tangan aku sih? Aku lagi ngobrol sama Aldo,” protes Kia pada Evan yang tiba-tiba datang dan langsung menariknya.

Evan tak menjawab, ia membawa Kia masuk ke dalam mobil miliknya.

204.

“Kak, mau ke mana? Kok kita ke arah sini?” Tanya Kia pada Fajar yang sedang fokus menyetir.

“Nanti kamu tau sendiri. Bentar lagi nyampe kok,” jawab Fajar.

Kia hanya mengiyakan, ketika Fajar entah akan melajukan mobilnya ke mana.

Tak sampai sepuluh menit, kini Fajar sudah memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang sebuah rumah yang cukup besar.

“Ini bukannya rumah kamu? Kamu kenapa bawa aku ke sini?” tanya Kia yang mulai panik.

“Ketemu mamah,” jawab Fajar santai.

“Kak, kan aku udah bilang aku belum siㅡ”

“Ssttt ....” ucapan Kia terpotong.

“Cuma ada mamah kok, ayah masih di kantor.”

“Udah sore juga kak, aku belum izin ke ayah kalo pulang telat.”

“Kan bisa telfon,” ujar Fajar.

Fajar turun dari mobilnya, ia segera menuntun Kia masuk ke dalam rumahnya yang besar itu.

Ternyata mamahnya Fajar sudah berdiri tepat di depan pintu, seakan sedang menunggu kedatangannya.

“Eh, akhirnya udah dateng,” ujar mamahnya Fajar dengan senyumnya yang lebar, menandakan bahwa beliau senang dengan kedatangan Fajar yang membawa Kia.

Fajar dan Kia segera mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.

“Panggil aja tante Gina, tapi kalo mau manggil mamah juga boleh.”

Kia tersenyum, “Iya, tante. Nama aku Nakia, boleh dipanggil Kiki atau Kia,” balas Kia yang tak lupa selalu diiringi dengan senyuman.

Tante Gina terus memperhatikan Kia, bahkan ia sampai sedikit menyipitkan matanya.

“Kia?”

“Kok kaya ngga asing, ya?” tanya tante Gina.

”Mampus ki, mampus,” gerutu Kia dalam hati.

Ini yang Kia takutkan. Mengingat bahwa tante Gina adalah mamahnya Evan sekaligus mamahnya Fajar juga. Kia takut jika tante Gina mengingat dirinya adalah teman kecil Evan ketika masih di Bandung, pasti Fajar akan kaget.

“Kamu teh ....”

“MAH,”

“MAMAH!”

Belum sempat tante Gina menyelesaikan kalimatnya, terdengar teriakan yang sangat keras dari dalam rumahnya.

“Ini si adek gangguin Epan main game terus!” Teriaknya lagi.

Ternyata teriakan itu adalah teriakan Evan.

“A epan, coba sini dulu,” balas tante Gina dengan volume suara yang cukup keras, namun tak sekeras teriakan Evan tadi.

Evan menurut, keluarlah Evan dari dalam rumah dengan penampilan yang hanya memakai kaus hitam polos dan kolor putih.

Evan terkejut ketika melihat Kia.

“Ini temen aa kan?” tanya Tante Gina pada Evan.

Evan tak menjawab, ia mematung.

“Aa, ih!” Tante Gina menepuk lengan Evan pelan, membuat Evan mengerjapkan pandangannya.

“Ini teh temen aa yang dulu di Bandung bukan sih? Neng Kia itu yang anaknya pak Jenan?”

“Iya, kan? Kamu teh neng Kia anaknya pak Jenan, temennya Epan pas dulu masih di Bandung?” tanya tante Gina pada Kia.

“Iya, tante ....” Kia tersenyum kaku.

“Tuh, kan. Bener!”

“Dari awal juga diliat-liat teh asa mirip saha kitu nya, eh ternyata neng Kia,” ujar tante Gina dengan sangat antusias.

Fajar mengernyitkan dahinya bingung, ini semua maksudnya apa?

“Neng Kia gimana kabarnya? Makin geulis aja ih,” tanya tante Gina.

Tante Gina terlihat sangat senang ketika tau bahwa kekasih Fajar adalah Kia, teman dekat Evan saat masih di Bandung dulu.

“Baik, tante. Tante gimana kabarnya?”

“Baik juga. Sini atuh masuk, kita ngobrol dulu.” Tante Gina menggandeng tangan Kia dan menuntunnya masuk ke dalam rumahnya.

Fajar yang masih bingung dan Evan yang masih mematung, membuat kedua laki-laki itu saling bertatapan. Sampai akhirnya Evan menatap Fajar dengan sinis, kemudian langsung mendahului masuk ke dalam rumahnya.

