haechanketawa

“Cantik ya bulannya,” ujar Kia yang sedang menopangkan tangannya di sebuah pegangan besi di pinggir pantai.

“Mau secantik apapun tetep aja ngga bisa digapai.”

Kia terkekeh mendengar jawaban dari Fajar, “bisa kalo kamu mau nyamperin ke sana.”

“Kalo bulan ngga bisa digapai, kalo bintang gampang.”

“Kok gitu?”

“Kan kamu bulannya.”

Kia mengernyitkan dahinya, “maksudnya?”

“Kamu itu bulan di antara banyaknya bintang-bintang.”

Kia semakin bingung.

“Karena bintang banyak, jadi gampang buat digapai. Tapi kalo bulan cuma satu, jadi susah buat digapainya.”

Kia masih menatap Fajar bingung.

Fajar menyentuh keningnya sendiri sembari tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Kia.

Fajar memupuk pucuk kepala Kia, “dari dulu emang ya lemotnya.”

Kia menepis tangan Fajar, “ih, bukan lemot! Kamunya aja yang ngga jelas. Apa coba hubungannya aku sama bulan bintang?”

“Gini, Kia ...”

“bagi aku, kamu itu ibarat bulan dan bintang-bintang itu adalah perempuan-perempuan lain. Kamu yang paling terang di antara bintang-bintang itu.”

“Padahal banyak bintang-bintang yang bisa jadi pilihan aku, tapi ternyata ngga ada satu pun yang mau aku pilih, kecuali bulan.”

Lagi-lagi tak ada jawaban, hanya kekehan yang Kia keluarkan sebagai responnya untuk ucapan Fajar.

Kia kembali melihat ke atas, memandang kembali bulan dan bintang-bintang yang mengeluarkan sinarnya dengan indah.

Hari ini Kia menghabiskan waktunya bersama Fajar. Hanya sekedar keliling kota Jakarta dan berakhir dengan melihat langit malam di pinggir pantai. Namun, rasanya benar-benar nyaman. Kia selalu merasa, mau sesederhana apapun yang dilakukannya, jika itu bersama Fajar akan terasa berharga.

Fajar menatap ke arah mata Kia, ia terus bergumam di dalam hatinya, mengatakan bahwa wanita yang ada di sampingnya ini tak pernah membuatnya mengalihkan pandangannya.

Kenapa hari ini waktu berjalan begitu cepat? Benar-benar, rasanya Fajar tak ingin ada hari esok.

“Ki,”

“Hm?”

“Harus berangkat, ya?”

Mendengar itu, Kia langsung menoleh ke arah Fajar.

“Aku boleh minta kesempatan ke dua?” tanya Fajar.

Kia tertawa ringan, “harusnya aku yang bilang gitu.”

“Salah aku juga ...”

“salah aku yang ngga bisa buat kamu bertahan sama aku.”

Laki-laki ini dari dulu tidak pernah berubah. Selalu merasa segala sesuatunya adalah kesalahan dia, membuat kia semakin merasa bersalah. Namun Kia mengerti, sikap Fajar yang seperti itu karena dia yang tidak mau wanita yang dicintainya ini merasa bersalah, sekalipun memang itu adalah kesalahannya.

“Bisa kan, Ki?”

Fajar menggapai tangan Kia.

“Bisa kan aku sama kamu jadi kita lagi?”

Fajar menatap wajah Kia dengan serius, bola matanya itu menatapnya dengan penuh harap. Berharap agar Kia tidak jadi berangkat besok dan berharap semuanya akan kembali seperti semula.

“Bisa kan kita mulai lagi? Bisa kan kamu tetep di sini? Bisa kan kamu ngga berangkat besok?”

Kia paham dengan binaran di mata Fajar yang penuh harap. Sepertinya ia sudah terlalu dalam menorehkan luka pada hati milik lelaki ini. Namun, mengapa Fajar tetap memintanya untuk tinggal? Terbuat dari apa hati lelaki ini?

“Kak, aku—“

“Sayang sama Epan, kan?” ucapan Kia terpotong.

“Aku ngga bisa jadi kaya Epan, ya?”

“Kalo kamu kasih kesempatan buat aku biar bisa jadi kaya Epan, biar aku bisa jadi apa yang kamu mau, gimana?” tanya Fajar.

“Bukan gitu ....”

“Kasih aku buat ambil waktu sendiri dulu, ya?”

Kia melepaskan tangan Fajar yang menggenggam erat kedua tangannya. Gadis itu tersenyum, kemudian merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan sebuah pelukan.

Fajar menghembuskan napasnya berat sebelum ia langsung memeluk tubuh Kia.

“Makasih, ya ....” ujar Fajar dengan pelan.

Kia mengusap pelan punggung Fajar. Kehangatan dan rasa nyamannya masih sama, tak ada yang berubah. Punggung yang selalu memiliki berjuta-juta kekuatan, siapa lagi kalau bukan punggung milik Fajar.

