haechanketawa

;

“Oh iya, ya. Hari ini ada janji juga sama kak Fajar,” gumam Kia setelah melihat pesan dari Fajar.

Kia baru ingat, bahwa sebelumnya ia mempunyai janji kepada Fajar untuk pergi bersama. Namun, iya sudah terlanjur mengiyakan ajakan Evan yang entah akan mengajaknya ke mana.

Kia hendak mengirimkan pesan kepada Evan untuk meminta maaf karena tidak bisa menemaninya pergi. Namun, tiba-tiba saja ponselnya itu mati.

“Ah, pake lowbatt segala, mana ngga bawa powerbank.”

Kia meninggalkan ruangan kerjanya. Ia kemudian pergi untuk menghampiri salah satu temannya yang menjadi staff di kantor ini.

“Tania,” ucap Kia pada wanita yang bernama Tania itu.

“Iya, kenapa bu?”

Kia terkekeh, “Ah, kamu manggilnya pake Bu segala.”

Tania tertawa kecil, “Ya kali saya manggil namanya aja.”

“Kalo kamu manggil gitu, aku ngga bakal makcomblangin kamu sama si Agra ya,” ujar Kia.

Tania tertawa menanggapi ucapan Kia, “iya-iya. Kenapa, ki?”

“Nanti kalo ada Epan tolong bilangin aku pergi duluan ya, soalnya ada urusan. Ponsel aku mati, jadi ngga bisa ngabarin. Tadi juga aku udah coba ke ruangannya, tapi ngga ada orangnya.”

Tania mengangguk, “Oh, oke-oke siap. Lo mau jalan sama Fajar, ya?”

Kia tersenyum.

“Ah, udah jelas. Ya kali malem minggu kagak malmingan sama pacar,” ujar Tania.

Kia terkekeh, “Ya udah ya, aku duluan. Makasih, Tan.”

“Yoi. Hati-hati, Ki.”

Tania dan Kia sudah berteman baik semenjak mereka duduk di bangku SMP. Kini, Kia menjadi atasan Tania di kantor. Tetapi Kia tidak pernah mau jika ia disebut dengan sebutan yang formal oleh temannya itu.

263.

“Oh iya, ya. Hari ini ada janji juga sama kak Fajar,” gumam Kia setelah melihat pesan dari Fajar.

Kia baru ingat, bahwa sebelumnya ia mempunyai janji kepada Fajar untuk pergi bersama. Namun, iya sudah terlanjur mengiyakan ajakan Evan yang entah akan mengajaknya ke mana.

Kia hendak mengirimkan pesan kepada Evan untuk meminta maaf karena tidak bisa menemaninya pergi. Namun, tiba-tiba saja ponselnya itu mati.

“Ah, pake lowbatt segala, mana ngga bawa powerbank.”

Kia meninggalkan ruangan kerjanya. Ia kemudian pergi untuk menghampiri salah satu temannya yang menjadi staff di kantor ini.

“Tania,” ucap Kia pada wanita yang bernama Tania itu.

“Iya, kenapa bu?”

Kia terkekeh, “Ah, kamu manggilnya pake Bu segala.”

Tania tertawa kecil, “Ya kali saya manggil namanya aja.”

“Kalo kamu manggil gitu, aku ngga bakal makcomblangin kamu sama si Agra ya,” ujar Kia.

Tania tertawa menanggapi ucapan Kia, “iya-iya. Kenapa, ki?”

“Nanti kalo ada Epan tolong bilangin aku pergi duluan ya, soalnya ada urusan. Ponsel aku mati, jadi ngga bisa ngabarin. Tadi juga aku udah coba ke ruangannya, tapi ngga ada orangnya.”

Tania mengangguk, “Oh, oke-oke siap. Lo mau jalan sama Fajar, ya?”

Kia tersenyum.

“Ah, udah jelas. Ya kali malem minggu kagak malmingan sama pacar,” ujar Tania.

Kia terkekeh, “Ya udah ya, aku duluan. Makasih, Tan.”

“Yoi. Hati-hati, Ki.”

Tania dan Kia sudah berteman baik semenjak mereka duduk di bangku SMP. Kini, Kia menjadi atasan Tania di kantor. Tetapi Kia tidak pernah mau jika ia disebut dengan sebutan yang formal oleh temannya itu.

244.

“Woi,”

“Woi!”

“HEH, EPAN!”

