haechanketawa

199.

Aletta keluar dari kamar milik Gama. Gama yang sedang duduk sembari menonton televisi di ruang depan pun pandangannya langsung teralihkan pada Aletta.

“Sini dulu,” ujar Gama sambil menepuk dua kali sofa di sampingnya.

Aletta duduk di samping Gama, tetapi dengan jarak yang cukup jauh.

“Mau bikin darlung?” tanya Gama yang dibalas anggukan oleh Aletta.

“Kaget ya tadi?”

Aletta terdiam.

“Maaf.”

Gadis itu kini menunduk.

“Kamu punya trauma dicium cowok?” tanya Gama dengan polosnya.

Aletta langsung menatap Gama, “ngga, gama. Tadi tuh kamu tiba-tiba kaya gitu, terus deketin muka aku, ya aku takut lah.”

“Berarti kalo aku bilang dulu mau cium kamu, boleh?”

Aletta menarik napasnya dalam-dalam, tak habis pikir dengan laki-lakinya ini. Ingin sekali menciumnya atau bagaimana?

“Ga, nanti dimarahin bunda.”

Gama tertawa kecil mendengar jawaban dari gadisnya itu. Sangat polos, padahal Gama hanya bercanda.

“Mau pulang,” ujar Aletta tiba-tiba seperti anak kecil yang merengek meminta pulang.

“Ujannya gede banget, Al.”

“Udah bilang belum ke bunda mau nginep?” tanya Gama.

“Bunda lagi ngga di rumah.”

“Papa kamu ngga bakal ke sini, kan?” tanya Aletta.

Gama menggeleng, “Papa ngga pernah mampir ke sini lagi.”

“Emang papa kamu ke mana?”

Gama tersenyum tipis mendengar pertanyaan Aletta, membuat matanya pun ikut membentuk bulan sabit.

“Ada,”

“sama istri barunya.”

Gadis yang ada di hadapannya itu sedikit terkejut dan ada rasa tidak enak ketika mendengar jawaban dari lawan biacaranya.

“Maaf ….”

Gama tersenyum kemudian memupuk pucuk kepala milik Aletta.

“Jadi mau buat darlung?”

Aletta menggeleng, “mie aja deh.”

“Sambil nonton?”

“About time!”

196.

Gama membawa Aletta ke sebuah apartemen. Mereka memasuki salah satu unitnya.

Aletta sedikit bingung, sebenarnya ini apartemen milik siapa? Gadis itu sudah menanyakannya saat dalam perjalanan, tetapi Gama tak menjawabnya.

Gama berjalan mendahului Aletta dan mendudukkan dirinya pada sebuah sofa.

“Sini,” ujar Gama.

Aletta menurut dan duduk di samping Gama.

Gama menjelaskan kepada Aletta, “ini apartemen punya papa. Papa kasih satu unit buat aku.”

“Tadinya unit yang ini mau aku sewain, tapi kalo aku lagi pusing nanti ngga ada tempat buat ngelampiasinnya.”

Aletta hanya diam tak merespon Gama. Tak lama ada seekor kucing yang berjalan di hadapannya, membuat Aletta menghampiri kucing itu dan langsung menggendongnya.

Aletta terlihat sangat gemas dengan kucing itu hingga sepuluh menit berlalu Gama hanya memperhatikan Aletta yang asik bermain sendiri dengan memberikan sebuah makanan kepada kucing itu.

Aletta kembali duduk di samping Gama dengan kucingnya yang ia pangku.

Gama langsung mengambil kucing itu dan menaruhnya di bawah.

“Ih, aku mau foto kucingnya,” ujar Aletta sembari hendak kembali mengambil kucing tersebut.

Namun, dengan cepat Gama menarik kembali Aletta, membuat perempuan itu sedikit kesal.

Aletta dengan moodnya yang sedang tidak bagus itu menarik napasnya dalam-dalam, terlihat hendak mengeluarkan kekesalannya pada Gama.

Namun, ketika Aletta hendak mengeluarkan suaranya, Gama langsung mendekatkan wajahnya pada Aletta membuat Aletta tak jadi bersuara dan segera menjauhkan wajahnya dari Gama.

Aletta terkejut, hendak menggeser tubuhnya karena jarak wajah mereka yang sangat dekat, tetapi Gama dengan cepat menahan tangannya.

Aletta sedikit tidak nyaman, karena jarak diantara mereka yang benar-benar sangat dekat. Bahkan hembusan napasnya pun saling terasa.