Berkali-kali Fajar menciumi pucuk kepala Kia. Laki-laki itu memeluknya dengan erat, sangat erat. Ternyata masih sama, aroma parfum strawberry yang menjadi ciri khas aroma tubuh Kia itu selalu menjadi candu baginya. Benar, tidak ada yang berubah di antara mereka berdua. Hanya saja, perasaan dari salah satunya yang sudah berubah.

Mati-matian Fajar menahan tangisnya, air matanya benar-benar ingin meledak. Namun, ia tidak ingin Kia melihatnya menangis.

Fajar semakin mengeratkan pelukannya, pikirannya terus mengatakan bahwa ini adalah pelukan terakhirnya bersama Kia. Tubuh yang selalu menjadi tempat mengadu kala ia lelah dengan hari yang telah dilewatinya, tubuh yang menjadi peluk terhangatnya, dan tubuh yang selalu menjadi tempatnya pulang.

Sumpah, Fajar tak ingin ada hari esok, Fajar tak ingin malam ini berakhir.

“Kak,”

Tak ada jawaban dari Fajar.

“Kak?”

Fajar perlahan menghembuskan napasnya, mencoba menetralkan napasnya agar ia tak kelepasan dengan tangisnya.

“Ya?”

“Pulang, yuk? Udah jam segini.”

Lagi-lagi Fajar menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya sekejap. Laki-laki itu kemudian melepaskan pelukannya.

Ikhlas, dirinya harus ikhlas jika ini adalah perpisahan yang sesungguhnya.

Fajar mengangguk, ia hendak beranjak mendahului Kia, namun tangannya ditahan oleh gadis itu.

Gadis itu tersenyum, senyum yang selalu menjadi semangat bagi Fajar.

Kia menjinjitkan sedikit kakinya, ia kemudian sekilas mengecup bibir milik Fajar. Bersamaan dengan itu, air mata Fajar pun menetes.

Kia langsung berjalan mendahului Fajar dan menuju mobilnya.

“Ikhlas, harus Ikhlas.”

“Cantik ya bulannya,” ujar Kia yang sedang menopangkan tangannya di sebuah pegangan besi di pinggir pantai.

“Mau secantik apapun tetep aja ngga bisa digapai.”

Kia terkekeh mendengar jawaban dari Fajar, “bisa kalo kamu mau nyamperin ke sana.”

“Kalo bulan ngga bisa digapai, kalo bintang gampang.”

“Kok gitu?”

“Kan kamu bulannya.”

Kia mengernyitkan dahinya, “maksudnya?”

“Kamu itu bulan di antara banyaknya bintang-bintang.”

Kia semakin bingung.

“Karena bintang banyak, jadi gampang buat digapai. Tapi kalo bulan cuma satu, jadi susah buat digapainya.”

Kia hanya menatap Fajar, tak mengeluarkan suara apapun.

Fajar menyentuh keningnya sembari tersenyum.

“Kenapa senyum-senyum?” tanya Kia.

Fajar memupuk pucuk kepala Kia, “dari dulu emang ya lemotnya.”

Kia menepis tangan Fajar, “ih, bukan lemot! Kamunya aja yang ngga jelas. Apa coba hubungannya aku sama bulan bintang?”

“Gini, Kia ...”

“bagi aku, kamu itu ibarat bulan dan bintang-bintang itu adalah perempuan lain. Kamu yang paling terang di antara bintang-bintang itu.”

“Padahal banyak bintang-bintang yang bisa jadi pilihan aku, tapi ternyata ngga ada satu pun yang mau aku pilih, kecuali bulan.”

Lagi-lagi tak ada jawaban, hanya kekehan yang Kia keluarkan sebagai responnya untuk ucapan Fajar.

Kia kembali melihat ke atas, memandang kembali bulan dan bintang-bintang yang mengeluarkan sinarnya dengan indah.

Hari ini Kia menghabiskan waktunya bersama Fajar. Hanya sekedar berjalan keliling kota Jakarta dan berakhir dengan melihat langit malam di pinggir pantai. Namun, rasanya benar-benar nyaman. Kia selalu merasa, mau sesederhana apapun yang dilakukannya, jika itu bersama Fajar akan terasa berharga.

Fajar menatap ke arah mata Kia, ia terus bergumam di dalam hatinya, mengatakan bahwa wanita yang ada di sampingnya ini tak pernah membuatnya mengalihkan pandangannya.

Kenapa hari ini waktu berjalan begitu cepat? Benar-benar, rasanya Fajar tak ingin ada hari esok.

“Ki,”

“Hm?”

“Harus berangkat, ya?”

Mendengar itu, Kia langsung menoleh ke arah Fajar.

“Aku boleh minta kesempatan ke dua?” tanya Fajar.

Kia tertawa ringan saat mendengar ucapan itu, “harusnya aku yang bilang gitu.”

“Salah aku juga ...”

“salah aku yang ngga bisa buat kamu bertahan sama aku.”