Evan mengerjapkan matanya dari lamunannya. Ia terkejut ketika A Agra memukul meja yang kini sedang menjadi penopang tangannya.

“Calon pak dirut bukannya kerja, malah ngelamun,” ujar A Agra pada Evan.

“Ngelamunin naon sih?”

Evan menghembuskan napasnya, tak menjawab

A Agra melihat ke arah depan, ternyata ada Kia yang sedang mengobrol dengan staff.

Kini, Kia dan A Agra bekerja di perusahaan milik ayahnya Fajar dan Evan, sehingga setiap hari Evan dan Kia bisa bertemu.

“Oh, kamu lagi ngeliatin si Kia? Sambil ngebayangin apa hayoh, sampe senyum-senyum gitu?” tanya A Agra.

“Tau ah.”

Evan beranjak pergi meninggalkan A Agra dan segera menuju ruangannya.

A Agra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat kelakuan sepupunya yang satu ini.

“Dasar bujang.”

;

Setelah Kia mengiyakan permintaan suaminya itu, Evan segera pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, terlihat istrinya yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv dengan serius.

Dengan jahil, Evan diam-diam menutup mata Kia dari belakang, sehingga membuat Kia terkejut. Namun, Kia sudah tahu pasti siapa yang sedang menjahilinya ini.

“Lepasin, aku lagi nonton,” ucap Kia.

“Ngga mau.”

“Aku mau lepasin tapi kamu jangan buka mata,” ujar Evan.

Kia menuruti permintaannya, Evan melepaskan tangannya dari mata Kia dan Kia tetap memejamkan matanya.

Evan melepaskan dasinya yang masih bertengger di kerah kemeja kerjanya itu, ia kemudian menutup mata Kia dengan dasinya.

“Eh, kok malah pake dasi?”

Setelah selesai mengikat dasinya di mata Kia, Evan segera mematikan tvnya yang masih menyala.

Evan duduk di samping Kia, menatap istri cantiknya dengan lengkungan senyum yang tak pernah pudar.

“Kamu mau ngapain sih?” tanya Kia yang perasaannya mulai tidak enak.

“Si adek tidur kan?”

Kia mengangguk.

Evan mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya yang cantik itu. Kia bisa merasakan hembusan napas Evan, sehingga perempuan itu memundurkan kepalanya dan mendorong Evan.

“Kamu mau ngapain?”

“Ya, katanya cium?” jawab Evan.

Tanpa basa-basi, Evan meraih pinggang Kia dan menariknya agar tubuh istrinya itu semakin dekat dengannya.

Evan menangkup wajah Kia dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih berada di pinggang Kia.

Ia memejamkan matanya dan mulai menyatukan bibirnya dengan bibir milik wanitanya itu. Kia sedikit tersontak, ditambah lagi bibirnya itu merasakan ada sesuatu yang lunak terus mendorong untuk masuk ke dalam mulutnya.

Akhirnya Kia mulai menerima. Dengan berani, Kia melepaskan dasi yang menutupi matanya itu. Ia kemudian meraih tengkuk Evan.

Sore itu, dua insan yang saling bercumbu, ditambah lagi rintik hujan yang mulai turun, sehingga menambahkan sensasi yang semakin mendukung.

Evan mengenderai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Napasnya sedikit memburu.

Silla yang duduk di sampingnya hanya bisa merasa khawatir karena Evan yang mengebut. Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa, karena ia yakin pasti Evan sedang dalam amarahnya. Ia takut jika harus mengingatkan Evan untuk tidak mengebut.

Untungnya, Evan dan Silla sampai dengan selamat di sebuah restoran yang sudah mereka sepakati sebelum berangkat tadi.

Evan dan Silla segera turun dari mobil dan segera memasuki restoran itu. Mereka kemudian memesan makanan.

Tidak banyak yang mereka perbincangkan selama dalam perjalanan sampai sekarang makanan mereka hampir habis. Silla yang tidak terlalu mengambil topik karena ia paham alasan Evan mengajaknya pergi adalah untuk melampiaskan suasana hatinya yang sedang tidak bagus.

“Abis ini mau ke mana?” tanya Evan tiba-tiba.

“Lho, ya terserah lo. Kan lo yang ngajak keluar.”

Evan menghembuskan napasnya, membuat Silla semakin bingung apa yang sedang terjadi dengan pria ini.

“Gue mau ke toilet,” ujar Silla dan langsung segera beranjak.