Tak bisa dipungkiri, kini jantung Aletta berdegup begitu kencang. Ia bahkan khawatir jika Gama bisa mendengar detak jantungnya.

Wajah Aletta mulai memerah ketika Gama semakin mendekatkan wajahnya.

Aletta memundurkan kepalanya, “mau ngapain?”

Gama tersenyum, “for the K word,”

“can i?”

196.

Gama membawa Aletta ke sebuah apartemen. Mereka memasuki salah satu unitnya.

Aletta sedikit bingung, sebenarnya ini apartemen milik siapa? Gadis itu sudah menanyakannya saat dalam perjalanan, tetapi Gama tak menjawabnya.

Gama berjalan mendahului Aletta dan mendudukkan dirinya pada sebuah sofa.

“Sini,” ujar Gama.

Aletta menurut dan duduk di samping Gama.

Gama menjelaskan kepada Aletta, “ini apartemen punya papa. Papa kasih satu unit buat aku.”

“Tadinya unit yang ini mau aku sewain, tapi kalo aku lagi pusing nanti ngga ada tempat buat ngelampiasinnya.”

Aletta hanya diam tak merespon Gama. Tak lama ada seekor kucing yang berjalan di hadapannya, membuat Aletta menghampiri kucing itu dan langsung menggendongnya.

Aletta terlihat sangat gemas dengan kucing itu hingga sepuluh menit berlalu Gama hanya memperhatikan Aletta yang asik bermain sendiri dengan memberikan sebuah makanan kepada kucing itu.

Aletta kembali duduk di samping Gama dengan kucingnya yang ia pangku.

Gama langsung mengambil kucing itu dan menaruhnya di bawah.

“Ih, aku mau foto kucingnya,” ujar Aletta sembari hendak kembali mengambil kucing tersebut.

Namun, dengan cepat Gama menarik kembali Aletta, membuat perempuan itu sedikit kesal.

Aletta dengan moodnya yang sedang tidak bagus itu menarik napasnya dalam-dalam, terlihat hendak mengeluarkan kekesalannya pada Gama.

Namun, ketika Aletta hendak mengeluarkan suaranya, Gama langsung mendekatkan wajahnya pada Aletta membuat Aletta tak jadi bersuara dan segera menjauhkan wajahnya dari Gama.

Aletta terkejut, hendak menggeser tubuhnya karena jarak wajah mereka yang sangat dekat, tetapi Gama dengan cepat menahan tangannya.

Aletta sedikit tidak nyaman, karena jarak diantara mereka yang benar-benar sangat dekat. Bahkan hembusan napasnya pun saling terasa.

Tak bisa dipungkiri, kini jantung Aletta berdegup begitu kencang. Ia bahkan khawatir jika Gama bisa mendengar detak jantungnya.

Wajah Aletta mulai memerah ketika Gama semakin mendekatkan wajahnya.

Aletta memundurkan kepalanya, “mau ngapain?”

Gama tersenyum, “for the K word,”

“can i?”

184.

“Ini beneran gue pengen ketemu nyokap lo terus pengen sungkem, alias masakannya enak-enak terus anjir.” Haidan berujar sembari mengunyah makanannya yang penuh di dalam mulutnya.

“Ini kita kaga nyusahin kan, ya?” tanya Dion pada Melio.

Melio menggeleng, “emang sengaja bikin banyak.”

Nandra melihat Gama yang hanya diam dan memperhatikan mereka makan sembari berbincang. “Ga makan, Gam?” tanya Nandra pada Gama.

Gama tak menjawab pertanyaan Nandra.

“Masakan nyokap lo, atau …”

“masakan Aletta?” Gama melontarkan pertanyaan itu membuat Melio, Nandra, Haidan dan Dion langsung tertuju padanya.

“Maksud lo?”

“Ya masakan nyokap gue lah.”

Gama menyunggingkan dengan tipis sudut bibirnya, menunjukkan senyum tak sukanya.

“Itu tempat makan punya Aletta, dia juga abis masakin gue, gue juga hafal masakan Aletta. Lagian dia juga bilang kalo dia suka masakin lo,” ujar Gama.

Padahal, hari ini Aletta tidak memberikan makanan kepada Gama. Gama hanya mengarang agar Melio merasa terciduk.

Seketika teman-temannya itu menghentikan aktivitas makannya. Mereka menatap Gama dan Melio dengan heran.