Laki-laki ini dari dulu tidak pernah berubah. Selalu merasa segala sesuatunya adalah kesalahan dia, membuat kia semakin merasa bersalah. Namun Kia mengerti, sikap Fajar yang seperti itu karena dia yang tidak mau wanita yang dicintainya ini merasa bersalah, sekalipun memang itu adalah kesalahannya.

“Bisa kan, Ki?”

Fajar menggapai tangan Kia.

“Bisa kan aku sama kamu jadi kita lagi?”

Fajar menatap wajah Kia dengan serius, bola matanya itu menatapnya dengan penuh harap. Berharap agar Kia tidak jadi berangkat besok dan berharap semuanya akan kembali seperti semula.

“Bisa kan kita mulai lagi? Bisa kan kamu tetep di sini? Bisa kan kamu ngga berangkat besok?”

Kia paham dengan binaran di mata milik Fajar yang penuh harap. Sepertinya ia sudah terlalu dalam menorehkan luka pada hati milik lelaki ini. Namun, mengapa Fajar tetap memintanya untuk tinggal? Terbuat dari apa hati lelaki ini?

“Kak, aku—“

“Sayang sama Epan, kan?” ucapan Kia terpotong.

“Aku ngga bisa jadi kaya Epan, ya?”

“Kalo kamu kasih kesempatan buat aku biar bisa jadi kaya Epan, biar bisa jadi apa yang kamu mau, gimana?” tanya Fajar.

“Bukan gitu ....”

“Kasih aku buat ambil waktu sendiri dulu, ya?”

Kia melepaskan tangan Fajar yang menggenggam erat kedua tangannya. Gadis itu tersenyum, kemudian merentangkan kedua tangannya, mengisyaratkan sebuah pelukan.

Fajar menghembuskan napasnya berat sebelum ia langsung memeluk tubuh Kia.

“Makasih, ya ....” ujar Fajar dengan pelan.

Kia mengusap pelan punggung Fajar. Kehangatan dan rasa nyamannya masih sama, tak ada yang berubah. Punggung yang selalu memiliki berjuta-juta kekuatan, siapa lagi kalau bukan punggung milik Fajar.

Berkali-kali Fajar menciumi pucuk kepala Kia. Laki-laki itu memeluknya dengan erat, sangat erat. Ternyata masih sama, aroma parfum strowberry yang menjadi ciri khas aroma tubuh Kia itu selalu menjadi candu baginya. Benar, tidak ada yang berubah di antara mereka berdua. Hanya saja, perasaan dari salah satunya yang sudah berubah.

Mati-matian Fajar menahan tangisnya, air matanya benar-benar ingin meledak. Namun, ia tidak ingin Kia melihatnya menangis.

Fajar semakin mengeratkan pelukannya, pikirannya terus mengatakan bahwa ini adalah pelukan terakhirnya bersama Kia. Tubuh yang selalu menjadi tempat mengadu kala ia lelah dengan hari yang telah dilewatinya, tubuh yang menjadi peluk terhangatnya, dan tubuh yang selalu menjadi tempatnya pulang.

Sumpah, Fajar tak ingin ada hari esok, Fajar tak ingin malam ini berakhir.

“Kak,”

Tak ada jawaban dari Fajar.

“Kak?”

Fajar perlahan menghembuskan napasnya, mencoba menetralkan napasnya agar ia tak kelepasan dengan tangisnya.

“Ya?”

“Pulang, yuk? Udah jam segini.”

Lagi-lagi Fajar menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya sekejap. Laki-laki itu kemudian melepaskan pelukannya.

Ikhlas, dirinya harus ikhlas jika ini adalah perpisahan yang sesungguhnya.

Fajar mengangguk, ia hendak beranjak mendahului Kia, namun tangannya ditahan oleh gadis itu.

Gadis itu tersenyum, senyum yang selalu menjadi semangat bagi Fajar.

Kia menjinjitkan sedikit kakinya, ia kemudian sekilas mengecup bibir milik Fajar. Bersamaan dengan itu, air mata Fajar pun menetes.

Kia langsung berjalan mendahului Fajar dan menuju mobilnya.

“Harus, harus kuat.”

286.

Kosong, entah mengapa hatinya terasa kosong. Satu minggu terakhir ini rasanya benar-benar hampa.

Gadis berambut pendek itu menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi.

Ya, dua hari lalu Nakia baru saja memotong rambutnya. Entah mengapa akhir-akhir ini rambutnya sangat rontok, sehingga ia memutuskan untuk memotong rambut panjangnya itu.

Sebenarnya sudah hampir dua puluh menit ia hanya berdiri dan menatap gedung-gedung tinggi di rooftop kantornya ini, tetapi ia tidak juga memutuskan untuk pergi.

Hingga pada akhirnya, Evan tiba-tiba datang dan juga mulai menatap gedung-gedung tinggi itu mengikuti arah mata Kia.

Kia sadar akan kedatangan Evan, namun ia tak menggubrisnya. Gadis itu lebih memilih memejamkan matanya ketika angin menghembus rambutnya. Merasakan sensasi luka yang belum lama ini menggores hatinya.