Evan melihat ponsel Silla yang tergeletak di mejanya itu. Ia kemudian meraih dan memainkan ponsel milik Silla.

Jangan heran, Evan pasti tau password ponsel milik Silla.

Ada salah satu room pesan yang membuatnya tertarik untuk membukanya.

Ia membaca isi pesan itu. Sampai Silla kembali datang, ia tak juga menaruh ponselnya.

“Lagi liat apa?” tanya Silla yang membuat Evan sediki terkejut.

Evan menggelengkan kepalanya, kemudian segera menyerahkan ponselnya kembali pada Silla.

Evan menatap Silla dengan sangat dalam. Sampai Silla sadar bahwa ia sedang ditatapnya.

“Kenapa?” tanya Silla.

Evan menggeleng.

Tiba-tiba saja, Evan menyodorkan sebuah kotak merah yang sudah terbuka.

“La,”

Silla menengok dengan tatapan heran.

“Cantik ya kalungnya?” tanya Evan.

Evan mengambil kalung yang ada di dalam kontak merah tersebut. Ia kemudian beranjak untuk memakaikan kalungnya pada leher Silla.

Silla hanya terdiam dan bingung.

Evan menatap kalung yang sudah sempurna terpasang pada leher Silla. Laki-laki itu kemudian tersenyum.

“Cantik,” ujar Evan.

“Buat gue?” tanya Silla.

Evan mengangguk, “makin cantik kalo lo yang pake.”

236.

Saat alarm ponselnya berdering, Kia terbangun dengan posisi tidur yang sembari duduk di samping sebuah brankar rumah sakit. Tangan kecilnya itu sedang menggenggam erat tangan milik bundanya yang sedang tertidur pulas di brankar tersebut.

Kia menengok ke arah belakang, ternyata ada Fajar yang sedang tertidur pulas di sofa yang ada di ruangan tersebut. Terlihat juga beberapa lembar kertas yang mungkin berisi tugas-tugas kuliahnya dan sebuah laptop yang masih menyala.

Kia menghampiri Fajar, “kak,” ujarnya pelan.

“Kak, bangun ....”

Fajar membuka perlahan matanya ketika mendengar suara milik perempuannya itu. Ia mencoba memfokuskan pandangannya.

“Kamu bangun jam berapa?” tanya Fajar sembari mengusap kedua matanya.

“Baru,” jawab Kia.

“Kamu semaleman di sini? Kenapa ngga pulang?” Tanya Kia.

“Nemenin kamu.”

“Sambil ngerjain tugas, ya? Baru tidur juga, kan? Laptopnya masih hidup.”

Fajar tersenyum, kemudian memupuk pelan puncak kepala kekasihnya itu.

“Kamu udah izin ke ayah sama mamah kamu?” tanya Kia lagi.

Fajar mengangguk sebagai jawaban.

“Bunda semalem bangun ngga?” Tanya Fajar.

“Bangun sebentar,” jawab Kia.

“Pas kamu izin mau pulang, kirain ngga bakal ke sini lagi. Jadi kamu ke sini lagi jam berapa?” Tanya Kia lagi.

“Sekitar jam sepuluh? Pokoknya kamu udah tidur.”

Kia mengangguk-anggukkan kepalanya paham.

“Mau sarapan apa?” tanya Fajar.

“Kamu pulang aja. Ngampus pagi, kan?”

Fajar menggeleng, “hari ini ngga ada jadwal.”

“Oh, ya? Perasaan hari rabu kamu ada kelas deh?” Kia tak percaya.

“Ngga, Ki. Mau sarapan apa? Nanti aku keluar.”

“Nasi uduk di bawah ada ngga, ya?”

“Ada, mau?”

Kia mengangguk.

“Ya udah, bentar ya.”

Fajar segera beranjak untuk pergi membeli sarapan.

Kia menatap punggung besar kekasihnya yang beranjak dari duduknya.

Jujur saja, Kia tidak berani jika harus sendiri untuk menemani bundanya di ruangan ini. Ia sangat bersyukur ada Fajar yang setiap saat selalu ada ketika ia membutuhkannya.

234.

Evan baru saja pulang dari rumah Bundanya Kia. Ia kini sedang duduk di kursi yang ada di depan rumahnya.

Laki-laki itu termenung, sedikit ada rasa bersalah karena tidak membalas pesan dari Kia yang meminta bantuan kepadanya. Andai saja Kia mengirimkan pesannya sebelum Evan pergi mengantar Silla ke makam ibunya, pasti laki-laki itu akan lebih memilih pergi ke rumah Bundanya Kia.