188.

“Ayo cepetan masuk.” Ujar Nandra sembari menarik lengan Kia.

Kia melepaskan tangan Nandra yang menarik tangannya. “Dra, sebelum aku masuk, jelasin dulu. Kenapa aku harus ke sini? Evan mabuk juga bukan urusan aku.”

Bukan apa-apa, Kia takut harus mendengar kata-kata yang menyakitkan dari Evan karena dirinya telah ikut campur urusannya.

“Udah nanti lo tau sendiri, cepetan masuk.” Nandra langsung kembali menarik tangan Kia.

Kia langsung masuk dan terdapatlah Evan yang sedang terkapar lemas di lantai.

Kia segera menghampiri Evan, kemudian menepuk pipi laki-laki itu dengan pelan.

Evan perlahan membuka matanya, netranya itu menangkap sosok Kia.

Evan tersenyum, kemudian menggenggam tangan Kia yang menangkup wajahnya.

“Katanya lo mau ke rumah gue?” Tanya Evan tiba-tiba yang masih dengan keadaan setengah sadar.

Kia tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Evan, sehingga ia tak menjawabnya.

“Katanya mau ketemu mama,” ujar Evan sembari cengar-cengir tidak keruan.

“Maksud kamu apa sih? Aku ngga ngerti.”

Evan tertawa, tertawa dengan sangat lepas. Kemudian beberapa detik selanjutnya, ia menangis.

Nandra yang sedang memperhatikannya pun ikut bingung. Kenapa temannya ini sangat aneh saat mabuk?

“Lo emang kalo mabok suka bipolar ya, Pan?” tanya Nandra.

Tangisan Evan semakin keras, membuat Kia semakin bingung.

Posisi kepala Evan yang tertidur di paha Kia, membuatnya mudah untuk memeluk pinggang perempuan itu.

Dengan kasar, Kia mencoba melepaskan tangan Evan yang memeluk pinggangnya. “Epan, lepasin. Kamu bau alkohol.”

Evan tidak peduli dengan ucapan Kia.

“Ki, lo kenapa jahat banget?”

Lagi-lagi Kia tidak mengerti apa yang dimaksud laki-laki ini.

“Kenapa lo ninggalin gue?”

“Lo ke mana aja selama tujuh tahun?”

Entah mengapa ketika mendengar pertanyaan itu, perasaan hati Kia merasa aneh. Seperti ada rasa bersalah.

“Jangan tinggalin gue ....” Lirih Evan.

“Jangan terima cincin dari Fajar, gue ga mau lo tunangan sama dia.”

Nandra meledakkan tawanya. “HAHAHA, bau-bau bulol nih.”

Kia menghembuskan napasnya, kini ia mengerti apa yang sedang terjadi.

“Siapa yang mau tunangan? Udah deh kamu tuh ngelantur.”

“Nakia, please ....”

“Iya, ngga,” ujar Kia pelan.

Evan semakin menguatkan pelukannya dengan tangisnya yang juga semakin mengeras seperti anak kecil.

“Jangan ke mana-mana ....”

“Kia, jangan ke mana-mana. Aku takut ....”

Mendengar itu, hatinya sakit. Cara bicara, nada, dan lirihannya sama persis ketika dahulu laki-laki ini memintanya untuk tidak pergi ke mana-mana karena ia sangat takut dengan Aldo dan teman-temannya yang selalu merundungnya.

“Ki, takut,”

“Jangan tinggalin aku lagi, aku takut ....”

Kia menepuk pelan punggung Evan, berusaha menenangkan ketika laki-laki itu mengeraskan tangisannya.

“Iya, ini aku di sini,”

“Aku ngga ke mana-mana,” ujar Kia lembut.

“Hadeh, kan malah bucin. Udah lah gue mau beresin ini dulu. Nanti kalo rewelnya udah mendingan, lo hubungin si fajar dah, suruh jemput,” ujar Nandra.

Kia mengangguk, “Maaf ya Ndra, jadi ngerepotin.”

“Santai aja, udah sering ngerepotin dia mah.”

Nandra pun beranjak, membereskan beberapa gelas dan makanan yang cukup berserakan di mejanya.

“Epan ....”

“Udah gede ya kamu,”

“Sekarang kamu kok nakal?”

Tangan kecil milik Kia terus tergerak untuk mengusap-usap pelan punggung besar laki-laki itu. Laki-laki yang dulu hanya seorang laki-laki lemah, yang bahkan untuk melawan seseorang yang menjahatinya pun tak berani.