Evan menatap Kia, menatapnya dengan tatapan sangat dalam, menatapnya dengan tatapan yang sangat kagum dan menatapnya dengan tatapan penuh harap.

Laki-laki itu mengeluarkan satu bungkus rokok dan korek gas dari sakunya. Kemudian ia mulai menyalakan rokoknya.

Sadar dengan bau asap rokok yang mulai masuk ke indra penciumannya, Kia membuka matanya dan melihat ke arah Evan yang sedang menghisap rokoknya sembari tetap menatap gedung-gedung tinggi itu.

Namun demikian, Kia tak peduli. Ia hanya menggeser sedikit untuk menjauh dari Evan.

Karena sedari tadi tidak ada percakapan, akhirnya Evan membuka suaranya.

“Lo masih ngga percaya?” tanya Evan.

Tak tertarik dengan pertanyaan Evan, Kia memutuskan untuk pergi.

“Diem dulu.”

Ketika mendengar kata yang penuh penekanan dari Evan, langkah Kia terhenti.

“Gue harus kaya gimana lagi biar semua orang terutama lo percaya sama gue,” ujar Evan santai dengan posisi yang tak pernah berubah.

Laki-laki itu kembali menghisap rokoknya.

“Dulu, waktu pas pertama kali kenal Silla ...”

“pas abis pulang sekolah ketemu dia di jalan, dia lagi nangis-nangis sepulang dari acara hari ibu di sekolahnya,” ujar Evan memulai ceritanya.

“Gue kira kenapa, ternyata karena dia yang iri ngeliat temen-temennya yang bisa ngucapin selamat hari ibu secara langsung ke ibunya.”

Evan menghembuskan napasnya, mempersiapkan untuk melanjutkan ceritanya.

“Dari situ gue ngerasa kalo gue sama dia itu saling melengkapi. Gue yang ngga pernah ngerasain kasih sayang seorang ayah dan dia yang ngga pernah ngerasain kasih sayang seorang ibu.”

“Dan semenjak itu, gue deket sama dia. Gue kira dia ngga pernah naruh rasa lebih ke gue, entah itu salah gue yang ngga sadar kalo sikap gue yang berlebihan, atau emang dianya yang salah ngartiin sikap gue.”

“Epan,”

Evan menengok ketika namanya dipanggil oleh wanita yang paling ia cintai setelah ibunya.

“Buang rokoknya.”

Evan menurut, ia membuang batang rokok itu dan menginjaknya agar api kecilnya padam.

“Di luar dari semua cerita kamu itu, kamu udah salah,” ujar Kia.

“Aku ngga butuh dengerin cerita kamu, aku cuma mau kamu tanggung jawab atas apa yang udah kamu lakuin.”

Mendengar itu, Evan mendekatkan dirinya pada Kia, membuat Kia memundurkan langkahnya.

“Kalo itu bukan anak gue, gimana? Gue harus tetep tanggung jawab?”

Kia tak menjawab.

“Kia, lo tau ga sih kalo gue sayang sama lo?”

“Lo tau ngga, dari dulu gue sayang sama lo itu lebih dari temen?”

“Lo tau ngga, dari dulu gue suka liatin lo diem-diem dari jauh?”

Lagi, tak ada jawaban dari Kia.

“Jawab.”

“JAWAB, NAKIA. JAWAB!”

Suara Evan meninggi, sehingga menjadi suara bentakan, bahkan urat di lehernya sampai terlihat jelas.

“LO TAUNYA GUE ITU LAKI-LAKI YANG DULUNYA LEMAH, LAKI-LAKI PENAKUT DAN SEKARANG MALAH JADI LAKI-LAKI BRENGSEK, LAKI-LAKI JAHAT, LAKI-LAKI —“

“Epan ....”

Bentakan Evan terputus.

Kia meremat tangannya sendiri, berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar.

Sadar bahwa mata lawan bicaranya yang mulai nampak berkaca-kaca, Evan menggerutu di dalam hatinya.

“Maaf ....” Ujar Evan.

“Maaf, aku ....”

Kia hendak pergi, namun sebelumnya ia menampar pipi kanan Evan terlebih dahulu.

285.

Evan baru saja turun dari mobilnya, ia hendak masuk ke dalam rumahnya.

Pintu rumahnya langsung terbuka tanpa diketuk dan ternyata Fajar yang membuka pintu itu.

Evan ingin masuk, namun Fajar menghalanginya.

“Awas,” ujar Evan dingin.

Tiba-tiba saja, Fajar melayangkan satu pukulan tepat pada pipi Evan.

“ANJING! LO ANJING!”

Fajar mencengkeram kerah kemeja Evan, menghantam berkali-kali pipi milik adiknya itu sampai Evan terjatuh.

Mendengar ada suara pertengkaran, mamahnya keluar dari dalam rumahnya dan langsung memisahkan keduanya, menarik Fajar agar lebih menjauh dari Evan.