Dalam lamunannya, tiba-tiba saja Jio datang menghampiri dan duduk di sampingnya.

“A, mau ngga?” tanya Jio sembari menyodorkan satu buah kiko kepada Evan.

Evan tersenyum, “buat Aa?”

Jio mengangguk, kemudian Evan meraih kiko yang disodorkannya.

“Makasih ya,” ucap Evan.

Adiknya itu menatapnya kala Evan hendak menggunting bagian ujung kikonya.

“A, tapi,”

Evan menatap ke arah Jio.

“Kikonya cuma satu, kalo dimakan aa nanti ngga ada buat Jionya,” ujar Jio yang terus menatap kiko yang ada di tangan Evan.

Evan tersenyum ketika mendengar ucapan adiknya itu.

“Potong jadi dua aja, ya? Nanti aa beliin lagi.”

Jio mengangguk, kemudian Evan menggunting menjadi dua kiko yang masih beku itu.

Evan dan Jio memakan kikonya bersama. Kemudian tiba-tiba Jio bertanya, “Aa kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Tadi Jio liatin dari jendela, aa kaya lagi ngelamun.”

“Ngga apa-apa. Cuma lagi banyak tugas sekolah, jadi capek,” ucap Evan berbohong pada adiknya.

Evan memupuk pelan puncak kepalanya adiknya yang masih berusia enam tahun itu. Ia baru sadar, ternyata adiknya sangat lucu. Selama ini, ia selalu tidak peduli kepada adiknya, bahkan ia pernah menolak dan merajuk kepada mamahnya ketika tau bahwa ia akan segera mempunyai adik.

Rumah pohon dan tujuh tahun yang lalu.

Sudah sekitar tiga jam Evan dan Kia menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Bandung. Sebelumnya, mereka mampir terlebih dahulu ke tempat saudara Evan. Setelah itu, mereka pergi menuju rumah pohon yang dahulu sering mereka kunjungi.

“Masih ada ya ternyata,” ujar Kia menatap rumah pohon yang terlihat sudah tua. Kemudian mereka segera naik ke atasnya.

Evan menidurkan tubuhnya, memejamkan matanya, dan merasakan suasana rumah pohon yang rindang ini.

“Masih sama ya,”

“Tempatnya ngga banyak berubah,” ujar Evan.

Kia ikut merasakan suasana yang terasa seperti kembali ke tujuh tahun yang lalu.

“Orangnya yang berubah,” ujar Kia tiba-tiba.

“Epan,”

“Maaf ya ....“

“Waktu itu aku janji tiap liburan bakal main ke Bandung, tapi selama tujuh tahun aku ngga pernah ke Bandung lagi.”

Evan tersenyum kecut ketika mendengar permintaan maaf dari Kia.

“Ayah sama bunda pisah, ayah keluar masuk rumah sakit, yang ngurusin ayah cuma aku sama om aku. Aku sampe lupa buat ke Bandung lagi ....”

Evan bangkit dari tidurnya, kemudian duduk tepat di hadapan Kia.

“Gue tau,”

Kia menatap Evan.

“Enam bulan setelah kepindahan lo, gue juga pindah ke Jakarta,” ujar Evan.

Kia mengernyitkan dahinya, “ke Jakarta?”

“Mamah menikah sama ayahnya Fajar, gue juga sekolah di Jakarta.”

“Gue selalu tau tentang lo, gue tau lo sekolah di mana, dan kabar lo gimana.”

“Itu semua gue tau dari temen-temen lo di sekolah. Gue selalu nanya tentang lo ke mereka diem-diem, terus bilang buat jangan ngasih tau ke lo.”

“Setiap pulang sekolah, gue selalu diem-diem nungguin lo di depan gerbang sekolah lo. Gue selalu ngikutin dari belakang, karena gue khawatir lo selalu pulang sendiri.”

Evan tersenyum, “lucu kalo inget itu.”

“Kamu ngga bercanda?” Kia tak percaya.

“Kamu kenapa ngga nyamperin aku? Kamu kenapa ngga jujur? Kenapa harus diem-diem?”

Lagi-lagi Evan tersenyum.

“Lo ngga akan pernah ngerti, Ki,” gumam Evan di dalam hatinya.

Evan mengangkat tangan kanannya, menunjukkan sebuah gelang tali yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Liat punya gue, punya lo masih ada?”