Tanpa basa-basi lagi, Gama beranjak pergi meninggalkan keempat temannya itu.

180.

Setelah Aletta mengucapkan sebuah kata yang membuat Gama terkejut, kini mereka sudah berada di dalam studio.

Gama duduk berhadapan dengan Aletta, hanya terhalang sebuah meja diantara mereka, tetapi tidak menghalangi Gama untuk menggenggam dua tangan milik gadisnya.

“Aku cuma sedikit bantu mama aja.”

“Emang mama di kerjaannya lagi ada sedikit masalah, tapi ngga apa-apa kok.” Gama meyakinkan Aletta sembari mengembangkan senyumnya yang sangat teduh itu.

Aletta sedari tadi melihat ke arah telapak tangan kiri Gama yang masih dibalut oleh perban dan Gama pun sadar akan hal itu.

Gama mengangkat dan memutar-mutar pelan pergelangan tangannya, menunjukkan kepada Aletta bahwa tangannya itu baik-baik saja.

“Ngga apa-apa, kan? Luka dikit doang.”

Jujur saja, Gama sangat khawatir ketika Aletta berkata bahwa ia ingin menyerah. Tangannya tak kunjung melepaskan genggamannya pada tangan milik Aletta. Terus ditatapnya wajah gadis yang sedang menunduk itu.

“Mau pulang sekarang?” tanga Gama.

Aletta mengangguk dan mereka segera pergi meninggalkan studio itu, dengan Gama yang tak pernah melepaskan genggamannya pada tangan Aletta sampai ia menuju parkiran.

179.

Gama berlari kecil ketika sudah memarkirkan motornya di area kampus.

Ia langsung melihat Aletta yang sedang duduk di kursi yang ada di depan studio radio kampus ini.

“Dari tadi, ya?” tanya Gama.

Aletta menggeleng. Terlihat jelas bahwa raut wajah Aletta seperti sedang tidak memiliki suasa hati yang bagus(?)

Gama hendak membuka pintu studio, namun langkahnya terhenti ketika Aletta memanggilnya.

“Gama.”

“Kamu ngga kerja di cafenya Nandra lagi, ya?”

Laki-laki itu sangat terkejut bukan main ketika gadisnya mempertanyakan hal itu. Sejak kapan Aletta tahu? Padahal walaupun sebelumnya pernah hampir terciduk, tetapi Gama bisa membohongi Aletta bahwa ia hanya iseng membantu Nandra.

“Mau pindah di supermarket?”

Tak ada jawaban dari Gama, hanya ada sebuah tatapan terkejutnya.

“Susah banget ya, buat cerita sama aku?”

Gama mengalihkan pembicaraan, “masuk dulu, ya?”

Aletta menghembuskan napasnya berat sebelum ia melanjutkan ucapannya.

“Gama .…”

“Aku nyerah.”

176.

Gama terkejut ketika ia hendak membayar beberapa makanan yang belum ia bayar dari lima hari yang lalu, tetapi Bu Yayah, pemilik kantin itu berkata bahwa Gama tidak perlu membayarnya.

Entah atas dasar apa, tetapi Bu Yayah hanya tersenyum seraya berkata, “udah ngga usah, ngga apa-apa.”

Karena Gama yang merasa tidak enak hati, Gama memutuskan untuk membantu mencuci piring milik Bu Yayah yang ada di kantin itu.

Bu Yayah sudah berkali-kali berkata bahwa Gama tidak perlu mencuci piringnya, tetapi laki-laki itu tetap melanjutkan aktivitasnya.

Sebenarnya ini adalah ulah Aletta. Aletta yang membayar semua makanan yang belum Gama bayar di kantin ini, dengan berkata pada Bu Yayah untuk tidak memberitahunya bahwa ia yang sudah membayar semuanya.

Bu Yayah yang sedang mengelap piring lainnya juga sembari mengobrol dengan Gama. Bu Yayah berkata bahwa suara siaran radio Gama terdengar sampai kantin, sehingga Bu Yayah tidak pernah absen mendengarkan siaran anak laki-laki itu.

Gama sangat ramah, ia merespon dengan baik ujaran-ujaran wanita paruh baya yang sedang mengelap piring dan gelas.

“Nak Gama pacarnya neng Aletta, ya?” tanya Bu Yayah tiba-tiba.

Gama sejenak memberhentikan aktivitas tangannya yang sedang mencuci piring ketika mendengar pertanyaan itu.