“Kalian kenapa lagi?!” ujar Mamahnya Evan dengan nada yang cukup tinggi.

Fajar tetap murka, ia hendak menghanjar Evan lagi namun dengan cepat mamahnya menjauhkannya.

“Udah bang, udah!”

“Kalian ada apa sampe pukul-pukulan gini?!”

Tak ada jawaban dari keduanya, bahkan Fajar kembali melontarkan ucapannya dengan nada yang membentak.

“GUE UDAH NGELEPAS KIA KARENA DIA SAYANG SAMA LO, KARENA BAHAGIANYA DIA ADA SAMA LO, TAPI LO MALAH BRENGSEK!”

Evan bangkit, ia mengelap bibirnya yang sudah berdarah dengan tangannya.

Namun, tiba-tiba saja dirinya tumbang. Mamahnya itu panik, namun Fajar sama sekali tidak peduli.

277.

Tangan kanan Kia bertumpu pada meja kerjanya, sedangkan tangan kirinya sekilas menyentuh keningnya. Kepalanya seketika terasa pening dan lututnya melemas.

Kia hampir saja terjatuh, namun dengan cepat, Evan menahannya. Entah sejak kapan Evan berada di ruangannya.

Kia segera menepis dengan kasar tangan Evan yang memegang bahunya.

“Lo kenapa?”

“Muka lo pucet, mata lo juga bengkak. Lo sakit?”

Kia tak menjawab, ia hendak pergi namun lengannya segera ditahan oleh Evan.

“Lo salah paham,”

“Dengerin gue dulu, gue mau jelasin semuanya.”

“Apa yang mau dijelasin? Ngga ada yang perlu dijelasin,” ujar Kia.

“Lo ke mana selama seminggu ini? Lo ngeblock semuanya, bahkan sampe ayah sama bunda lo pun ngga ada yang ngeladenin chat gue.”

Kia muak, ia hendak pergi namun lagi-lagi lengannya ditahan oleh laki-laki ini.

“Gue kira lo ngga bakal dateng,”

“Gue kira lo nerima Fajar dan lo ngga ngeladenin permintaan gue yang minta lo buat dateng ke lokasi yang gue kirim waktu itu.”

Kia menciptakan senyum mirisnya.

“Kamu kira aku ngga bakal dateng?”

“Jadi kalo kamu tau aku bakal dateng, kamu bakal prepare semuanya biar ngga keciduk, gitu?”

“Bukan gitu,” Evan mengelak.

Kia terkekeh. “Mimpi apa ya aku, sampe rela nyakitin Fajar demi laki-laki brengsek.”

“Dia yang tiba-tiba dateng ke apart aku, dia yang tiba-tiba ngelakuin itu. DIA, DIA YANG NGELAKUIN ITU SEMUANYA. BUKAN AKU, NAKIA!”

Suara Evan meninggi, membentak gadis berwajah pucat yang ada di hadapannya.

Sebentar,

”Apart aku?”

Kia terkejut mendengar bentakan dari Evan, matanya mulai memerah. Ia menahan hembusan napasnya dan mencoba menetralkan napasnya. Karena jika ia tidak bernapas dengan perlahan, air matanya pasti sudah terjatuh.

“Sejak kapan kamu tinggal di apartemen?” tanya Kia.

Evan tak menjawab, ia mematung.

“Kamu bilang dia yang ngelakuin itu semua, bukan kamu? Iya?”

“Tapi kamu mau,”

“Aku liat pake mata kepala aku sendiri, kamu ngga keliatan terpaksa.”

Kia tersenyum, “ya, masa sih kepaksa? Atau emang dasarnya nafsu kamu aja yang gede?”

Kia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Evan. Namun saat sampai di ambang pintu, Kia terjatuh di lantai.

Evan menghampiri Kia, laki-laki itu mencoba menepuk pelan pipi pucat milik Kia. Kia tak sadarkan diri dan Evan segera mengangkatnya, hendak membawanya ke mobil untuk pergi ke rumah sakit.

Disappointed.

Dengan langkah yang sangat cepat, Kia menuju lokasi yang sebelumnya Evan kirimkan.

Lokasi itu menuntunnya ke sebuah apartemen yang besar. Kia memasuki lift untuk menuju ruangan yang Evan berikan.

Kakinya bertumpu dengan sedikit bergetar, pikirannya entah ke mana. Hati dan pikirannya terus berperang, apakah ini keputusan yang tepat?

Sampailah ia tepat di depan pintu sebuah ruangan yang Evan katakan.

Lagi-lagi hati dan pikirannya kembali beradu. Kia menghembuskan napasnya, memejamkan matanya, merasakan segala pikiran yang sedari tadi mengacau. Rasanya ingin berbalik arah, namun mungkin sudah terlambat. Keegoisannya sudah terlanjur mengubah segalanya.