Kia tersenyum, kemudian ia juga menunjukkan gelang talinya yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Masih dong,” jawab Kia.

Evan meraih tangan kanan Kia yang sedang diangkat karena sedang menujukkan gelangnya. Laki-laki itu kemudian menggenggam tangan kecil milik perempuan manis itu.

“Maafin gue, ya?”

“Maaf udah pura-pura,”

“Maaf buat semua perkataan yang bikin lo sakit hati.”

Kia terdiam, kemudian ia segera melepaskan tangannya yang sedang digenggam oleh Evan. Kia membuang pandangannya dari tatapan Evan.

Namun beberapa detik selanjutnya, Kia kembali menatap Evan dan tersenyum. Ia kemudian mengangkat jari kelingkingnya.

Evan mengangkat alisnya, menandakan dirinya yang bingung dengan maksud Kia.

“Kita bisa jadi temen baik lagi, kan? Kaya dulu?” tanya Kia.

Evan menatap Kia dalam, sangat dalam. Tatapan yang entah sangat sulit diartikan. Entah bagaimana bisa, hatinya terasa begitu tertohok ketika mendengar pertanyaan yang baru saja Kia ucapkan.

Detik selanjutnya, Evan tersenyum. Ia kemudian menautkan jari kelingking miliknya pada jari kelingking milik Kia. Menandakan sebuah janji persahabatan yang dahulu juga pernah mereka ikat bersama.

Namun Entah, hati milik Evan terus menggerutu. Merasa tidak terima dengan apa yang baru saja Kia katakan.

“Teman, ya?”

237.

Saat alarm ponselnya berdering, Kia terbangun dengan posisi tidur yang sembari duduk di samping sebuah brankar rumah sakit. Tangan kecilnya itu sedang menggenggam erat tangan milik bundanya yang sedang tertidur pulas di brankar tersebut.

Kia menengok ke arah belakang, ternyata ada Fajar yang sedang tertidur pulas di sofa yang ada di ruangan tersebut. Terlihat juga beberapa lembar kertas yang mungkin berisi tugas-tugas kuliahnya dan sebuah laptop yang masih menyala.

Kia menghampiri Fajar, “kak,” ujarnya pelan.

“Kak, bangun ....”

Fajar membuka perlahan matanya ketika mendengar suara milik perempuannya itu. Ia mencoba memfokuskan pandangannya.

“Kamu bangun jam berapa?” tanya Fajar sembari mengusap kedua matanya.

“Baru,” jawab Kia.

“Kamu semaleman di sini? Kenapa ngga pulang?” Tanya Kia.

“Nemenin kamu.”

“Sambil ngerjain tugas, ya? Baru tidur juga, kan? Laptopnya masih hidup.”

Fajar tersenyum, kemudian memupuk pelan puncak kepala kekasihnya itu.

“Kamu udah izin ke ayah sama mamah kamu?” tanya Kia lagi.

Fajar mengangguk sebagai jawaban.

“Bunda semalem bangun ngga?” Tanya Fajar.

“Bangun sebentar,” jawab Kia.

“Pas kamu izin mau pulang, kirain ngga bakal ke sini lagi. Jadi kamu ke sini lagi? Jam berapa?” Tanya Kia lagi.

Lagi-lagi Fajar tersenyum karena merasa gemas. Cerewet sekali gadisnya ini.

“Sekitar jam sepuluh? Pokoknya kamu udah tidur.”

Kia mengangguk-anggukkan kepalanya paham.

“Mau sarapan apa?” tanya Fajar.

“Kamu pulang aja. Ngampus pagi, kan?”

Fajar menggeleng, “Hari ini ngga ada jadwal.”

“Oh, ya? Perasaan hari rabu kamu ada kelas deh?” Kia tak percaya.

“Ngga, Ki. Mau sarapan apa? Nanti aku keluar.”

“Nasi uduk di bawah ada ngga, ya?”

“Ada, mau?”

Kia mengangguk.

“Ya udah, bentar ya.”

Fajar segera beranjak untuk pergi membeli sarapan.

Kia menatap punggung besar kekasihnya yang beranjak dari duduknya.

Jujur saja, Kia tidak berani jika harus sendiri untuk menemani bundanya di ruangan ini. Ia sangat bersyukur ada Fajar yang setiap saat selalu ada ketika ia membutuhkannya.