Gama hanya tersenyum menjawabnya, tetapi Bu Yayah paham atas senyuman Gama yang menjadi jawaban dari pertanyaannya.

“Yang baik-baik ya sama dia,”

“soalnya baik anaknya” ujar Bu Yayah.

Lagi-lagi Gama tersenyum simpul. Memang Aletta baik, sangat baik. Bahkan detik ini pun Gama berani bersumpah, atas sangat beruntungnya dia bisa memiliki Aletta.

168.

Gama dan Aletta kini sudah berada di dalam sebuah bus metromini.

Mungkin sebagian orang terutama warga Jakarta sudah tidak asing lagi dengan bus yang bernama metromini ini. Sebuah bus yang menjadi angkutan umum yang ada di Jakarta.

Namun, karena bus itu penuh, Aletta dan Gama terpaksa harus berdiri dan hanya memegang handle grip yang ada di bus itu.

Gama yang sedari tadi menggenggam tangan Aletta dan menuntunnya untuk berdiri di hadapannya.

“Ih, aku mau naik metromini tuh pengen ngerasain duduk dikursinya, malah penuh.” Aletta mendesis membuat laki-laki yang tepat berdiri di belakangnya itu terkekeh.

“Pulangnya naik grab aja, ya? Nanti takut penuh lagi kalo naik ini lagi,” ujar Gama yang langsung dibalas gelengan oleh Aletta.

“Ga, mau naik ini lagi.”

Mereka kini kembali terdiam. Kembali pada pikirannya masing-masing.

Tetapi percayalah, pandangan Gama tidak pernah lepas dari Aletta yang sedang berdiri di hadapannya dengan posisi yang membelakanginya.

Laki-laki itu sedikit khawatir jika busnya tiba-tiba rem mendadak. Pasti Aletta akan terjatuh karena gadis itu terkadang melepaskan pegangannya pada handle grip.

Berkali-kali Aletta menghembuskan napasnya dengan berat dan Gama yang ada di belakangnya pun sadar akan hal itu.

“Kenapa?” bisik Gama.

Aletta menolehkan sedikit kepalanya, “kakinya kesemutan dikit.”

Pandangan Gama langsung tertuju pada laki-laki yang mungkin sekitar lima tahun lebih tua darinya sedang duduk manis di kursi sembari memainkan ponselnya.

Gama menepuk pundak laki-laki itu sebanyak dua kali, membuat laki-laki itu menoleh.

“Mas, maaf, tempat duduknya boleh buat istri saya? Istri saya lagi hamil.”

Aletta segera menoleh ke arah Gama karena sangat terkejut dengan ucapannya.

Laki-laki itu mengiyakan, “boleh-boleh, mas. Kebetulan saya juga turun bentar lagi.” Laki-laki itu segera berdiri dan mempersilahkan Aletta untuk duduk.

Aletta menatap Gama seakan berkata, “maksudnya? Istri? Siapa yang lagi hamil?”

Gama hanya tersenyum tipis melihat Aletta yang kebingungan dan menolehkan dagunya ke arah kursi yang sudah kosong itu sebagai isyarat agar Aletta segera duduk.

Aletta pasrah, ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada seorang laki-laki yang bersedia memberikan kursi untuknya.

Kini hanya tinggal Gama yang berdiri. Aletta menggelengkan kepalanya atas kelakuan laki-lakinya itu.

155.

Aletta berkali-kali mengirimkan pesan dan menelfon Gama, tetapi tak ada jawaban dari laki-laki itu membuat Aletta memutuskan untuk pergi.

Siapa yang tidak kesal? Dari dua hari yang lalu Gama menjanjikan sesuatu, tetapi laki-laki itu selalu menghilang tiba-tiba tanpa kejelasan.

Namun, alih-alih pulang ke rumahnya, gadis berbaju biru itu malah pergi menuju rooftop yang ada di kampus ini.

Sesampainya di rooftop, netra milik Aletta langsung menangkap laki-laki berkaus hitam yang sedang menopangkan tangannya pada pegangan besi dan mendongakkan kepalanya menatap langit yang hari ini terlihat cerah.

“Jay?”

Laki-laki itu menengok. Benar, itu adalah Jay.

Jay langsung membalikkan tubuhnya, menghadap Aletta. Secepat kilat tangannya ia sembunyikan ke belakang.

Aletta menghampiri Jay. “Lagi ngapain di sini?” tanyanya.

“Liat burung.”

“Burung?”