Bodoh, bisa-bisanya dia menghancurkan laki-laki yang hatinya sekuat besi, yang sabarnya melebihi seseorang yang doanya tak kunjung Semesta kabulkan. Fajar terlalu palamarta untuk mendapatkan wanita tambung seperti Kia.

Kia kembali membuka ponselnya, melihat kembali room chatnya dengan Evan. Ia melihat angka-angka yang Evan berikan padanya sebagai password pintu besar ruangan itu.

Entah kini apa yang sedang merasukinya, dengan mantap, Kia menekan tombol-tombol password ruangan itu dan terbukalah pintunya.

Kia melangkahkan kakinya untuk masuk. Tentunya dengan ragu, sangat ragu.

Ia sampai pada pertengahan ruangan ini, tetapi belum juga menemukan laki-laki yang memintanya untuk datang kemari.

Kia melirik sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Karena pikirannya yang mengatakan bahwa ada Evan di ruangan itu, Kia segera menghampirinya.

Hanya butuh beberapa langkah untuk sampai tepat di hadapan pintu itu. Kia melangkahkan satu langkahnya lagi, berniat untuk mengintip terlebih dahulu, memastikan apakah ada Evan di dalamnya.

Deg.

Seketika kakinya langsung melemas, jantungnya berpacu hebat.

Apa yang sedang Semesta rencanakan? Kenapa Semesta selucu ini?

“Epan ....” ujar Kia dengan suara pelan.

Yang dipanggil tak juga meliriknya, mungkin karena suara Kia yang terlalu pelan.

Buliran bening mulai keluar dari mata indahnya. Sakit, hatinya sangat sakit. Dengan jelas, dengan langsung, dan dengan mata kepalanya sendiri ia melihat laki-laki yang membuatnya rela sampai harus menyakiti kekasihnya itu sedang bercumbu dan beradu bibir dengan mesra bersama seorang wanita.

“EPAN!”

Evan menengok ke arah teriakan yang memanggilnya.

Laki-laki yang sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita itu menghentikan aktivitasnya.

“Kia?”

Kia segera memutar tubuhnya, berlari dan meninggalkan ruangan ini.

Evan hendak mengejarnya, namun wanita yang sedang berada di pelukannya itu menahan lengannya.

“Lo mau ke mana?”

Evan menepis dengan kasar tangan wanita itu.

Evan segera berlari menghampiri Kia. Penampilannya yang hanya memakai celana pendek dan kemeja yang sedikit berantakan itu tak membuatnya menghiraukan penampilannya.

Entah ke mana perginya Kia, gadis itu sangat cepat melangkahkan kakinya.

Evan, sama jahatnya dengan Kia.

Kita (dan akhir).

Fajar menutup kembali kotak merah berisi cincin yang tadinya hendak dilingkarkannya pada jari manis milik kesayangannya.

Kotak cincin itu ditutupnya dengan beribu-ribu rasa kecewa.

“Kak, maaf ....”

Entah terbuat dari apa hati laki-laki ini hingga masih bisa melengkungkan bibirnya, menciptakan senyum manis yang sebenarnya penuh luka. Senyum yang selalu menjadi candu bagi Kia dan senyum yang selalu bisa menyalurkan ketenangan untuk Kia. Namun hari ini, Kia melukai hati si pemilik senyum yang paling damai itu.

“Kenapa baru sekarang?”

“Kenapa ngga bilang dari dulu?”

“Semua yang kita lewatin lebih dari tujuh tahun itu apa?” tanya Fajar berturut-turut.

Kia berani bersumpah, saat ini ia merasa menjadi manusia paling jahat, paling bodoh, dan paling kejam.

“Maafin aku ....” Hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Kia.

Fajar menghembuskan napasnya gusar dan memejamkan matanya sejenak.

“Dari awal,”

“Dari awal aku udah ngga enak rasa sama kedeketan kamu sama Epan.”

“Aku kurang apa? Aku kurang apa sama kamu?”

Kia meremas bajunya, tak menjawab pertanyaan dari Fajar.

Fajar meraih kemudian menggenggam tangan kecil milik Kia. Air matanya mulai membasahi pipinya.

“Bahagianya kamu ... bukan aku, ya?”

“Maaf ....” Lagi-lagi, Kia hanya bisa meminta maaf.

“Oke,”

“Pergi sekarang, samperin dia.”

;

Kia dan Evan kini sudah berada di depan sekolah Jio. Supir pribadi yang biasa mengantar jemput Jio sedang pulang kampung, jadilah Evan yang harus menjemput Jio. Ayahnya tidak menyuruh Fajar karena Fajar sedang sibuk di rumah sakit dan Ayahnya sendiri sedang menjaga mamahnya di rumah.

“Jio mana ya, Kok belum keliatan?” tanya Kia.

Terlihat baru beberapa murid yang keluar dari sekolah ini, sepertinya kelas Jio belum selesai.

Kia melihat tiga orang anak laki-laki yang baru saja keluar dari gerbang sekolah. Sangat tak diduga, tiba-tiba saja dua orang anak yang terlihat lebih memiliki tubuh yang besar menjatuhkan sebuah kotak makan milik satu anak tersebut yang ternyata berisi dua buah kiko.