“Aku ngga nyangka kamu bisa sampe kaya gini.” Kia meneteskan air matanya.

“Kia,” lirih Evan memanggil Kia dalam dekapannya.

“Apa?”

“Aku sayang kamu,”

“Jangan pergi,”

“Jangan sama Fajar.”

Kia tersontak dengan perkataan Evan. Beberapa detik kemudian, Evan langsung beranjak dan pergi ke arah wastafel yang ada di dapur.

Evan memuntahkan isi perutnya di wastafel itu.

Kia langsung berlari menghampiri Evan, ia kembali mengusap-usap dan menepuk-nepuk pelan punggung laki-laki itu.

“Kamu minum berapa botol sampe kaya gini?” tanya Kia yang tak mendapat jawaban dari Evan.

Evan langsung ambruk, untung saja dengan cepat Kia langsung menangkap kedua bahunya.

174.

Evan tidak menuruti permintaan Silla yang menyuruhnya untuk mematikan rokoknya dan turun dari rooftop.

Satu batang roko telah habis dihisapnya. Namun, Evan kembali mengambil satu batang rokok lagi dan dinyalakannya dengan korek gas yang kemana-mana selalu dibawanya.

Evan menghisap rokoknya, kemudian menghembuskannya membuat asap dari rokoknya itu keluar dari mulutnya.

Terus saja, ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya.

Entah, dengan seperti ini Evan merasa lebih baik. Padahal sepertinya kini tidak ada alasan untuk tidak baik-baik saja.

“Epan,”

Tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang memanggil namanya. Namun nalurinya sudah bisa menebak, siapa yang memanggilnya.

Perempuan itu adalah Kia.

Kia mendekat, melihat di bawah kaki Evan sudah terdapat satu batang rokok.

Kia menepis rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah milik Evan. Rokok itu terjatuh dan Kia langsung menginjaknya, berusaha mematikan api yang masih ada di ujung rokok tersebut.

Evan menghembuskan napasnya. “Ngapain?” tanyanya tak suka.

“Aku yang harusnya nanya, kamu ngapain ngerokok sampe dua batang gini?”

“Apa urusannya sama lo?”

Evan hendak pergi meninggalkan Kia, namun perempuan itu segera menahan tangan Evan.

Evan menepis dengan kasar tangan Kia yang memegang tangannya.

“Epan, kenapa kamu jadi suka ngerokok?” Tanya Kia.

“Masih aja ya, lo ngurusin hidup gue,” ujar Evan dengan nada yang tak suka.

“Tapi kamu ngerokok sampe dua batang gitu, itu ngga ba—“

“Bukan urusan lo.”

Ucapan Kia terpotong oleh Evan.

“Mending lo urusin tuh cowok lo,”

“Urusin pertunangan lo.”

Setelah berbicara seperti itu, Evan segera pergi meninggalkan Kia.

Kia mengernyitkan dahinya bingung, ia tidak mengerti apa yang baru saja dikatakan oleh Evan.

“Tunangan? Siapa yang mau tunangan?”

168.

Setelah menghabiskan waktu bersama hanya dengan sekedar makan ramyeon dan jalan-jalan menikmati suasana malam di kota Jakarta, Evan dan Silla akhirnya memutuskan untuk pulang.

Evan mengantarkan Silla ke kostnya terlebih dahulu, dan kini ia sudah sampai di area kostan Silla.

Evan menengok ke arah Silla yang ternyata sedang tertidur. Ia menatap Silla cukup lama.

Evan terkekeh kemudian menciptakan senyum di bibirnya.

“Cantik,” gumamnya.

Alih-alih membangunkan Silla, laki-laki itu malah merubah posisi duduknya ke samping, sehingga ia bisa melihat wajah Silla dengan lebih jelas.

“Ga tega gue banguninnya,” ujarnya pelan.

Rambut Silla yang sedikit menutupi wajahnya itu, membuat tangan Evan tergerak untuk menyelipkan rambutnya ke telinganya.

Evan perlahan mengusap pelan kepala Silla dengan sangat lembut.

“Hei, bangun,” ujarnya pelan.

Tak ada reaksi dari Silla, Evan kembali membangunkannya dengan menepuk pipi Silla dengan pelan.

“Bangun, La ....”

Silla akhirnya perlahan membuka matanya.

“Udah nyampe,” ujar Evan.

Silla mengucek matanya, kemudian memfokuskan pandangannya.

“La,”

“Hm?” Silla hanya bergumam, karena ia masih sedikit merasa ngantuk.

“Kemarin ngobrolin apa aja sama Kia?”

Mendengar pertanyaan itu, Silla langsung memiringkan kepalanya, menengok ke arah Evan.