“Tuh banyak burung gereja lewat.”

Aletta hanya terkekeh mendengar jawaban dari anak laki-laki itu.

“Kaya anak kecil,” ujar Aletta.

Jay berbalik tanya, “lo ngapain ke sini?”

“Pengen aja.”

Aletta menatap ke bawah dan mendapati ada butiran-butiran abu rokok. Sehingga sontak ia bertanya, “lo ngerokok?”

Bisa dilihat bahwa raut wajah Jay berubah dan terlihat sedikit terkejut ketika Aletta melontarkan pertanyaannya.

Seperti tertangkap basah, laki-laki itu merasa seperti tidak bisa menutupinya lagi karena jelas-jelas Aletta pun melihat tangannya sedang menghimpit sebatang rokok yang sudah terlihat pendek.

“Jangan kasih tau Gama, ya?”

Aletta terdiam sebelum beberapa detik selanjutnya gadis itu mengangguk meng-iyakan.

Jay membuang puntung rokok itu dan menginjaknya dengan kakinya agar api kecilnya itu padam.

“Gama lagi sibuk terus, ya?” tanya Aletta.

“Ga juga.”

Aletta mendekat pada sebuah pegangan besi dan menopangkan tangannya di sana.

“Abang lo orangnya emang susah buat terbuka, ya?”

Jay menatap Aletta dan mulai tertarik pada topik yang mungkin akan menjadi obrolannya.

Jay malah berbalik tanya, “lagi berantem sama Gama?”

Aletta segera menggeleng, “gue sama dia ngga pernah berantem.”

“Ga asik dong hubungannya.”

Mendengar itu, Aletta sontak menatap Jay. “Emang,” ujarnya.

Tanpa sadar, Aletta mulai mengeluarkan kata demi kata, seolah ia sedang bercerita dan mengeluarkan kekesalannya kepada Jay.

“Ini gue yang aneh atau gimana, ya? Bukannya orang pacaran saling terbuka? Saling berbagi keluh kesah? Saling cerita satu sama lain?”

Jay mendengarkan Aletta sembari menatapnya dengan sangat lekat.

“Cuma sekedar cerita hari ini ada apa aja, hari ini apa yang bikin seneng, apa yang bikin ga seneng, terus saling ngedengerin satu sama lain. Bukannya yang namanya ngejalin hubungan tuh kaya gitu, ya?”

Aletta terus berceloteh tanpa menatap lawan bicaranya. Gadis itu bercerita sembari menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.

“Terus kalo ngga kaya gitu, pointnya di mana? Cuma sekedar status “pacaran” aja?”

“Terus tujuannya pacaran apa?”

“Tujuannya komitmen apa?”

“Aneh ga sih hubungan gue sama dia?” Aletta kembali menatap Jay yang ada di sampingnya.

Ternyata laki-laki itu sedang mendengarkannya sembari menopangkan tangan kirinya ke besi pegangan itu dan menaruh dagunya di telapak tangan kirinya. Seolah sedang memperhatikan dosen yang sedang memberikan materi.

Aletta menghembuskan napasnya, kemudian memejamkan matanya sejenak. “Lupain,” ujarnya singkat.

Aletta tersadar atas apa yang telah diucapkannya. Bodoh, kenapa ia tidak sadar dan seolah seperti mengalir begitu saja untuk menceritakan semuanya kepada Jay?

“Padahal dulu anaknya ngaduan,” ujar Jay yang membuat Aletta kembali melirik ke arahnya.

“Dulu nih ya, jatuh dikit langsung “mamaaaahhh”, dicakar kucing dikit langsung “mamaaahhh”. Padahal dia yang gangguin kucingnya. Narik-narik buntutnya, diunyel-unyel terus, ya marah lah kucingnya,” ucap Jay dengan ekspresinya yang mendalami.

Mendengar itu, Aletta terkekeh.

Jay spontan langsung menatap Aletta ketika mendengar tawa kecilnya, sehingga tanpa sadar terbentuk senyum yang sangat tipis di bibir milik laki-laki itu.

“Yang paling anjingnya, DIA MAKEIN CANGCUT GUE BUAT JADI BAJU KUCINGNYA!” Jay berkata dengan raut wajah yang sangat mendalami peran seolah sedang memojokkan Gama.

Tentunya gadis yang ada di hadapannya ini tertawa terbahak, mengetahui kelakuan Gama ketika masih kecil.