“Masih jaman makan kaya ginian?” ucap salah satu dari dua anak yang menjatuhkan kotak itu.

“kampungan lo!” ucapnya lagi sembari mendorong anak si pemilik kotak makan itu sampai terjatuh.

Kia yang melihatnya pun langsung menghampiri mereka, namun tidak dengan Evan yang hanya melihatnya saja.

Kia langsung membantu berdiri anak laki-laki yang didorong itu.

“Ini kok temennya didorong sih?” tanya Kia yang sedikit geram.

“Biarin kak, anak kampung pantes digituin.”

“Eh, ngga boleh gitu. Kita semua itu sama aja, ngga boleh beda-bedain kaya gitu,” ujar Kia.

Namun dua anak yang nakal itu tidak mendengarkan Kia, mereka langsung pergi begitu saja.

Kia segera memasukkan kiko yang terjatuh di tanah ke dalam kotak makannya kembali. Kemudian ia menyerahkannya pada pemiliknya.

“Kamu ngga apa-apa?”

Anak itu mengangguk, “makasih ya, kak.”

Kia tersenyum kemudian memupuk pelan kepala anak laki-laki itu.

“Kamu udah sering digituin ya sama mereka?” tanya Kia.

Lagi-lagi anak itu mengangguk.

Kia menghembuskan napasnya, “kalo kamu dijahatin lagi kaya tadi, bilangin ke guru sama orang tua kamu, jangan takut.”

Anak laki-laki itu menunduk, “ngga berani ....”

“Eh, harus berani dong. Masa mau dijahatin terus? Harus berani, oke?”

Anak laki-laki itu mengangguk-ngangguk. Kia tersenyum dan kembali memupuk pelan kepala anak laki-laki itu.

Evan mematung melihatnya, kemudian ia langsung berlari menuju mobilnya.

Melihat itu, Kia langsung pamit kepada anak laki-laki tersebut dan segera menyusul Evan yang sudah masuk ke dalam mobil.

Kia terkejut ketika melihat Evan yang sudah berada di dalam mobil dengan tangan yang bergetar.

“Epan, kamu kenapa?”

Evan tak menjawab, ia malah menutup telinga dengan tangannya rapat-rapat.

Kia mencoba menggenggam telapak tangan Evan yang sedang gemetar hebat.

“Aku ... aku ...” ucap Evan terbata-bata.

“Aku ... takut, tadi ....”

Kia mengerutkan keningnya. Anak laki-laki yang tadi kia hampiri karena sedang dirundung oleh dua temannya itu, ternyata mirip dengan kejadian di masa lalu yang pernah Evan alami. Kia bingung dengan reaksi Evan setelah melihat kejadian tadi, Apakah anak ini memiliki trauma?

Tangan Evan masih bergetar, napasnya tidak teratur dan sedikit memburu.

Tak ada pilihan lain, Kia langsung menarik dan memeluk Evan. Ia pikir, ini akan sedikit menenangkannya.

Kia mengelus pelan punggung Evan, menepuknya pelan, memberinya kehangatan dan menyalurkan ketenangan. Namun, Kia mulai mendengar isakan Evan. Laki-laki itu menangis.

“Kia, aku takut ....” Evan semakin terisak.

“Hei, kamu nakutin apa?”

“Semuanya baik-baik aja, ngga ada yang perlu ditakutin,” ujar Kia yang masih mengusap-usap punggung besar milik Evan.

“Ki ... takut ....” Lagi-lagi kata takut yang Evan katakan.

“Jangan ke mana-mana, aku takut ....”

“Jangan nangis, ah. Nanti ada Jio, masa nangis? Ngga malu?”

Namun, isakan Evan semakin terdengar jelas.

Tanpa disadari, Kia ikut meneteskan air matanya, seakan turut merasakan rasa sakit yang sedang dirasakan oleh Evan.

Lirihan Evan yang memintanya untuk tidak meninggalkannya itu, benar-benar sama percis dengan lirihannya ketika laki-laki itu masih berusia dua belas tahun.

;

Evan melangkahkan kakinya ke sana dan kemari dengan resah sembari menunggu kabar dari dokter tentang kondisi mamahnya.

Laki-laki itu kemudian duduk dan menautkan jari-jarinya dengan resah. Berkali-kali membuang napas dengan gusar dan berkali-kali mengusap kepalanya dengan kasar.

Kia yang juga menemani Evan ikut merasakan keresahan. Wanita itu mencoba menggenggam tangan besar milik Evan yang terlihat sedikit bergetar, tetapi malah ditepisnya oleh sang pemilik dengan kasar. Padahal, niatnya ingin menyalurkan ketenangan.

Tak lama kemudian, Fajar dan Silla datang. Entah, apa yang bisa membuat mereka datang bersamaan.