“Yang pasti bukan ngomongin lo,” jawabnya.

“Ya, iya. Ngomongin apa?”

“Ngga tau, lupa. Gue ngantuk, mau masuk.”

Silla meraih handphonenya yang ada di dashboard mobil milik Evan.

“La,”

Silla tak menggubrisnya, ia hendak membuka pintu mobil itu. Namun, Evan memanggil namanya dengan nada yang sangat manja, membuat tangan Silla terhenti untuk membuka pintu mobil tersebut.

“Lalaaa..”

Sumpah, Silla tidak bisa menahan rasa gemasnya ketika laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan ‘Lala’ sembari menggembungkan pipi gembulnya.

“Apa?”

Bukannya menjawab, Evan malah menyengir.

“Apa sih?” tanya Silla lagi.

“Ngga, hehe. Gih, masuk.”

Silla menggelengkan kepalanya, tingkah laki-laki ini memang suka aneh.

“Hati-hati pulangnya, jangan ngebut.”

Evan mengangguk sembari mengembangkan senyumnya. Kemudian ia memupuk pelan kepala Silla, sebelum perempuan itu keluar dari mobilnya.

155.

Ruangan perpustakaan yang sangat tentram dari kebisingan, membuat Nakia sangat fokus membaca bukunya.

“Ki,” bisik Eca pelan karena takut mengganggu orang lain disekitarnya yang sedang fokus membaca.

Kia hanya menengok, pertanda menanyakan apa yang ingin sahabatnya sampaikan.

“Liat ke samping kanan lo,” bisik Eca lagi.

Kia menurut, menengok ke arah samping kanannya. Netranya menangkap sosok Evan yang sedang berdiri menghadap rak buku, dengan satu tangannya yang memegang beberapa buah buku.

Evan tertangkap basah ketika sedang memandangi Kia dari jauh, laki-laki itu langsung membuang mukanya ke arah lain.

Eca menahan tawanya ketika melihat Evan yang sedikit salah tingkah ketika Kia balik menatapnya.

“Apaan sih kamu, Ca.” Kia mengalihkan pandangannya lagi pada buku yang sedang dibacanya, sedikit kesal setelah melihat laki-laki itu.

“Tuh cowok dari kemarin-kemarin ngeliatin lo mulu anjir,” ujar Eca.

Kia mendengus kesal, tidak menanggapi perkataan Eca.

Saat Kia kembali fokus pada bukunya, Evan kembali menatap Kia dari jauh. Melihat objek yang dipandangnya sedang fokus membaca buku, laki-laki itu menciptakan lengkungan kecil di bibirnya, sehingga terlihat senyuman yang sangat tipis.

Fight?

Evan baru saja pulang dan pintu rumahnya langsung dibuka oleh mamahnya, sehingga ia langsung melihat figur mamahnya di balik pintu itu.

“Aa, eta kunaon pipinya pada biru kitu kaya abis dipukulin?” Tanya mamahnya dengan raut wajah yang khawatir ketika melihat wajah anaknya yang lebam.

Belum sempat Evan menjawab, tiba-tiba saja Fajar datang dengan pipinya yang juga cukup lebam sama seperti pipi Evan.

Evan dan Fajar adalah stepbrother. mamahnya Evan menikah dengan ayahnya Fajar sekitar tujuh tahun yang lalu.

“Abang Fajar juga pipinya kenapa? Ini pada kenapa sih mukanya pada biru-biru kaya abis ditonjok gitu?” Tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah yang khawatir karena kondisi wajah dua putranya.

“Abis pada berantem, ya? Hayoh?”

Fajar menggeleng, “Ngga, mah.”

“Jujur, ah. Ini teh ada apa? Kalian berantem? Ngebrantemin naon, kasep?”

Tak ada jawaban dari Evan dan Fajar. Wanita paruh baya itu melihat ujung bibir Fajar yang terluka, sehingga ia menangkup wajah Fajar dengan tangannya, seolah ingin melihat luka yang ada di ujung bibir Fajar dengan detail.

“Ah,” Fajar meringis ketika tangan mamahnya menyentuh luka yang ada di pipinya.

“Ini bibir sampe berdarah gini.”

Wanita paruh baya itu menarik tangan Fajar, menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu.

“Bentar, mamah ambil obat luka dulu,” ujarnya.

Evan mengernyitkan dahinya heran. Kenapa yang akan diobati lukanya oleh mamahnya itu hanya Fajar saja?

Evan menatap Fajar dengan tatapan sinisnya, sebelum ia segera bergegas pergi menuju kamarnya yang berada di lantai atas.