Perbincangan mereka kembali berlanjut sampai lupa pada point obrolan yang diceritakan oleh Aletta.

Tingkah dan perilaku Jay yang unik dan selalu bisa menyesuaikan situasi. Tentunya bisa membuat lawan bicaranya nyaman dan tidak canggung.

Canda dan tawa yang menemani mereka seolah mereka sudah kenal dekat. Padahal, baru kali ini mereka mengobrol cukup panjang.

124.

Setelah menerima pesan terakhirnya dari Aletta, Gama segera berlari menuju ruang studio untuk menghampiri Aletta.

Sesampainya di sana, terdapatlah Aletta yang masih berdiri tegak sembari memandang foto yang tertempel di lembar kedua notebook milik laki-lakinya itu.

Gama menghampiri Aletta dan gadis itu sadar bahwa sudah ada Gama di hadapannya.

Tangan milik Gama terulur, menandakan bahwa ia meminta Aletta untuk memberikan notebooknya padanya.

Namun, Aletta tak kunjung menyerahkannya, hanya terus menatap Gama dan berharap Gama menjawab pertanyaannya.

Karena Aletta yang hanya diam, tak memberikan reaksi apa-apa, Gama akhirnya membuka suara.

“Mantan aku.”

Deg.

Aletta diam seribu bahasa.

Gadis berambut panjang sebahu itu seperti mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak mengeluarkan kata-kata sedikitpun.

Otaknya terus memutar kembali ucapan-ucapan Melio yang sebelumnya pernah berkata bahwa Gama tidak pernah mempunyai pengalaman menjalin hubungan selain dengan dirinya.

Melio berbohong? Atau … memang karena dia tidak tahu bahwa sebenarnya Gama mempunyai mantan?

Mata milik Aletta menatap mata milik Gama dengan sangat lekat, seakan meminta Gama untuk menjelaskan sesuatu.

Melihat itu, Gama menahan tawanya, membuat perasaan Aletta semakin tidak karuan.

Sebentar, mantan? Berarti, Gama masih mempunyai rasa kepada mantannya?

Akhirnya Aletta membuka suara, “ah … oke.”

“Yuk pulang,” ajak Aletta dan hendak mendahului Gama untuk keluar dari ruangan ini.

“Al ….”

Mendengar namanya dipanggil, Aletta kembali menengokkan dirinya ke belakang.

Gama langsung menghampiri Aletta dan membawanya ke pelukannya.

Sesekali laki-laki itu mengusap pelan surai milik Aletta, membuat Aletta bingung harus senang atau tidak.

“Adik aku ….”

“Alena adik aku ….”

“Kembarannya Jay, tapi dia udah ngga ada.”

Lagi dan lagi, Aletta dibuat terkejut olehnya. Gama ini sedang mempermainkannya atau bagaimana? Senang sekali membuat hidupnya seperti roller coaster.

“Kalo kamu ngga percaya, aku tunjukkin foto dia sama mama, sama papa, sama Jay juga,” ujar Gama sembari melepaskan pelukannya dan hendak membuka ponselnya untuk menunjukkan bukti bahwa Alena adalah adiknya.

Namun, gerakan tangannya untuk membuka ponselnya itu terhenti ketika ia melihat Aletta menunduk dan matanya yang terlihat sangat berkaca-kaca. Mungkin hanya mengedipkan matanya sekali pun, air matanya akan terjatuh.

“Eh? Kamu kenapa nangis?” tanya Gama sembari langsung memegang kedua pundak Aletta.

Tak ada jawaban dari gadis itu, dan benar saja, air matanya pun mulai terjatuh.

“Aku ada salah ngomong?”

“Tadi aku bercanda, Al ….”

Gama kembali memeluk Aletta, kali ini dengan pelukan yang sangat erat.

“Al, maaf ya? Tadi aku bercandanya kebangetan, ya?”

Gama terlihat sangat khawatir dan merasa bersalah. Laki-laki itu paling benci ketika melihat mamanya harus menangis karena ulah papanya. Ia merasa takut bahwa ia akan seperti papanya yang selalu membuat wanitanya menangis.

Aletta melepaskan pelukan Gama, “Al? Maaf, ya? Aku cuma bercanda, maaf kalo bikin kamu—“

“Gapapa.” Aletta memotong ucapan Gama.

Aletta hanya tersenyum kaku dan tak ada percakapan lagi diantara mereka. Membuat Gama semakin merasa bersalah.

Lucu sekali hubungan ini.