Evan segera bangkit dari duduknya. Tanpa aba-aba, Evan melayangkan satu pukulan tepat di pipi milik Fajar.

“BRENGSEK LO!”

“UDAH GUE BILANGIN JAGAIN MAMAH DI RUMAH, JANGAN KE MANA-MANA!”

Kia langsuk menarik tangan Evan yang sedang mencengkeram kuat kerah baju Fajar.

Evan menepis tangan Kia, “Apa? Lo ngga terima cowok lo gue hajar? IYA?”

“Bukan gitu, Epan. Ini rumah sakit, masa kalian mau berantem?”

Evan tak mendengarkan perkataan Kia, ia lagi-lagi menghantam pipi Fajar dengan dua hantaman sekaligus. Namun, Fajar tidak balik memukul Evan. Fajar hanya pasrah pipinya dihantam berkali-kali oleh adiknya itu.

“Epan, udah!”

Kia dan Silla semakin panik, Kia kembali mencoba menarik tangan Evan dan berhasil menjauhkannya dari Fajar.

Kia menuntun Evan untuk kembali duduk.

Napas Evan sangat memburu. Kia ingin meraih tangan Evan untuk menenangkannya, namun lagi-lagi ditepisnya dengan kasar.

“Awas,” ujar Silla membuat Kia menggeserkan duduknya.

Kini, Silla yang duduk di samping Evan. Silla meraih pundak besar milik laki-laki itu, kemudian membawanya ke dalam dekapannya. Silla mengusap pelan punggung Evan.

Laki-laki itu mulai terisak, tangisnya terdengar sangat jelas.

“Gue takut,”

“Gue ga punya siapa-siapa lagi ...” ujar Evan dalam isakannya.

“La, gue takut ....”

Silla terus saja mengusap punggung Evan, memberinya ketenangan pada laki-laki yang sedang diambang kekhawatirannya.

Sstt, udah ah,”

“Jangan nangis,”

“Semuanya bakal baik-baik aja,”

“Kita berdoa yang terbaik aja, ya?” ujar Silla lembut.

Kia hanya bisa menatap mereka. Ternyata ia tidak bisa menenangkan Evan, ternyata hanya Silla yang bisa melakukannya.

Kia menatap Fajar, “ke mobil dulu, yuk? Aku obatin pipinya,” ujar Silla pelan pada Fajar.

;

Evan mengenderai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Napasnya sedikit memburu.

Silla yang duduk di sampingnya hanya bisa merasa khawatir karena Evan yang mengebut. Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa, walaupun ia sendiri juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Evan, tetapi ia yakin pasti Evan sedang dalam amarahnya. Ia takut jika harus mengingatkan Evan untuk tidak mengebut.

Untungnya Evan dan Silla sampai dengan selamat di sebuah restoran yang sudah mereka sepakati bersama sebelum berangkat tadi.

Evan dan Silla segera memasuki restoran itu.

Tidak banyak yang mereka perbincangkan selama dalam perjalanan, sampai sekarang makanan mereka hampir habis. Silla yang tidak terlalu mengambil topik, karena ia paham alasan Evan mengajaknya pergi adalah untuk melampiaskan suasana hatinya yang sedang tidak bagus.

“Abis ini mau ke mana?” tanya Evan tiba-tiba.

“Lho, ya terserah. Kan lo yang ngajak jalan.”

Evan menghembuskan napasnya, membuat Silla semakin bingung apa yang sedang terjadi dengan pria ini.

“Gue mau ke toilet,” ujar Silla dan langsung segera beranjak.

Evan melihat ponsel Silla yang tergeletak di mejanya itu. Ia kemudian meraih dan memainkannya.

Jangan heran, Evan pasti tau password ponsel milik Silla.

Ada salah satu room chat yang membuatnya tertarik untuk membukanya.

Evan membaca semua isi pesan yang ada di dalam room chat itu. Sampai Silla kembali datang, ia tak juga menaruh ponselnya.

“Lagi liat apa?” tanya Silla yang membuat Evan sediki terkejut.

Evan menggelengkan kepalanya, kemudian segera menyerahkan ponselnya kembali pada Silla.

Evan menatap Silla dengan sangat serius, sampai Silla sadar bahwa dia sedang ditatapnya.

“Kenapa?” tanya Silla.

Evan menggeleng.

Kembali hening, tak ada percakapan.

Sampai pada akhirnya, Evan tiba-tiba menyodorkan sebuah kotak merah yang sudah terbuka.

“La,”

Silla menengok dengan tatapan heran.

“Cantik ya kalungnya?” tanya Evan.

Evan mengambil kalung yang ada di dalam kontak merah tersebut. Ia kemudian beranjak untuk memakaikan kalungnya pada leher Silla.

Silla hanya terdiam dan bingung.

Evan menatap kalung yang sudah sempurna terpasang pada leher Silla. Laki-laki itu kemudian tersenyum.

“Cantik,” ujar Evan.

“Buat gue?” tanya Silla.

Evan mengangguk, “makin cantik kalo lo yang pake.”