Sudah sekitar dua jam Evan dan Kia menempuh perjalanan dari Jakarta menuju Bandung. Sebelumnya, mereka mampir terlebih dahulu ke tempat saudara Evan. Setelah itu, mereka pergi menuju rumah pohon yang dahulu sering mereka kunjungi.

“Masih ada ya ternyata,” ujar Kia menatap rumah pohon yang terlihat sudah tua itu.

“Kata A Agra, sekarang suka jadi tempat belajar anak-anak,” ucap Evan.

Kia mengangguk menanggapi ucapan Evan. Mereka kemudian segera naik ke atas rumah pohon tua itu.

Evan menidurkan tubuhnya, memejamkan matanya, dan merasakan suasana rumah pohon yang rindang.

“Masih sama ya,”

“Tempatnya ngga banyak berubah,” ujar Evan.

Kia tersenyum, ikut merasakan suasana yang terasa seperti kembali ke tujuh tahun yang lalu.

“Orangnya yang berubah”, ujar Kia tiba-tiba.

“Epan,”

“Maaf ya .... “

“Waktu itu aku janji tiap liburan bakal ke Bandung, tapi selama tujuh tahun aku ngga pernah main lagi ke Bandung.”

Evan tersenyum kecut ketika mendengar permintaan maaf dari Kia.

“Ayah sama bunda pisah, ayah keluar masuk rumah sakit, yang ngurusin ayah cuma aku sama om aku. Aku sampe lupa buat ke Bandung lagi ....”

Evan bangkit dari tidurnya, kemudian duduk tepat di hadapan Kia.

“Gue tau,”

Kia menatap Evan.

“Enam bulan setelah kepindahan lo, gue juga pindah ke Jakarta,” ujar Evan.

Kia mengernyitkan dahinya, “ke Jakarta?”

“Mamah menikah sama papanya Fajar, gue juga sekolah di Jakarta.”

“Gue selalu tau tentang lo, gue tau lo sekolah di mana, dan kabar lo gimana.”

“Itu semua gue tau dari temen-temen lo di sekolah. Gue selalu nanya tentang lo ke mereka diem-diem, terus bilang buat jangan ngasih tau ke lo.”

“Setiap pulang sekolah, gue selalu diem-diem nungguin lo di depan gerbang sekolah lo. Gue selalu ngikutin lo dari belakang, karena gue khawatir lo selalu pulang sendiri.”

Evan tersenyum, “lucu kalo inget itu.”

“Kamu ngga bercanda?” Kia tak percaya.

“Kamu kenapa ngga nyamperin aku? Kamu kenapa ngga jujur? Kenapa harus diem-diem?”

Lagi-lagi Evan tersenyum.

“Lo ngga akan pernah ngerti, Ki.” Gumam Evan di dalam hatinya.

Evan mengangkat tangan kanannya, menunjukkan sebuah gelang tali yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Liat punya gue, punya lo masih ada?”

Kia tersenyum, kemudian ia juga menunjukkan gelang talinya yang melingkar di pergelangan tangannya.

“Masih dong,” jawab Kia.

Evan meraih tangan kanan Kia yang sedang diangkat karena sedang menujukkan gelangnya. Laki-laki itu kemudian menggenggam tangan kecil milik perempuan manis itu.

“Maafin gue, ya?”

“Maaf udah pura-pura,”

“Maaf buat semua perkataan yang bikin lo sakit hati.”

Kia terdiam, kemudian ia segera melepaskan tangannya yang sedang digenggam oleh Evan. Kia membuang pandangannya dari tatapan Evan.

Namun beberapa detik selanjutnya, Kia kembali menatap Evan dan tersenyum. Ia kemudian mengangkat jari kelingkingnya.

Evan mengangkat alisnya, menandakan dirinya yang bingung dengan maksud Kia.

“Kita bisa jadi temen baik lagi, kan? Kaya dulu?” tanya Kia.

Evan menatap Kia dalam, sangat dalam. Tatapan yang entah sangat sulit diartikan. Entah bagaimana bisa, hatinya terasa begitu tertohok ketika mendengar pertanyaan yang baru saja Kia ucapkan.

Detik selanjutnya, Evan tersenyum. Ia kemudian menautkan jari kelingking miliknya pada jari kelingking milik Kia. Menandakan sebuah janji persahabatan yang dahulu juga pernah mereka ikat bersama.

Namun Entah, hati milik Evan terus menggerutu. Merasa tidak terima dengan apa yang baru saja Kia katakan.

“Teman, ya?”